Growing Documentary about Tohoku Disaster

Do you know how I feel about Tohoku Disaster?

I feel like, i have an insight to that matter. I live in Japan, but I am not living in Tohoku Area. But since i felt the earthquake and volunteered from day 2, went there and still have connections with some victims, so – i have something pushing me to do something for them. The thing is, I dont have money to buy them things. I don’t have power to do the reconstruction. I don’t have knowledge to help the medication. I couldn’t even talk to local people in a good Japanese, but i really wanted to do something for them.

Few months ago, fortunately, i got a very good opportunity to do something for them. Do something that i can do with my ability. My professor approved my proposal to make a “growing documentary” for Tohoku. I created the name Growing Documentary as the film will be growth together with the growing of the reconstruction of Tohoku after the disaster. Alhamdulillah.

Now, I am still on my first step. And thanks to Allah, I got a lot of helps from many people to do this documentary. If you wanted to know, most of the people on the credit – i’ve never met them, not even talked to them online. They’re volunteering themselves to the project. They’re from many different backgrounds, countries, educations even ages. So cool! Thank you all!

It’s a very big step for me as my film was shown on CineGrid Showcase on Tokyo International Film Festival 2011 last month in Tokyo – Japan. After that, the CineGrid Community seems interested to the idea and offer us to work together. I am so happy for that. Alhamdulillah.

Now, Let me show you the documentary. I hope you like it! 🙂

As this documentary will keep growing, it will need many “seeds” + “waters” + “oxygens” + “fertilizers” and so on.. So, if you interested to join me with this project, feel free to contact me. You can be anywhere, any time zone, any island, any country from any background or any thing.. and let’s figure out what can you do on this project 🙂

I hope this project will bring out more energy to Tohoku reconstruction, a learning source for people in the future and also motivate people to helping and loving each other (anywhere).. 🙂

peace..

ruma maida :: tentang cinta, perjuangan dan sejarah

Lama banget saya nggak mampir ke lapaknya kang Denny. Biasanya sebulan sekali saya pasti mampir kesana buat nonton film-film Indonesia. Tapi karena belakangan film yang mangkal disana nggak jauh-jauh dari yang melayang dan ngesot-ngesot, ato engga tante tante girang, jadi males juga nontonnya,, hehe.  Malem ini tadi, sambil nunggu sahur, saya iseng lagi mampir, ya barangkali kang Denny punya sesuatu yang menarik. Dan betul aja, ada sebuah film yang menarik hati saya. Selain karena sinopsisnya, tapi juga karena yang main orang-orang yang saya kagumin, Wulan Guritno dan Atiqah Hasiholan. Saya tau mereka-mereka ini nggak main film sembarangan. Judulnya Ruma Maida. Sinopsisnya bisa dilihat di webnya kang Denny atau di web filmnya.

Film ini secara general bagus. Ceritanya juga menarik. Gabungin kisah reformasi 1998, Jaman belanda, Jaman Jepang, pasca Reformasi, masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial. Dialognya saya suka sekali. Apalagi waktu Sakera (Tokoh laki-laki utama) dan Maida debat soal masalah sosial. Ringan, tapi dapet! nggak ringan juga sih, berbobot tapi nggak keberatan. Sebenernya bertanya-tanya sih, ini kisah nyata apa fiksi ya? Apa segitunya ya? atau kombinasi? Jadi inget banget ambisi seorang sahabat saya, Odiq, yang pingin banget bikin Fiksi – History kisah cinta 1920 kampus Ganesha. Saya juga pernah mikir untuk bikin kisah fiksi history soal tentara Jepang yang memutuskan buat menetap di Indonesia. Tapi kayaknya dasar ilmu dan observasi data nya blm bisa nyampe taraf bikin cerita sejarah.. heheheu..

Balik ke ruma maida. Saya kagum sama sineas yang berani untuk ambil langkah bikin film begini. Ngangkat sejarah, ngangkat nilai sosial ada juga love storynya. Kritis dan harusnya sih bisa bikin penontonnya bisa memiliki kesadaran sosial. Tapi sesuka-sukanya saya dengan film ini, saya juga punya beberapa kritikan. Film bagus, bukan berarti luput dari kitisisasi ya kan? Mohon maaf untuk sineas dan pihak yang bersangkutan. Anggaplah saya orang yang awam, tapi ingin memberi pendapat sedikiiit aja. Semoga bisa jadi kritik membangun kedepannya.

Pertama soal Jalan cerita. Asik banget, ceritanya loncat kesana kemari. Alurnya maju mundur, kemunduran, kemajuan. Keren banget bisa mikir begini. Sayangnya adegan-adegan itu kurang detil. Make up dan properti misalnya. Wulan Guritno yang memerankan Berta, tahun 1943 dan 1920 make up dan kostumnya sama. Sama juga dengan pemeran bung karno, tampak sama persis. Kalau di filmnya nggak ada keterangan tahun, pasti yang nonton bingung. Masalahnya tokoh pembandingnya adalah Ishak pahing yang mungkin berumur 7 tahun pada tahun 1920 dan beranjak dewasa jadi mas mas ganteng sekitar 27 tahun pada tahun 194o-an. Ya masa iya orang disekitarnya nggak ikutan Aging?

Kedua soal dialog dan gestur. Di film ini banyak aktor bagus, tapi minim bicara, atau bicara dan gesture-nya kurang menegaskan karakter yang dimainkan. Sayang banget! Sebenernya saya sih udah puas dengan dialog Sakera – Maida, atau Bung karno, tapi sayang bgt karakter yang lainnya kurang dimainkan padahal ekspektasi saya tinggi waktu lihat nama Wulan Guritno main disitu. Terus lagi, Pak Kolonel Maruyama suka ber-gestur nggak jelas. Atau karena skrip nya ya? Jujur saya bingung dengan karakter dia. Jadi dia itu orangnya gimana ya? Jahat? Baik? Kayaknya dia punya karakter kayak Profesor Snape di Harry Potter. tapi kurang kena euy. Maaf ya.. Apalagi soal dialog pak Maruyama ini waktu mukulin Ishak Pahing.. hehehe~ kl yang ngerti bahasa Jepang, daripada iba – pasti malah jadi ketawa. Perannya Davina juga tanggung, dikiiit lagi, mungkin ditambah dialog yang kontras, agak sinis mungkin?? Dan lainnya yang juga tanggung. Istrinya Ishak Pahing juga bikin bingung penokohannya. Bung Hatta pun nggak seperti sedang berdebat dengan pak Karno, karena gestur tak sampai dialogpun tak ada.

Ketiga soal cerita. Ih, beneran deh, saya admire bgt ceritanya. Hanya saya ada yang kurang ngerti. (dengan nggak urut) Waktu Ishak Pahing di ambil tentara Jepang, pak Karno kan ada di tempat kejadian. Terus dia kemana? emang rumah itu nggak dijaga ajudan? Dan abis Ishak Pahik di ambil Jepang, terus siapa yang dobrak masuk rumah, perkosa dan membunuh keluarganya Ishak Pahing? Jepang kah? lebih keliatan kayak orang sipil, dan lagi kan tadinya ada pak Karno disitu?! kok?? Hm.. Kalau diperkosa pun, nggak seperti diperkosa. Dibunuh pun nggak seperti dibunuh.. (???)

Gw suka banget adegan Bunker. Dari pas Sakera – Maida cerita tentang kisah di tembok, sampai mereka nemu dokumen di dalem bunker. Propertinya oke! Adegan lainnya yang bikin bingung adalah, sebenernya lebih ke alur cerita, entah saya yang nggak teliti atau bingung beneran, tapi mana yang lebih dulu Ishak Pahing minta biola pas lihat WR. Supratman di Sumpah Pemuda, atau Ishak Pahing udah punya biola pas dikenalin pertama kali ke Bung Karno dan disuruh main bareng WR. Supratman? ini ambigu apa bloopers ya? atau saya ada yang kelewat? mohon kalau ada yang nonton saya diberi tau, siapa tau saya salah.

Empat soal sosial. hm.. It’s just a question..  Yang ini, mohon maaaaf sekali, sama sekali nggak ada maksud membawa SARA. semata-mata hanya pertanyaan dan sedikit kritikan demi kemajuan bersama. Soal pernikahan beda agama di Indonesia. Hm.. bisa begitu ya? Adegan kerusuhannya, wanita tionghoa-nya malah nggak kelihatan ya? yang diculik-culik itu agak nge-blend etnisnya. Tapi untungnya sih diperjelas dengan dialog di adegan selanjutnya. Kalau tidak, saya mungkin juga agak bingung.

In General, sekali lagi saya nyatakan salut untuk sineasnya. Saya bangga sekali. Propertinya juga oke, dengan Handphone-handphone ganjelan pintu, dengan adegan kerusuhan 1998-nya yang keren banget; Asap hitam, orang panik, anak nangis, motor dibakar. Seru banget! kebayang deh pas Shooting kayak apa. Dan yang keren, Talent-talentnya nggak kaku. Jadi penasaran berapa kali take ya? makin sedikit makin keren deh.. salut..! oh iya, mbah-mbah keroncong kemerdekaan juga sukses bikin saya jatuh cinta dengan lagu “dibawah sinar bulan purnama”. hehehe~

Kontras peran yang dimainkan tokoh utamanya keren banget! Terutama saya suka transformasi visual Maida dari seorang perempuan kikuk idealis yang sukses banget dimainkan Atiqah Hasiholan, jadi sarjana, lalu menikah.

Ini hanya mungkin, bukan berarti benar, bahkan mungkin smua yang saya bilang tadi hanya perasaan saya. Sekedar uneg uneg dari seorang pengagum film ini, sepertinya film ini kejar tayang, jadi detail detailnya agak kurang di perhatikan. Atau mungkin karena terlalu banyak aspek yang ingin ditampilkan ya?

Ya betul nggak ada yang sempurna di dunia ini, tapi ya semoga menjadi pelajaran bagi siapapun kedepannya, termasuk saya. Jujur, kalau bisa dan kalau ada yang berminat,  saya mau sekali ikut ambil bagian kalau ada penggarapan film seperti ini lagi. Pasti bangga sekali kalau saya bisa ikut partisipasi.

Bravo perfilman Indonesia, terutama bagi para sineas yang masih memiliki idealisme untuk membangun bangsa.

Salut!

love from Indonesia to Japan

I am so happy..

I really never realized it before..

My video “tsuru” been replied with a video from Japan “To Indonesia”. And tonight, i answer their video with “circle”..

Please check out the videos!

“Tsuru”

 

“To Indonesia”

 

“Circle”

icha yang ini mau nulis thesis!

Sebenarnya sedang total panik.

Sebenarnya lagi clueless banget.

Sebenarnya lagi kurang tidur luar biasa.

Sebenarnya sedang kelaparan.

Tapi tapi, entah ada angin apa, saya yang ini memberanikan diri untuk mengajukan tema thesis. Walau dengan segala ke-dungu-an,  akhirnya berani untuk menghubungi sensei untuk berdiskusi untuk thesis saya. jyaaaa~ takuuuttt!!!!

Belum diapprove, tapi so far, saya dah berhasil mengconvince dia untuk mendukung saya dengan tema ini.. 😛

 

Sensei sebenarnya agak kaget dengan apa yang presentasikan, karena agak lebih “goyah” dari presentasi “motivasi” pada saat awal masuk Lab. Sensei agak khawatir dengan bagaimana saya mencapai goal. Topik yang saya angkat terlalu sensitif, tapi kalau saya berhasil menjalankan projectnya – akan menjadi sangat menarik. Tegang! Saya sempat down waktu mata sensei seakan berkata “Icha, kenapa kamu selalu memilih topik sensitif” hehehe! Ya, dulu di presentasi motivasi, saya pernah mempresentasikan sesuatu yang juga membuat sensei bilang “kamu yakin dengan topik ini? karena ini sangat sensitif dan biasanya data yang kamu dapat harus dirahasiakan. Jadi perlu effort lebih untuk lalu bisa mempublishnya sebagai bahan thesis.” Tapi entah bagaimana saat ini saya MAU mengerjakan ini. Mengerjakan sesuatu yang sangat ingin saya lakukan. Insyallah. Ingat posting mengenai mimpi, ego dan realita? Saya memutuskan untuk menggabungkan semuanya! Saya tau dalam hidup kita harus memilih, dan saya memilih untuk mengkolaborasikan mimpi saya untuk bisa melebur dengan ego dan menjadikannya realita!

Semoga semua pihak membantu saya.

Ya, untuk merealisasikan ini saya akan butuh banyak orang. Saya akan butuh banyak pihak untuk mendukung saya.

Teman, Icha yang ini mau nulis thesis. Mohon bantuan dan dukungannya ya.. 🙂 Insyallah, hasil dari edukasi ini akan berguna untuk banyak pihak.

Smangat smangat!!!

new friend called tumblr

belakangan gw punya mainan baru, bukan melupakan dunia yg ini.. hanya karena di iphone ada aplikasinya, jadi lebih gampang kl pengen update2 gitu.. namanya tumblr. my another world..

layoutnya simple, seru aja dipake. emang sih, jadinya kayak kebanyakan mainan gitu.. blog, facebook, plurk, twitter.. well, sebenernya sedang mencoba coba aja – sekalian belajar media mana yang paling enak dipake. media mana yang secara design lebih mudah dimengerti, interface yang menarik, dll.. wajar dong? secara gw skolah di skolah media, mesti tau dan menilik si media media ini biar nggak ketinggalan tren media. but dun worry, temen cerita panjang lebar diantara media-media itu tetep this blog sepertinya.. 🙂

thank you buat temen-temen yang ikut baca blog ini, temen-temen yang ikut ngeramein blog ini, yang juga ikut sampe ngesearch blog ini di search engine, yang suka kasih ide via email, atau menkomen di postingannya.. thank you all!!!

pray for Japan

Executive Producer | Muhammad Lutfi, Fithra Faisal, Widyanto Dwi Nugroho
Producer | Annisa ‘chazky’ Hara
Director | Annisa ‘chazky’ Hara
Asistant director | Najwa
Story | PPI Jepang – sencho gorimacho production
Story boarder | Rianti Hidayat
Camera person | Mahardian Rahmadi, Widiyanto Dwi Nugroho, Reza Aryaditya
Editor | Annisa ‘chazky’ Hara
Art and talent advisory | Rianti Hidayat, Agyl Fajar Rizky
Logistic | Riskina Juwita, Hendika Rahmadi, Riski Anggri Wirawan
General affair | Fatahuddin
Data compiler | Ardhi Fachrudin Noor
Media | Farid Triawan, Angga Wirastomo
Talent | Muhammad Lutfi, Miya chan, Khaidar kun
——
Thanks to Allah SWT, our parents and this dedicated to all people in Japan..

dream.. catch it if you can!

Seorang anak perempuan, kira-kira usianya 8 tahun, tertegun di depan tv. Ia sedang bersama saudara-saudaranya menonton bagaimana seekor T-rex sedang mengejar sekelompok manusia yang terjebak di Jurassic Park. Anak itu tak berkedip, gerakannya melambat tak terusik. Tak ada satu adegan pun yang ingin ia lewatkan. Ia tau bahwa dinosaurus sudah lama punah, karena itulah dia takjub bagaimana sebuah film yang diputar dengan laser disk itu bisa begitu nyata menggambarkan hewan-hewan purba hidup seperti hewan lain di kebun binatang.

Konsentrasinya masih belum bisa terusik sampai ia menemukan sebuah nama ‘Steven Spielberg’. Saat itu, dia bahkan tak tau apa itu ‘Director’. Tapi nama itu sangat menancap di kepalanya. Di tulisnya di diary bahwa kelak ia akan menjadi seperti Steven Spielberg. Hingga beberapa tahun setiap kali ia harus mengisi buku biodata di buku temannya, dia akan menjawab bahwa cita-citanya adalah menjadi Steven Spielberg, dan tentu saja teman-temannya akan complain karena apalah arti nama Steven Spielberg. Tapi saat itu cita-cita hanya berarti cita-cita. Bagaimana bisa seorang perempuan dari desa, yang bertemu teknologi saja sulit bisa menjadi seorang Spielberg.

Tahun 2001, usinya sekitar 16 tahun. Ia berlibur ke Jakarta. Namun semua kegiatannya berhenti ketika ia melihat sebuah peperangan antara tentara Jerman dan Amerika. Sebuah film seri yang diputar seharian via HBO menarik hatinya. Sebuah peperangan yang di reka ulang namun terlihat begitu hidup. Warna yang luar biasa, gerak kamera yang membuat film itu begitu nyata. Ia jatuh cinta. Dan diakhir episode, nama itu keluar lagi ; ‘Steven Spielberg’, dan kali ini berkolaborasi dengan beberapa produser besar seperti Tom Hanks. Dari situ mimpinya terbangun lagi. ‘I want to be like him’..

Tahun demi tahun berlalu. Kesempatannya untuk mempelajari videografi semakin banyak. Mulai dari kuliahnya, hingga terbawa di pekerjaannya. Dunia yang ia senangi. Dunia dibalik lensa, sebuah dunia yang memang masih sangat jauh dari ‘Spielberg’ tapi membuatnya merasa dekat. Dunia yang memberinya kebanggaan dan kebahagiaan untuk ada didalamnya, namun juga tidak berarti semua orang mendukungnya hingga akhirnya perlahan dia lepas. Tidak 100% lepas, karena beberapa orang mengetahui kemampuannya dan terkadang membuatnya terjun masuk ke dunia itu lagi walau hanya untuk membantu.

Kali ini Ia sedang melanjutkan studinya. Setelah sekian lama ia mulai melupakan cita-citanya, ia kembali menemukan dunia itu. Kembali menemukan suatu komunitas yang memiliki visi sama, bukan menjadi Spielberg, tapi mereka-mereka yang juga mencintai dunia dibalik lensa. Namun ia kini bingung. Haruskah ia kembali mengejar cita-citanya, atau tetap berada di jalur realita belajar untuk menjadi misionaris sosial dan mengejar karir baik demi masa depan ideal.

 

Kemana kaki harus dilangkahkan? Usia yang kini tidak lagi muda membuatnya harus berfikir keras untuk ini. Ia bukan lagi anak kecil yang bisa dengan mudah memilih sebuah cita-cita.

but yeah! dream.. catch it if you can!

my film – screening

well, not actually mine, it’s me and my team’s. After 2 months working really hard for the film, no sleep, no holiday and too much convenience store’s foods – well, today was the screening.. so happy, so proud, thousand words in my head to express my feelings..

Thank you so much for my team and all the people who helped us during the shooting and editing.. oww, and hopefully we can show it on the faculty plenary meeting.. oooww! i can’t wait. my film will be screened with all good film made by great people here. hohoho~

well, i still can’t share the film yet. we have to keep it until the plenary, but i will share some pictures from behind the screen..