wabbit was here!

wabbit was here!

my truly mission is to find the real story about my ancestors.. but somehow, i’m enjoying traveling in this country..  a bit shy that i’m not traveling too much in my own country.. it’s because of some “strick rules” that i’m living in.

I am now traveling in Kyushu for filming Kokoronotomo TV program. NO! i am not working for metro tv.. feel blessed to be in this production team. to see Japan deeper and get ore insight and have more reason to love this country. well, I am proud to be Indonesian who travels a lot in Japan, even more than the local people here..  :p hehehe!!!

I was not a traveler. I was just a down town girl with a big dream. i just want to see the world, in anyways..

kakisayah

Now, because i feel like i have more “power” to step up and feel my freedom,  i am wearing this anklet..

Talking about this anklet, i made it my self when i went traveling with Taiji to visit Ryoko and Kenji in Fukuoka 2 years ago.. and funny, i will be in Fukuoka by the end of this journey – almost exactly anniversary of my beloved anklet.. :p

Actually i promise my mother to dismiss this anklet after my wedding day.. but Hopefully my mom will have mercy for me , so i can  still wearing this anklet.. :p

ow, should i make a petition, so i won’t have to loose it?? hehehe~

Advertisements

ketika saya kembali 3

Ingatan saya tentang hidup saya 19 tahun lalu memaksa saya untuk merendevu semuanya. Saya selalu merasa semua detil yang saya punya adalah mimpi. Kadang saya berfikir bahwa saya terlalu banyak berimajinasi.

Sebulan lalu saya pergi ke Morioka, dan saya menapak tilas semuanya.

stasiun,

rumah sakit,

lorong jalan ke rumah ayah,

apartemen ayah,

toilet,

rumah pemilik apartemen ayah,

saya ingat semua.

Dan hal yang paling membuat saya terharu adalah, ketika semua yang saya pikir adalah imajinasi ternyata benar benar terjadi di masa lalu. Mereka membenarkan semua detil yang saya punya. Mereka ingat Ayah saya. Mereka ingat semua hal yang saya deskripsikan, dan membuat mereka percaya bahwa saya adalah anak perempuan yang sering berkeliaran di lingkungan mereka 19 tahun lalu.

Saya sangat bahagia mengulang semuanya. Dan cukup shock dikejutkan dengan cerita dari pemilik apartemen ayah, bahwa apartemen ayah sebenarnya sedang dalam tahap dirobohkan untuk dibangun bangunan yang lebih modern. Sebenarnya mereka sudah berniat dari sebulan sebelum saya datang, namun kontraktornya tidak bisa menyediakan jadwal. Perobohan dilaksanakan hari sebelum saya datang kesana, namun ada yang aneh, di lokasi itu pemilik apartemen memiliki  6 unit apartemen, 2 unit sudah bersih dibongkar, namun – bukannya membongkar apartemen ayah saya yang notabene ada di sebrangnya, si kontraktor malah merobohkan 2 apartemen yang ada di belakang apartemen ayah. Entah Allah berencana apa, hari perobohan itu berjalan molor, dan apartemen ayah tidak berhasil disentuh. Sang kontraktor berjanji untuk datang hari selanjutnya (hari ketika saya datang kesana) namin pada pagi hari, menurut pemiliknya, sang kontraktor menghubungi mereka untuk bilang bahwa hari itu mereka tidak bisa bekerja dan baru akan merobohkannya besok hari (hari setelah saya datang). ALLAHUAKBAR, teriak saya dalam hati.

Saya lalu segera menghubungi keluarga saya di Indonesia untuk membagi cerita bahagia ini. Ibu saya sentak menangis. Adik-adik saya, sat dan ken ikut mendapat euphorianya. Mereka ikut merinding saya rasa. Tapi satu hal yang saya rasakan. Saya bahagia. Sebahagia ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Jepang dan bertemu ayah.

Semua masih terasa sama, kecuali 1, saya tidak bisa lagi membagi perasaan ini pada Ayah. :’)
I miss you Dad..

*

Dedicated to dad and his 13 years memorial day

 

ketika saya kembali 2

Salju turun terus menerus. Kehidupan saya 19 tahun lalu jadi sangat berbeda. Saya yang bocah tropis harus tinggal di Jepang berbulan-bulan untuk menemani ayah saya menjalani operasi paru-paru karena kankernya. Saat itu saya sepertinya sudah mengerti, namun ayah dan ibu saya tidak mau menjelaskan apapun mengenai detil yang terjadi. Tapi saya yang berumur 8 tahun saat itu harus menyaksikan banyak air mata. Terkadang saya harus menyimpan perihnya karena tidak mau ibu saya tahu bahwa saya mengerti bahwa keadaan ayah saya sangat buruk – saat itu. Saya tidak punya teman, Sat masih 3 tahun, ibu saya tertutup, saya nggak sekolah juga selama itu. Kalau keluar rumah, udara sangat dingin dan gelap sekali ketika malam – bahaya untuk seorang anak 8 tahun yang tidak bisa berbahasa Jepang. Tidak ada internet, apalagi smartphone. Teman saya? Toilet dan apel (baca posting sebelumnya). Ketika saya sedih, saya masuk kedalam toilet hanya untuk duduk bermain dengan tissue dan apel, wangi toilet membuat saya nyaman dan tenang.

Pada malam hari, Ibu membuat ramuan tradisional, air panas + bawang putih + biji kacang hijau didalam termos kecil sambil berdoa untuk kesembuhan ayah. Paginya, sekitar pukul 8 pagi, kami dibangunkan untuk mandi dan bersiap untuk ke rumah sakit. Sebelumnya – ibu suka sekali menyiapkan soto ayam dari bumbu indofood. Saya ingat alat makan saya hello kitty berwarna pink, punya sat doraemon biru. Ayah yang belikan. Setelah sarapan, kami siap menerjang salju untuk menjenguk ayah.

Melewati lorong jalan kecil yang panjang, melewati pom bensin, bertemu jalan besar, menekan tombol untuk menyebrang, menuruni tangga, melewati belakang skolah, melihat anak-anak sekolah, belakang rumah sakit, parkiran rumah sakit, pintu kanan rumah sakit, lalu bertemu dengan konbini dan vending machine yang menjual kopi kesukaan ayah “georgia coffee”, toilet umum yang bau sekali, dan lalu lift. Ketika tiba di lantai 7, ayah selalu baru selesai mandi dan menunggu kami di kasur rumah sakitnya. Ruangan ayah kalau tidak salah ada 6 atau 8 orang. Ayah tinggal di dekat jendela di sisi kiri. Saya ingat benar, ayah suka menukar bento saya dengan makanan rumah sakitnya. kenapa? Karena saya suka makan ikan punya ayah. Ketika jam makan siang, ayah yang memilih makan di common room, selalu menyuruh saya mencari dan membawakan makanannya serta membantu suster2 mendorong trolly makanan ke arah para pasien yang duduk di common room.

Saya melakukan itu setiap hari. 7 hari seminggu. Terkadang malah saya pergi sendirian dari rumah karena ibu sakit. Saya selalu senang pergi ke rumah sakit. Teman saya bertambah 1, Ayah.

Saya yang tidak bersekolah, diajari ayah ini itu. Matematika, gambar, bahasa Jepang (untuk usia saya saat itu), dan yang terpenting – pelajaran bagaimana saya harus bisa “berteman” dengan “siapapun”. Saya ingat, di lantai ayah ada ruang karantina untuk penderita TBC. Untuk mereka yang menderita TBC ringan, mereka diperbolehkan keluar dari bangsal mereka dan berinteraksi dengan pasien lain dengan menggunakan masker dan sterilizer. Ibu saya sempat protes pada ayah, karena itu sangat berbahaya. Saya ingat teman baru saya itu, mungkin usianya sekitar 20-an, laki-laki dan lebih tinggi dari pada ayah. SAya juga berteman dengan seorang suster bernama Junko. Dia sangat cekatan dan lincah. Setiap hari dia yang membantu mengukur tensi ayah saya. Dan Suster Junko memberikan kepercayaan pada saya untuk mengukur suhu tubuh ayah dan menyiapkan obat untuk ayah.

Kalau ayah tidur, saya bermain di common room sambil menonton tv, atau tidur di sofa common room. Bahaya? tidak juga, suster-suster ikut menjaga saya. Dan para pasien lain tau bahwa saya anak – ayah saya. Sehingga terkadang mereka malah mengajak saya mengobrol. Kalau saya bosan, saya bisa main ke lobby lantai 1, atau menelpon ibu saya lewat telpon umum.

Saya belajar banyak dari kehupan saya 19 tahun lalu. Saya tidak menyesal karena saya tidak bersekolah, tidak punya teman. Saya bahagia bisa meluangkan waktu dengan ayah saya.  Terima kasih Ayah.

ketika saya kembali 1

Sekitar 19 tahun yang lalu, saya sempat tinggal di Jepang beberapa bulan. Saat itu ayah saya mesti menjalani operasi ke 2-nya karena kanker paru-paru. Ayah saya tinggal di sebuah kota bernama Morioka di Iwate perfektur, dan saat itu beliau mesti tinggal di rumah sakit selama berbulan-bulan karena penyakitnya. Saya tinggal di apartemennya bersama Ibu dan adik saya, Sat.

Saya masih ingat sangat jelas hari ketika pertama kali saya mendarat di Narita, saya dijemput oleh 2 paman saya yang juga tinggal di Jepang. Seperti dunia yang sangat berbeda. Bangunan kokoh yang terkesan dingin, dengan orang yang super banyak dan berjalan sangat cepat. Sangat berbeda sekali dengan rumah saya di Indonesia yang dikelilingi sawah dan banyak kerbau, ayam, kucing. Saya ingat saat itu harus naik bus ke Tokyo dan naik shinkansen untuk pertama kalinya. Bulan November. Dingin sekali, dan saat itu shinkansen sangat penuh, tidak adalagi tempat duduk. Saya yang masih sangat mengantuk harus duduk diatas koper menahan kantuk karena takut.
Tiba di Morioka, kami naik taxi berwarna hitam yang pintu penumpangnya bisa terbuka sendiri. Berlari dari dinginnya malam yang sudah sangat gelap, saya pun masuk ke taxi yang hangat dan segera tertidur. Tidak sampai 20 menit, kami tiba di depan gang apartemen ayah. Saljunya sangat tebal. mungkin sepinggang saya saat itu, saya menyentuhnya. Salju itu ………….. empuk! lalu berlari ke dalam apartemen.

Apartemen ayah seperti rumah 1 lantai. Masuk melalui sebuah pintu kecil,  bau khas pemanas menyambut. Ketika masuk – disebelah kiri ada sebuah pintu kayu, which is toilet  yang baunya enak sekali. Baunya seperti bau es, bau kayu, dan pembersih toilet. Harus masuk sebuh pintu lagi untuk sampai kedalam. yang pertama terlihat adalah sebuah ruang makan kecil dengan kotatsu yang diatas mejanya banyak sekali bumbu-bumbu seperti kecap – saos dan sebagainya, ada dapur dengan jendelanya dan sebuah pintu ke kamar mandi. Di sisi lain, sebuah pintu ala rumah nobita, dan ketika dibuka, whala~ kamar ayah. Ayah tidur dengan futon, seperti alas tidur nobita. Di dalam kamar ada TV 14 inch berwarna merah dengan antena, disebelahnya ada pemanas ruangan yang diisi dengan bensin – sehingga baunya sangat khas, dan sebuah telpon kuno berwarna putih yang nomornya harus diputar, seperti di rumah eyang jaman dulu. Di atas TV, ada foto keluarga dan 2 buah apel yang sudah kisut. Masing-masing apel ditempeli selotape yang diberi nama : Annisa dan Satya. Menurut om, ayah ingin bilang “selamat datang anak2”. I miss him immediately. Kami sudah berpisah selama setahun lebih sebelum ayah divonis kanker.
Saya ingat saat itu ibu mengeluarkan jaket untuk saya dan sat pakai. Kami akan ke rumah sakit malam itu juga.

Dengan Taxi yang sama, kami segera ke rumah sakit. Jaraknya sangat dekat. Saya ingat jalan menuju kesana. Saat itu sudah gelap dan salju juga turun, tapi saya bisa melihat balik bahwa kami melewati gang yang sepi berselimut salju, diujung jalan terdapat pom bensin dan lalu keluar jalan besar.

Sampai rumah sakit, saya naik ke lantai 7. Begitu lift terbuka, ibu langsung lari keluar bahkan melepas tangannya dari saya dan sat karena ibu segera menemukan sosok ayah di common room rumah sakit, di sebelah kiri lift. Ayah sedang menonton TV dengan pasien lainnya. Dengan kimono rumah sakit berwarna biru, gelang pasien dan tubuh yang mengurus, ayah memeluk ibu. Aku dan Sat sentak kaget, dan segera berlari ke pelukan mereka. Saya ingat adegan itu membangunkan emosi semua orang yang ada disitu untuk ikut menitihkan air mata.

Ketika akhirnya Ayah bisa memberi fokusnya padaku, saya membisikkan sebuah kalimat padanya “Aku sayang ayah”.

Hari yang sangat bersejarah untuk saya. Hari pertama saya menginjakkan kaki saya di Jepang, hari dimana ketika akhirnya saya bisa bertemu dan memeluk Ayah.

in love with 30 person in one time

Have you ever been fallin in love in 30 person in one time?

I have..

Being one of the Nippon Foundation Nikkei Scholarship – Student is a delightful and one of many reasons for me to be happy. Not only because of the opportunity to study in Japan, but also the opportunity to learn about leadership, humanity, social, culture and many more. But the more reason that i am really happy to be one of the scholar is I am being part of a big family that have a very tight bond – with love and care to each other.

NFSA private beach party

We came from many different countries, different languages but we have the same common, we’re all nikkei. Some of us had a very difficult childhood were people hate us because we’re mix blood, but we’re all survive – and now together and bring those bad memories as things that we learned and started our live as a better person.

Okinawa Castle tour

As a Scholar, one of the opportunity is getting to getter with other Nippon Foundation Nikkei Scholar to have many activities. One of it is Kenshu (training), where we can have workshop, lecture, and vacation together. We’re also being together and think how we can do a social activity – share our experience and knowledge to other. What a great opportunity, isn’t it? We have a media to do something for someone else. New Link, new friends, new opportunity. And this time, we went to Okinawa for our Kenshu. Was really fun!!

Check in for the Hotel

For your information, our Okinawa was not just an Okinawa. Was not just a Holiday. Many meetings, lecture and workshop were the main activity. Even though we went to some tourism spots, for me those were not even holiday – because we still did our meeting there. For me, i got my holiday feelings when i was talking with the other, sharing, eating and drinking, singing and laugh together – even we did it in the middle of the meeting. For me, the happiest feeling was when i woke up then i saw my sisters were also there, and i saw my brothers “morning face” in the restaurant while they were having breakfast. Glad feelings was when i felt so miserable then my sisters and brothers hugged me from your back and say “It’s okay, icha..”.

OKA - Naha International Airport, Okinawa

Hm..

This group always makes me feel okay.. this group always makes me feel to free.. they allow me to be my self.. i love them! I love my NFSA brothers and sisters.

Half of us will be graduated next march, and new member will replace them. Me too, I will be graduated soon. This makes me so mellow. If i am going back to Indonesia, i won’t know when will i meet them again. I might gone before i can say that i love them.. But this is life.. 🙂

oww…

I miss the old days when we always had dinner and celebrate anything that we can just to enjoy the time together with everyone 🙂

Hope we can do it again soon! Miss you all!

ps : Pictures taken from William’s canpan blog..

Growing Documentary about Tohoku Disaster

Do you know how I feel about Tohoku Disaster?

I feel like, i have an insight to that matter. I live in Japan, but I am not living in Tohoku Area. But since i felt the earthquake and volunteered from day 2, went there and still have connections with some victims, so – i have something pushing me to do something for them. The thing is, I dont have money to buy them things. I don’t have power to do the reconstruction. I don’t have knowledge to help the medication. I couldn’t even talk to local people in a good Japanese, but i really wanted to do something for them.

Few months ago, fortunately, i got a very good opportunity to do something for them. Do something that i can do with my ability. My professor approved my proposal to make a “growing documentary” for Tohoku. I created the name Growing Documentary as the film will be growth together with the growing of the reconstruction of Tohoku after the disaster. Alhamdulillah.

Now, I am still on my first step. And thanks to Allah, I got a lot of helps from many people to do this documentary. If you wanted to know, most of the people on the credit – i’ve never met them, not even talked to them online. They’re volunteering themselves to the project. They’re from many different backgrounds, countries, educations even ages. So cool! Thank you all!

It’s a very big step for me as my film was shown on CineGrid Showcase on Tokyo International Film Festival 2011 last month in Tokyo – Japan. After that, the CineGrid Community seems interested to the idea and offer us to work together. I am so happy for that. Alhamdulillah.

Now, Let me show you the documentary. I hope you like it! 🙂

As this documentary will keep growing, it will need many “seeds” + “waters” + “oxygens” + “fertilizers” and so on.. So, if you interested to join me with this project, feel free to contact me. You can be anywhere, any time zone, any island, any country from any background or any thing.. and let’s figure out what can you do on this project 🙂

I hope this project will bring out more energy to Tohoku reconstruction, a learning source for people in the future and also motivate people to helping and loving each other (anywhere).. 🙂

peace..

para pejuang petarung cancer

Cancer itu seperti bom waktu.. dan lebih parahnya, belum ada gegana yang benar benar bisa menonaktifkan timer-nya.

Saya sangat takjub pada kisah-kisah para”pejuang” yang terus bersemangat “melawan” sesuatu yang terlalu lincah ini. Melawan artinya bukan hanya mondar mandir masuk rumah sakit minta oprasi atau transplantasi, atau minta di “sinar”, melawan bagi saya berarti mau berjuang untuk hidup normal, tanpa minta dikasihani, dan berbuat maksimal untuk dirinya, keluarganya dan lingkungannya.

Hari ini seorang designer, innovator, inventor kelas dunia, Mr. Steve Jobs akhirnya harus takluk dengan kekuatan cel ganas ini. Bukan menakut-nakuti, karena toh setiap insan di dunia ini nantinya pasti akan kembali kepadaNya. Ketika hari ini saya bangun pagi (yang kesiangan) lalu mendengar berita itu dan sentak saya menangis, saya tidak merasa diri saya berlebihan. Saya benar benar merasa sedih karena saya kehilangan role model lagi, seseorang “pejuang” yang begitu inspiratif dan pastinya banyak orang yang juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Lahir dari keluarga yang memiliki bakat “cel itu” bukan hal yang mudah. Memang saat ini saya alhamdulillah dalam keadaan sehat, dan insyallah saya terus sehat. Tapi kita nggak pernah tau bagaimana takdir kita kedepannya. Saya berharap saya nggak akan pernah masuk dalam list daftar pejuang itu. Saya cukup perih walau hanya menjadi saksi kehidupan seorang pejuang – selama 6 tahun, yang akhirnya juga harus mengakui bahwa dirinya kalah dalam pertarungan itu.

Ketika awalnya seseorang ditakdirkan untuk menjadi pejuang, artinya dirinya harus siap maju ke pertempuran. Mereka harus siap untuk mengahadapi hal terburuk, dan pada saat inilah – mereka sangat butuh pasokan senjata dan perisai. Mereka membutuhkan dukungan, doa dan positivity dari lingkungannya. Ketika akhirnya mereka sudah bisa berdiri tegap, saat itu lah mereka siap bertarung. Kekuatan mental adalah hal yang paling penting untuk mereka miliki. Setidaknya itu yang saya saksikan dari Ayah saya. Saat dirinya sudah tau rasa sakitnya, yang ditakutkan bukan lagi sebagai mana dirinya akan “habis” di makan si sel jahat, tapi yang ditakutkan adalah bagaimana lingkungannya nanti setelah dia pergi. Itu yang memilukan. Saya tau saat itu beliau merasa sangat tertekan dengan keberadaan bom waktu di dalam tubuhnya, saya yakin begitu juga dengan para pejuang lainnya. Makanya saya sangat takjub dengan para pejuang yang melupakan rasa takutnya dan menggantinya dengan mengkontribusikan bagian dirinya yang lain untuk orang lainnya.

Semoga pertarungan Mr. Steve Jobs menjadi satu kisah yang bisa diambil positifnya. Untuk saya pribadi, sebagai orang yang hanya bisa mengenal dia dari produk dan videonya di youtube, saya sangat berimpresi dengan ke-humble-an dan something yang selalu out of the box. 🙂 Dan satu hal yang pentingnya luar biasa adalah,

ketika seseorang yang dalam keadaan “tidak sempurna” berusaha memberikan sesuatu yang melebihi kapasitasnya, kenapa kita yang masih bisa bernafas normal tidak bisa berkontribusi lebih lagi?

Kalau saat ini di SNS banyak yang memberi pendapat pro kontra mengenai pejuang yang satu ini, saya rasa itu wajar, karena no body is perfect dan nggak semua orang sempurna di mata orang lainnya. Semoga sih, setiap orang bisa melihat dari sisi positifnya dulu. Tapi gimanapun pejuang ini baru saja gugur. Selayaknya kita memberikan “respek” untuknya. 🙂

From deep inside my heart.. Mr.Steve Jobs,  thank you for your contributions. you’ll be missed! ♥

ps : I love you even more, Dad (RIP).. Thank you for being a good role model for me. i miss you.. ♥♥

 

 

6 Juli

6 Juli 2011,

Aku sedang berada di bumimu,

bumi yang digariskan untuk aku telusur untukmu,

membawaku ke angan indah,

dimana dulu kau pun pasti merasa apapun yang kini aku rasakan.

 

Teringatku saat-saat berharga kita,

kau yang terindah, yang berharga untukku,

walau sekejap saja aku bersamamu,

tapi menjadi bagian hidupmu adalah anugrah.

 

Cinta yang kau beri masih bisa aku rasakan,

betapa teduhnya senyum yang kau beri ketika aku berada dipelukmu,

kata-kata bijak yang selalu kau sampaikan, tutur kata seorang pribadi yang tulus,

semua membuat aku begitu merindumu.

 

6 Juli 1999

bersamamu,, orang orang yang kau cintai, orang orang yang juga mencintaimu,

berada di dekatmu, membawakan lantunan doa-doa indah untuk menjagamu dari pilu,

tangisku yang pecah seharian saat itu pun tak bisa mewakili apapun yang aku rasakan,

saat saat itu, saat yang bisa kuingat sebagai saat terakhir aku memandang wajahmu yang rupawan dengan senyum yang terus melekat di bibirmu.

 

Ayah,

12 tahun lalu, dihari ini, di waktu ini, kau yang terbaring di sebuah ruang rawat inap melawan rasa sakitmu.

ibundamu, istrimu, anak-anakmu, saudaramu, sahabatmu, semua bersamamu, memberikanmu semangat untuk bersabar.

kau buktikan pada kami betapa tangguh dirimu, ayah;

ketangguhan seorang manusia yang sangat ikhlas menerima takdirnya.

aku yakin, insyallah, Allah pun sangat sayang padamu, karenanya kau diberikan waktu kembali walau sejenak, untuk bisa bersama bunda yang juga sangat tegar untuk terus berada disampingmu.

 

aku tak bersamamu ketika kau menutup matamu, ayah,

tapi doaku selalu terpanjat untukmu.

aku merindumu!

 

Aku sayang ayah, semoga aku bisa bertemu lagi dengan ayah suatu hati nanti..

insyallah…

i love you!

love from Indonesia to Japan

I am so happy..

I really never realized it before..

My video “tsuru” been replied with a video from Japan “To Indonesia”. And tonight, i answer their video with “circle”..

Please check out the videos!

“Tsuru”

 

“To Indonesia”

 

“Circle”

kisah bengawan solo di ishinomaki

mata airmu dari solo,

terkurung gunung seribu..

air mengalir sampai jauh,

akhirnya ke laut..

Tanggal 3, 4, 5 Juni kemarin, kami, perwakilan pemuda ASEAN dikirim ke Sendai untuk mengadakan sebuah event bernama “ASEAN YOUTH CARAVAN” yang di sponsori oleh ASEAN dan Nippon Foundation dan bekerja sama dengan Gakuvo. Ini adalah bagian dari program ROAD Project milik Nippon Foundation dalam merehabilitasi Sendai dari kerusakan (baik fisik dan mental) yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami, 11 Maret lalu. Alhamdulillah saya bisa ikut ambil bagian didalamnya, bersama orang-orang hebat lainnya yang mau menyediakan waktunya untuk bervolunteer tanpa takut akan segala macam resiko yang mungkin akan dihadapi.

Dua hari ini saya terus-terus memutar rekaman suara latihan lagu bengawan solo, dan lagu-lagu lain yang dibawakan di Ishinomaki. Sayang sekali hanya ada sebagian. Mendengarkan vocal mas Fadly dan Derby.. Suara gitar Yoseph dan Dika, suara gitar bass mas Rindra.. Sedikit diselingi suara lagu tari Bali-nya kiki juga.

Tulisan kali ini agak panjang, jadi saya beri sekat-sekat, supaya mudah membacanya. Kumpulan kisah Bengawan Solo di Ishinomaki..

.

MALAM LATIHAN

Malam itu, 3 Juni 2011, Sekitar tengah malam, jadi bisa dibilang juga tanggal 4 kali ya. Setelah perjalanan panjang dari Tokyo ke Sendai, setelah terenyuh menyaksikan kota Natori, bagi saya malam itu sungguh merupakan malam refreshing. Mengembalikan semua mood agar kembali fit untuk misi besok. Malam itu penuh canda, malam yang aneh! heheu.. Kita semua ketawa-ketawa saling bercanda, sampai akhirnya sekitar pukul 1 pagi, terjadi gempa yang berpusat di Iwaki, Fukushima. 5,6 skala. Well, untuk saya dan Dika yang saat itu berada di lantai 19 bersama rombongan yang lain, hal itu sudah biasa. Lumayan lama dan mengagetkan. Teman-teman Indonesia yang lain sampai berlarian keluar kamar. Kasihan, sedih jadinya, tapi lucu juga.. :p hehe~

Saya kembali ke kamar sekitar pukul 2 pagi. Saya sekamar dengan Kiki dan Amy, dari Malaysia di lantai 8. Semua sudah lelap tidur. Saya memandangi kota, berharap ini itu untuk Ishinomaki. Saya tidak punya bayangan sama sekali soal misi besok. Saya sangat antusias untuk bertemu para penduduk setempat.

.

KOTA BERNAMA ISHINOMAKI

*saya masih sambil mendengarkan si rekaman, nostalgia*

Pagi hari, bangun pagi dan membantu Kiki untuk menggunakan kostum tari-nya. Nggak sarapan. Ternyata ada roti. Alhamdulillah, orang baik disayang Allah :p

Ngaret sampai tempat tujuan, but no problem, sepertinya, setidaknya yang terlihat.

Tim langsung dibagi menjadi 3. Mud diggers, Kitchen dan Performance. Saya ada di Performance. Inginnya ikut Mud Diggers, tapi waktunya nggak mungkin terkejar untuk perform.  Tapi akhirnya dapat kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk Ishinomaki, ketika saya ikut tim yang menyebar undangan ke event ASEAN di situ. Nggak banyak yang bisa diobrolin waktu menyebar undangan sih sebenarnya, tapi lumayan, melihat mereka antusias dengan acara ini membuat saya lega. Waktu menyebar undangan itu, saya sempat berjalan dengan Dika, mas Rindra, Yoseph, mbak Ken, mas Indra dan Derby. Kiki dan beberapa teman lain terpisah dalam tim yang satunya. Sebenarnya dalam perjalanan kita sempat tertawa-tawa sambil berlatih untuk bisa bicara dengan penduduk yang kita ketuk pintu rumahnya, tapi setiap kali kita menjumpai rumah yang tidak lagi berpenghuni, tawa kami berubah menjadi muram.

Sebuah rumah kami ketuk. Muncul seorang wanita kira-kira usianya lebih dari 60 tahun, saya rasa. Rumahnya terletak di pinggir sungai. Saya yakin waktu tsunami kemarin, ia juga terkena air bah-nya, namun kini rumahnya sudah terlihat bersih dan beliau juga sudah tinggal di rumah itu. Kami mengundangnya ke acara. Ia tersenyum dan dengan ceria berkata bahwa ia akan datang. Senang sekali rasanya, kami pun sambil tertawa-tawa bercanda dengan beliau. Waktu kami pamit dan bilang mau melanjutkan mengirim undangan ke rumah rumah sekitar situ, Ia berkata bahwa ia satu-satunya keluarga yang kembali ke blok itu. Kami kelu, tidak ingin melanjutkan pertanyaan. Tapi kami juga penasaran, kemana kira-kira pemilik rumah rumah itu. 😦

Berkeliling cukup lama, sampai sempat salah masuk ke area yang dilarang pula. Tapi sangat menarik, saya pribadi mendapat 2 impresi. sedih dan lega. Sedih karena ternyata banyak sekali rumah yang penghuninya tidak kembali kerumah, atau semoga saja belum, dan akan kembali suatu saat nanti. Lega karena para penduduk yang sudah kembali, sudah bisa melakukan kegiatan secara (relatif) normal di rumahnya masing-masing. Saya tidak tahu persis bagaimana, tapi yang jelas mereka mau mengusahakan untuk mengembalikan kehidupan mereka seperti sedia kala, walau dengan usaha sendiri.

Acara ASEAN CARAVAN sendiri sudah mulai dibuka dan mulai membagi-bagikan makanan pada pukul 11. Antrian dari para penduduk lumayan panjang. mereka antusias. Alhamdulillah. Karena yang menjadi panitia inti acara adalah thailand, maka mereka menyediakan thai food. Menurut panitia inti, mereka menyediakan makanan untuk sekitar 400 orang. Selain itu juga dibagikan berbagai sandang dan pangan untuk para penduduk Ishinomaki. Dari yang datang, dan mereka yang saya berhasil datangi rumahnya, saya mendapat kesimpulan, bahwa jumlah orang lanjut usia di daerah ini sangat sangat banyak. Ya Allah.. Terharu rasanya. Sedih sih.. Saya ingin ada disana membantu mereka lebih.. 😦 Saya mendapat impresi yang sama dari teman-teman volunteer yang lain. Berada disana, membantu merawat para oma opa ini pasti sangat berguna. Andai saya punya banyak waktu.

Pada acara siang, teman-teman menampilkan berbagai adat dari negara masing-masing. Dari Indonesia ditampilkan tari Legong oleh Kiki, dan beberapa lagu dari saya + Dika, Ring of fire dan Derby. Alhamdulillah para penduduk senang sekali dengan hiburan ini. Saya pribadi, walau suara saya nggak sehebat para “advance”, saya bangga membawakan 3 buah lagu yang menurut saya pas sekali pilihannya.

1. Bengawan solo, dan ternyata Mr. Surin SekJen ASEAN suka sekali dengan lagu ini, sampai direquest berulang-ulang, tapi maaf ya pak, tidak ada waktunya.

2. Sukiyaki-song, karena ternyata audiencenya mereka yang hidup pada waktu lagu ini tenar, maka mereka bisa ikut bernyanyi bersama, dan rupanya suka sekali.

3. Kokoro no Tomo, Pilihannya mas Fadly. Mohon maaf ya mas, suara saya nggak bisa seimbang dengan suara mas Fadly yang luar biasa keren.

.

BUNDAKU PERAWAT 

Disela acara, Seorang “bunda” muncul dengan harmonika-nya. Tiba-tiba ia membawakan sebuah lagu tadisional Jepang yang saya lupa judulnya. Dia bilang, dia mainkan sebagai ucapan terima kasih kepada para volunteer yang hadir dan membantu (dalam bentuk apapun). Ia terharu, dan permainannya ditujukan pada kami agar kami juga bisa terhibur – karena sudah datang jauh-jauh ke Ishinomaki. Sato san namanya. Bunda adalah seorang perawat. Saya meminta izin padanya untuk memanggilnya dengan panggilan “okaasan” (bunda) dan sambil memegang tangan saya, dia mengangguk setuju. Ia sangat suka ketika saya membawakan “sukiyaki song”. Dia berkata bahwa saya harus kembali suatu saat untuk menyanyi bersamanya.

Bunda sempat bercerita tentang bagaimana akhirnya ia bisa selamat, tentang ia yang sedang berada di jalan ketika gempa terjadi, dan kaget setengah mati ketika ternyata ada air bah yang mengejarnya. Ia berlari bersama beberapa orang, dan terselamatkan ketika ada sebuah bis yang mengambil mereka dan membawanya pergi ke bukit. Alhamdulillah. Ia lalu sempat tinggal di penampungan selama 2 minggu bersama penduduk yang lain. “Setiap hari makannya hanya pisang dan minum air botol yang harus di share. Hanya ada itu saja” katanya dengan senyumnya yang teduh. Saya teringat, kisah ketika masih volunteer di crisis center KBRI, diceritakan bahwa Ishinomaki memang lumpuh total selama sekitar 2 minggu. walau ada beras, sulit untuk masak, tidak ada listrik atau gas. Air bersih pun sulit karena rembesan sisa air bah. Alhamdulillah para survivors ini sudah kembali ke rumah masing-masing jadi sudah bisa hidup dengan lebih layak. Tapi bagi mereka yang kehilangan rumah, atau yang rumahnya masih rusak dan tidak layak, mereka masih tinggal di penampungan. Sedih juga. Sebenarnya pemerintah Jepang sudah dengan maksimal berusaha memenuhi kebutuhan mereka, tapi apa daya, ini bencana nasional yang mengakibatkan kerugian sangat besar. Pemulihan pastinya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Kembali kepada bunda,  Alhamdulillah saat ini beliau sudah bisa bekerja kembali dan Alhamdulillah dalam keadaan sehat.

Ketika saatnya pulang, bunda mengantar kami hingga bis kami berangkat. Momen yang sangat memilukan. Kami melambaikan tangan pada semua orang yang berada bersama bunda mengantar kami pulang. Rasanya tidak tega meninggalkan mereka di sana. Tapi bagaimana lagi, kami tidak punya power apapun atas itu, terutama karena bagi mereka itu adalah “rumah” mereka, rumah yang akan segera mereka bangun lagi. Saya sempat memeluk bunda mengucapkan perpisahan, bunda membisikkan pada saya supaya saya tidak lupa padanya. Ia memberikan alamat pada saya, dan berharap saya akan mengirimkan surat padanya suatu hari.

oh bunda~

.

KAMI ASEAN

Kembali dari Ishinomaki menuju Sendai, dengan perasaan campur aduk. Lelah, tidak puas, sedih, senang, apapun itu – rasanya sudah nggak bisa lagi didefinisikan. Bukan hanya saya, tapi semuanya. Didalam bis sebenarnya masih ada canda, tapi sebagian besar memilih untuk diam atau tidur karena benar benar kelelahan.  Bukan sok tahu, tapi setiap orang saya yakin masih menyimpan perasaan “tanggung”.

Ada yang ajaib di mata saya sebenarnya selama program ini. Kami, volunteer, datang dari 10 negara yang berbeda. Jumlah kami 2 bis besar, dengan wujud fisik kami yang mirip. Kami eksotis. Kami para penduduk ekuator di daerah yang berdekatan, tapi anehnya kami tidak bisa mengerti bahasa masing-masing. hehe.. Misalnya mereka yang berada di Latin Amerika, semua berbahasa Spanyol, walau beda jenis, namun masih bisa paham satu sama lain. Sedangkan kami, sama sekali berbeda. Ada yang 1 rumpun, misalnya Bahasa Indonesia, Melayu dan Brunei, tapi yakin ketika bicara, sama sekali berbeda makna. Ini sungguh-sungguh menarik bagi saya. Kami datang untuk sebuah misi untuk Tohoku. Kami bersama selama 3 hari, tapi tidak berinteraksi banyak karena banyak pula yang harus kami kerjakan dalam 3 hari itu. Sudah lewat 2 hari sekarang, dan entah bagaimana ceritanya tapi kami merindukan satu sama lain. Beberapa bisa dihubungi via email atau Facebook, jadi untuk saya pribadi, baru kali ini saya bicara banyak dengan beberapa diantara mereka. Seru sekali!

Terima kasih ya semuanya. Andai kalian bisa baca ini.

.

Tulisan ini saya dedikasikan juga untuk  semua Volunteer di seluruh dunia. Semua orang yang punya kemauan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Semua volunteer yang peduli soal masalah Sendai, Fukushima, dan semua permasalahan global yang semoga lekas bisa selesai.

Saya menerima beberapa private message, terima kasih.

Alhamdulillah saya bisa berkesempatan untuk bekerja sama dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang juga beruntung bisa ikut dalam program ini. Mereka yang punya kemauan untuk berada disini untuk membantu juga. Semua Allah yang mengatur. Semoga berkah bagi kita semua yang terlibat.