Growing Documentary about Tohoku Disaster

Do you know how I feel about Tohoku Disaster?

I feel like, i have an insight to that matter. I live in Japan, but I am not living in Tohoku Area. But since i felt the earthquake and volunteered from day 2, went there and still have connections with some victims, so – i have something pushing me to do something for them. The thing is, I dont have money to buy them things. I don’t have power to do the reconstruction. I don’t have knowledge to help the medication. I couldn’t even talk to local people in a good Japanese, but i really wanted to do something for them.

Few months ago, fortunately, i got a very good opportunity to do something for them. Do something that i can do with my ability. My professor approved my proposal to make a “growing documentary” for Tohoku. I created the name Growing Documentary as the film will be growth together with the growing of the reconstruction of Tohoku after the disaster. Alhamdulillah.

Now, I am still on my first step. And thanks to Allah, I got a lot of helps from many people to do this documentary. If you wanted to know, most of the people on the credit – i’ve never met them, not even talked to them online. They’re volunteering themselves to the project. They’re from many different backgrounds, countries, educations even ages. So cool! Thank you all!

It’s a very big step for me as my film was shown on CineGrid Showcase on Tokyo International Film Festival 2011 last month in Tokyo – Japan. After that, the CineGrid Community seems interested to the idea and offer us to work together. I am so happy for that. Alhamdulillah.

Now, Let me show you the documentary. I hope you like it! 🙂

As this documentary will keep growing, it will need many “seeds” + “waters” + “oxygens” + “fertilizers” and so on.. So, if you interested to join me with this project, feel free to contact me. You can be anywhere, any time zone, any island, any country from any background or any thing.. and let’s figure out what can you do on this project 🙂

I hope this project will bring out more energy to Tohoku reconstruction, a learning source for people in the future and also motivate people to helping and loving each other (anywhere).. 🙂

peace..

Advertisements

ruma maida :: tentang cinta, perjuangan dan sejarah

Lama banget saya nggak mampir ke lapaknya kang Denny. Biasanya sebulan sekali saya pasti mampir kesana buat nonton film-film Indonesia. Tapi karena belakangan film yang mangkal disana nggak jauh-jauh dari yang melayang dan ngesot-ngesot, ato engga tante tante girang, jadi males juga nontonnya,, hehe.  Malem ini tadi, sambil nunggu sahur, saya iseng lagi mampir, ya barangkali kang Denny punya sesuatu yang menarik. Dan betul aja, ada sebuah film yang menarik hati saya. Selain karena sinopsisnya, tapi juga karena yang main orang-orang yang saya kagumin, Wulan Guritno dan Atiqah Hasiholan. Saya tau mereka-mereka ini nggak main film sembarangan. Judulnya Ruma Maida. Sinopsisnya bisa dilihat di webnya kang Denny atau di web filmnya.

Film ini secara general bagus. Ceritanya juga menarik. Gabungin kisah reformasi 1998, Jaman belanda, Jaman Jepang, pasca Reformasi, masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial. Dialognya saya suka sekali. Apalagi waktu Sakera (Tokoh laki-laki utama) dan Maida debat soal masalah sosial. Ringan, tapi dapet! nggak ringan juga sih, berbobot tapi nggak keberatan. Sebenernya bertanya-tanya sih, ini kisah nyata apa fiksi ya? Apa segitunya ya? atau kombinasi? Jadi inget banget ambisi seorang sahabat saya, Odiq, yang pingin banget bikin Fiksi – History kisah cinta 1920 kampus Ganesha. Saya juga pernah mikir untuk bikin kisah fiksi history soal tentara Jepang yang memutuskan buat menetap di Indonesia. Tapi kayaknya dasar ilmu dan observasi data nya blm bisa nyampe taraf bikin cerita sejarah.. heheheu..

Balik ke ruma maida. Saya kagum sama sineas yang berani untuk ambil langkah bikin film begini. Ngangkat sejarah, ngangkat nilai sosial ada juga love storynya. Kritis dan harusnya sih bisa bikin penontonnya bisa memiliki kesadaran sosial. Tapi sesuka-sukanya saya dengan film ini, saya juga punya beberapa kritikan. Film bagus, bukan berarti luput dari kitisisasi ya kan? Mohon maaf untuk sineas dan pihak yang bersangkutan. Anggaplah saya orang yang awam, tapi ingin memberi pendapat sedikiiit aja. Semoga bisa jadi kritik membangun kedepannya.

Pertama soal Jalan cerita. Asik banget, ceritanya loncat kesana kemari. Alurnya maju mundur, kemunduran, kemajuan. Keren banget bisa mikir begini. Sayangnya adegan-adegan itu kurang detil. Make up dan properti misalnya. Wulan Guritno yang memerankan Berta, tahun 1943 dan 1920 make up dan kostumnya sama. Sama juga dengan pemeran bung karno, tampak sama persis. Kalau di filmnya nggak ada keterangan tahun, pasti yang nonton bingung. Masalahnya tokoh pembandingnya adalah Ishak pahing yang mungkin berumur 7 tahun pada tahun 1920 dan beranjak dewasa jadi mas mas ganteng sekitar 27 tahun pada tahun 194o-an. Ya masa iya orang disekitarnya nggak ikutan Aging?

Kedua soal dialog dan gestur. Di film ini banyak aktor bagus, tapi minim bicara, atau bicara dan gesture-nya kurang menegaskan karakter yang dimainkan. Sayang banget! Sebenernya saya sih udah puas dengan dialog Sakera – Maida, atau Bung karno, tapi sayang bgt karakter yang lainnya kurang dimainkan padahal ekspektasi saya tinggi waktu lihat nama Wulan Guritno main disitu. Terus lagi, Pak Kolonel Maruyama suka ber-gestur nggak jelas. Atau karena skrip nya ya? Jujur saya bingung dengan karakter dia. Jadi dia itu orangnya gimana ya? Jahat? Baik? Kayaknya dia punya karakter kayak Profesor Snape di Harry Potter. tapi kurang kena euy. Maaf ya.. Apalagi soal dialog pak Maruyama ini waktu mukulin Ishak Pahing.. hehehe~ kl yang ngerti bahasa Jepang, daripada iba – pasti malah jadi ketawa. Perannya Davina juga tanggung, dikiiit lagi, mungkin ditambah dialog yang kontras, agak sinis mungkin?? Dan lainnya yang juga tanggung. Istrinya Ishak Pahing juga bikin bingung penokohannya. Bung Hatta pun nggak seperti sedang berdebat dengan pak Karno, karena gestur tak sampai dialogpun tak ada.

Ketiga soal cerita. Ih, beneran deh, saya admire bgt ceritanya. Hanya saya ada yang kurang ngerti. (dengan nggak urut) Waktu Ishak Pahing di ambil tentara Jepang, pak Karno kan ada di tempat kejadian. Terus dia kemana? emang rumah itu nggak dijaga ajudan? Dan abis Ishak Pahik di ambil Jepang, terus siapa yang dobrak masuk rumah, perkosa dan membunuh keluarganya Ishak Pahing? Jepang kah? lebih keliatan kayak orang sipil, dan lagi kan tadinya ada pak Karno disitu?! kok?? Hm.. Kalau diperkosa pun, nggak seperti diperkosa. Dibunuh pun nggak seperti dibunuh.. (???)

Gw suka banget adegan Bunker. Dari pas Sakera – Maida cerita tentang kisah di tembok, sampai mereka nemu dokumen di dalem bunker. Propertinya oke! Adegan lainnya yang bikin bingung adalah, sebenernya lebih ke alur cerita, entah saya yang nggak teliti atau bingung beneran, tapi mana yang lebih dulu Ishak Pahing minta biola pas lihat WR. Supratman di Sumpah Pemuda, atau Ishak Pahing udah punya biola pas dikenalin pertama kali ke Bung Karno dan disuruh main bareng WR. Supratman? ini ambigu apa bloopers ya? atau saya ada yang kelewat? mohon kalau ada yang nonton saya diberi tau, siapa tau saya salah.

Empat soal sosial. hm.. It’s just a question..  Yang ini, mohon maaaaf sekali, sama sekali nggak ada maksud membawa SARA. semata-mata hanya pertanyaan dan sedikit kritikan demi kemajuan bersama. Soal pernikahan beda agama di Indonesia. Hm.. bisa begitu ya? Adegan kerusuhannya, wanita tionghoa-nya malah nggak kelihatan ya? yang diculik-culik itu agak nge-blend etnisnya. Tapi untungnya sih diperjelas dengan dialog di adegan selanjutnya. Kalau tidak, saya mungkin juga agak bingung.

In General, sekali lagi saya nyatakan salut untuk sineasnya. Saya bangga sekali. Propertinya juga oke, dengan Handphone-handphone ganjelan pintu, dengan adegan kerusuhan 1998-nya yang keren banget; Asap hitam, orang panik, anak nangis, motor dibakar. Seru banget! kebayang deh pas Shooting kayak apa. Dan yang keren, Talent-talentnya nggak kaku. Jadi penasaran berapa kali take ya? makin sedikit makin keren deh.. salut..! oh iya, mbah-mbah keroncong kemerdekaan juga sukses bikin saya jatuh cinta dengan lagu “dibawah sinar bulan purnama”. hehehe~

Kontras peran yang dimainkan tokoh utamanya keren banget! Terutama saya suka transformasi visual Maida dari seorang perempuan kikuk idealis yang sukses banget dimainkan Atiqah Hasiholan, jadi sarjana, lalu menikah.

Ini hanya mungkin, bukan berarti benar, bahkan mungkin smua yang saya bilang tadi hanya perasaan saya. Sekedar uneg uneg dari seorang pengagum film ini, sepertinya film ini kejar tayang, jadi detail detailnya agak kurang di perhatikan. Atau mungkin karena terlalu banyak aspek yang ingin ditampilkan ya?

Ya betul nggak ada yang sempurna di dunia ini, tapi ya semoga menjadi pelajaran bagi siapapun kedepannya, termasuk saya. Jujur, kalau bisa dan kalau ada yang berminat,  saya mau sekali ikut ambil bagian kalau ada penggarapan film seperti ini lagi. Pasti bangga sekali kalau saya bisa ikut partisipasi.

Bravo perfilman Indonesia, terutama bagi para sineas yang masih memiliki idealisme untuk membangun bangsa.

Salut!

kisah bengawan solo di ishinomaki

mata airmu dari solo,

terkurung gunung seribu..

air mengalir sampai jauh,

akhirnya ke laut..

Tanggal 3, 4, 5 Juni kemarin, kami, perwakilan pemuda ASEAN dikirim ke Sendai untuk mengadakan sebuah event bernama “ASEAN YOUTH CARAVAN” yang di sponsori oleh ASEAN dan Nippon Foundation dan bekerja sama dengan Gakuvo. Ini adalah bagian dari program ROAD Project milik Nippon Foundation dalam merehabilitasi Sendai dari kerusakan (baik fisik dan mental) yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami, 11 Maret lalu. Alhamdulillah saya bisa ikut ambil bagian didalamnya, bersama orang-orang hebat lainnya yang mau menyediakan waktunya untuk bervolunteer tanpa takut akan segala macam resiko yang mungkin akan dihadapi.

Dua hari ini saya terus-terus memutar rekaman suara latihan lagu bengawan solo, dan lagu-lagu lain yang dibawakan di Ishinomaki. Sayang sekali hanya ada sebagian. Mendengarkan vocal mas Fadly dan Derby.. Suara gitar Yoseph dan Dika, suara gitar bass mas Rindra.. Sedikit diselingi suara lagu tari Bali-nya kiki juga.

Tulisan kali ini agak panjang, jadi saya beri sekat-sekat, supaya mudah membacanya. Kumpulan kisah Bengawan Solo di Ishinomaki..

.

MALAM LATIHAN

Malam itu, 3 Juni 2011, Sekitar tengah malam, jadi bisa dibilang juga tanggal 4 kali ya. Setelah perjalanan panjang dari Tokyo ke Sendai, setelah terenyuh menyaksikan kota Natori, bagi saya malam itu sungguh merupakan malam refreshing. Mengembalikan semua mood agar kembali fit untuk misi besok. Malam itu penuh canda, malam yang aneh! heheu.. Kita semua ketawa-ketawa saling bercanda, sampai akhirnya sekitar pukul 1 pagi, terjadi gempa yang berpusat di Iwaki, Fukushima. 5,6 skala. Well, untuk saya dan Dika yang saat itu berada di lantai 19 bersama rombongan yang lain, hal itu sudah biasa. Lumayan lama dan mengagetkan. Teman-teman Indonesia yang lain sampai berlarian keluar kamar. Kasihan, sedih jadinya, tapi lucu juga.. :p hehe~

Saya kembali ke kamar sekitar pukul 2 pagi. Saya sekamar dengan Kiki dan Amy, dari Malaysia di lantai 8. Semua sudah lelap tidur. Saya memandangi kota, berharap ini itu untuk Ishinomaki. Saya tidak punya bayangan sama sekali soal misi besok. Saya sangat antusias untuk bertemu para penduduk setempat.

.

KOTA BERNAMA ISHINOMAKI

*saya masih sambil mendengarkan si rekaman, nostalgia*

Pagi hari, bangun pagi dan membantu Kiki untuk menggunakan kostum tari-nya. Nggak sarapan. Ternyata ada roti. Alhamdulillah, orang baik disayang Allah :p

Ngaret sampai tempat tujuan, but no problem, sepertinya, setidaknya yang terlihat.

Tim langsung dibagi menjadi 3. Mud diggers, Kitchen dan Performance. Saya ada di Performance. Inginnya ikut Mud Diggers, tapi waktunya nggak mungkin terkejar untuk perform.  Tapi akhirnya dapat kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk Ishinomaki, ketika saya ikut tim yang menyebar undangan ke event ASEAN di situ. Nggak banyak yang bisa diobrolin waktu menyebar undangan sih sebenarnya, tapi lumayan, melihat mereka antusias dengan acara ini membuat saya lega. Waktu menyebar undangan itu, saya sempat berjalan dengan Dika, mas Rindra, Yoseph, mbak Ken, mas Indra dan Derby. Kiki dan beberapa teman lain terpisah dalam tim yang satunya. Sebenarnya dalam perjalanan kita sempat tertawa-tawa sambil berlatih untuk bisa bicara dengan penduduk yang kita ketuk pintu rumahnya, tapi setiap kali kita menjumpai rumah yang tidak lagi berpenghuni, tawa kami berubah menjadi muram.

Sebuah rumah kami ketuk. Muncul seorang wanita kira-kira usianya lebih dari 60 tahun, saya rasa. Rumahnya terletak di pinggir sungai. Saya yakin waktu tsunami kemarin, ia juga terkena air bah-nya, namun kini rumahnya sudah terlihat bersih dan beliau juga sudah tinggal di rumah itu. Kami mengundangnya ke acara. Ia tersenyum dan dengan ceria berkata bahwa ia akan datang. Senang sekali rasanya, kami pun sambil tertawa-tawa bercanda dengan beliau. Waktu kami pamit dan bilang mau melanjutkan mengirim undangan ke rumah rumah sekitar situ, Ia berkata bahwa ia satu-satunya keluarga yang kembali ke blok itu. Kami kelu, tidak ingin melanjutkan pertanyaan. Tapi kami juga penasaran, kemana kira-kira pemilik rumah rumah itu. 😦

Berkeliling cukup lama, sampai sempat salah masuk ke area yang dilarang pula. Tapi sangat menarik, saya pribadi mendapat 2 impresi. sedih dan lega. Sedih karena ternyata banyak sekali rumah yang penghuninya tidak kembali kerumah, atau semoga saja belum, dan akan kembali suatu saat nanti. Lega karena para penduduk yang sudah kembali, sudah bisa melakukan kegiatan secara (relatif) normal di rumahnya masing-masing. Saya tidak tahu persis bagaimana, tapi yang jelas mereka mau mengusahakan untuk mengembalikan kehidupan mereka seperti sedia kala, walau dengan usaha sendiri.

Acara ASEAN CARAVAN sendiri sudah mulai dibuka dan mulai membagi-bagikan makanan pada pukul 11. Antrian dari para penduduk lumayan panjang. mereka antusias. Alhamdulillah. Karena yang menjadi panitia inti acara adalah thailand, maka mereka menyediakan thai food. Menurut panitia inti, mereka menyediakan makanan untuk sekitar 400 orang. Selain itu juga dibagikan berbagai sandang dan pangan untuk para penduduk Ishinomaki. Dari yang datang, dan mereka yang saya berhasil datangi rumahnya, saya mendapat kesimpulan, bahwa jumlah orang lanjut usia di daerah ini sangat sangat banyak. Ya Allah.. Terharu rasanya. Sedih sih.. Saya ingin ada disana membantu mereka lebih.. 😦 Saya mendapat impresi yang sama dari teman-teman volunteer yang lain. Berada disana, membantu merawat para oma opa ini pasti sangat berguna. Andai saya punya banyak waktu.

Pada acara siang, teman-teman menampilkan berbagai adat dari negara masing-masing. Dari Indonesia ditampilkan tari Legong oleh Kiki, dan beberapa lagu dari saya + Dika, Ring of fire dan Derby. Alhamdulillah para penduduk senang sekali dengan hiburan ini. Saya pribadi, walau suara saya nggak sehebat para “advance”, saya bangga membawakan 3 buah lagu yang menurut saya pas sekali pilihannya.

1. Bengawan solo, dan ternyata Mr. Surin SekJen ASEAN suka sekali dengan lagu ini, sampai direquest berulang-ulang, tapi maaf ya pak, tidak ada waktunya.

2. Sukiyaki-song, karena ternyata audiencenya mereka yang hidup pada waktu lagu ini tenar, maka mereka bisa ikut bernyanyi bersama, dan rupanya suka sekali.

3. Kokoro no Tomo, Pilihannya mas Fadly. Mohon maaf ya mas, suara saya nggak bisa seimbang dengan suara mas Fadly yang luar biasa keren.

.

BUNDAKU PERAWAT 

Disela acara, Seorang “bunda” muncul dengan harmonika-nya. Tiba-tiba ia membawakan sebuah lagu tadisional Jepang yang saya lupa judulnya. Dia bilang, dia mainkan sebagai ucapan terima kasih kepada para volunteer yang hadir dan membantu (dalam bentuk apapun). Ia terharu, dan permainannya ditujukan pada kami agar kami juga bisa terhibur – karena sudah datang jauh-jauh ke Ishinomaki. Sato san namanya. Bunda adalah seorang perawat. Saya meminta izin padanya untuk memanggilnya dengan panggilan “okaasan” (bunda) dan sambil memegang tangan saya, dia mengangguk setuju. Ia sangat suka ketika saya membawakan “sukiyaki song”. Dia berkata bahwa saya harus kembali suatu saat untuk menyanyi bersamanya.

Bunda sempat bercerita tentang bagaimana akhirnya ia bisa selamat, tentang ia yang sedang berada di jalan ketika gempa terjadi, dan kaget setengah mati ketika ternyata ada air bah yang mengejarnya. Ia berlari bersama beberapa orang, dan terselamatkan ketika ada sebuah bis yang mengambil mereka dan membawanya pergi ke bukit. Alhamdulillah. Ia lalu sempat tinggal di penampungan selama 2 minggu bersama penduduk yang lain. “Setiap hari makannya hanya pisang dan minum air botol yang harus di share. Hanya ada itu saja” katanya dengan senyumnya yang teduh. Saya teringat, kisah ketika masih volunteer di crisis center KBRI, diceritakan bahwa Ishinomaki memang lumpuh total selama sekitar 2 minggu. walau ada beras, sulit untuk masak, tidak ada listrik atau gas. Air bersih pun sulit karena rembesan sisa air bah. Alhamdulillah para survivors ini sudah kembali ke rumah masing-masing jadi sudah bisa hidup dengan lebih layak. Tapi bagi mereka yang kehilangan rumah, atau yang rumahnya masih rusak dan tidak layak, mereka masih tinggal di penampungan. Sedih juga. Sebenarnya pemerintah Jepang sudah dengan maksimal berusaha memenuhi kebutuhan mereka, tapi apa daya, ini bencana nasional yang mengakibatkan kerugian sangat besar. Pemulihan pastinya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Kembali kepada bunda,  Alhamdulillah saat ini beliau sudah bisa bekerja kembali dan Alhamdulillah dalam keadaan sehat.

Ketika saatnya pulang, bunda mengantar kami hingga bis kami berangkat. Momen yang sangat memilukan. Kami melambaikan tangan pada semua orang yang berada bersama bunda mengantar kami pulang. Rasanya tidak tega meninggalkan mereka di sana. Tapi bagaimana lagi, kami tidak punya power apapun atas itu, terutama karena bagi mereka itu adalah “rumah” mereka, rumah yang akan segera mereka bangun lagi. Saya sempat memeluk bunda mengucapkan perpisahan, bunda membisikkan pada saya supaya saya tidak lupa padanya. Ia memberikan alamat pada saya, dan berharap saya akan mengirimkan surat padanya suatu hari.

oh bunda~

.

KAMI ASEAN

Kembali dari Ishinomaki menuju Sendai, dengan perasaan campur aduk. Lelah, tidak puas, sedih, senang, apapun itu – rasanya sudah nggak bisa lagi didefinisikan. Bukan hanya saya, tapi semuanya. Didalam bis sebenarnya masih ada canda, tapi sebagian besar memilih untuk diam atau tidur karena benar benar kelelahan.  Bukan sok tahu, tapi setiap orang saya yakin masih menyimpan perasaan “tanggung”.

Ada yang ajaib di mata saya sebenarnya selama program ini. Kami, volunteer, datang dari 10 negara yang berbeda. Jumlah kami 2 bis besar, dengan wujud fisik kami yang mirip. Kami eksotis. Kami para penduduk ekuator di daerah yang berdekatan, tapi anehnya kami tidak bisa mengerti bahasa masing-masing. hehe.. Misalnya mereka yang berada di Latin Amerika, semua berbahasa Spanyol, walau beda jenis, namun masih bisa paham satu sama lain. Sedangkan kami, sama sekali berbeda. Ada yang 1 rumpun, misalnya Bahasa Indonesia, Melayu dan Brunei, tapi yakin ketika bicara, sama sekali berbeda makna. Ini sungguh-sungguh menarik bagi saya. Kami datang untuk sebuah misi untuk Tohoku. Kami bersama selama 3 hari, tapi tidak berinteraksi banyak karena banyak pula yang harus kami kerjakan dalam 3 hari itu. Sudah lewat 2 hari sekarang, dan entah bagaimana ceritanya tapi kami merindukan satu sama lain. Beberapa bisa dihubungi via email atau Facebook, jadi untuk saya pribadi, baru kali ini saya bicara banyak dengan beberapa diantara mereka. Seru sekali!

Terima kasih ya semuanya. Andai kalian bisa baca ini.

.

Tulisan ini saya dedikasikan juga untuk  semua Volunteer di seluruh dunia. Semua orang yang punya kemauan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Semua volunteer yang peduli soal masalah Sendai, Fukushima, dan semua permasalahan global yang semoga lekas bisa selesai.

Saya menerima beberapa private message, terima kasih.

Alhamdulillah saya bisa berkesempatan untuk bekerja sama dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang juga beruntung bisa ikut dalam program ini. Mereka yang punya kemauan untuk berada disini untuk membantu juga. Semua Allah yang mengatur. Semoga berkah bagi kita semua yang terlibat.

songs for ishinomaki

Dalam rangka Asean Youth Caravan kemarin ini, saya diberi kesempatan untuk ikut ambil bagian. Niat awalnya, asal bisa ikut bantu – alhamdulillah banget. Sebulan sebelumnya saya di kontak mas Yudho dari KBRI, kebetulan juga sedang ikut bantu membereskan perpustakaan KBRI, jadi informasinya cepat saya terima. Diputuskan : saya, Kiki dan Dika yang akan berangkat, dengan pertimbangan kami bisa menjadi representasi mahasiswa Indonesia di Jepang. Kiki dengan tari legong, saya dan dika akan berduet menyanyikan lagu bengawan solo dan sukiyaki. Sedikit mengaransemen lagu, tapi tidak pernah latihan sama sekali karena kami luar biasa sibuk. Tidak disangka, saya juga kena flu parah, sampai harus bedrest karena semua tulang rasanya sangat sakit. Belum selesai dengan flu – hidung pun ikut sok eksis dengan kasih saya hadiah cucuran darah, dokter bilang saya kena “burned out” mungkin dalam bahasa Indonesianya panas dalam, karena terlalu capek. 3 Hari sebelum berangkat, kami akhirnya bisa melakukan latihan, satu-satunya latihan yang kami lakukan. Walau dengan agak ketidakyakinan, karena suara saya belum kembali 100%, si nafas juga masih terengah2 akhirnya menyanyilah saya dengan Dika.

Sedikit membaca itinerary, kaget! kok yang dateng orang “penting”.. acaranya kayak apa ini???

H1.. 

Nggak tidur betulan, selesai lab jam brapaa~ trs pulang langsung packing, tidurnya kayak ayam. Takut g bangun. Pagi-pagi dibangunin otto dan bunda. Thanks God ada mereka. Setidaknya charge sebelum berjuang. Sebenernya secara mental saya agak takut. Sendai, gempanya masih ada terus. Dalam hati saya cuma berharap, semoga tidak ada orang yang mengaktifkan aplikasi “yurekuru” (detektor gempa) – supaya saya tidak perlu tertekan mental.

Akhirnya tiba di gedung Nippon Foundation terlalu pagi. Jam 7 pun ternyata bukan jam berangkat, tapi jam berkumpul. Berkenalan dengan banyak orang – para representer negara-negara ASEAN lainnya, termasuk didalamnya mas Fadly, mas Rindra, Yosep “Ring of Fire”, Derby, dan mas Indra dari Sony music. Alhamdulilah bisa baur juga kita. Mungkin karena darah Indonesia kami mengalir begitu deras, Jendral!

Perjalanan sekitar 6 jam, Sempat berhenti untuk makan siang di Fukushima. Dijemur panas-panas di bangku taman, makan bento sambil menghirup radiasi – mungkin. I don’t care anyway. hehe~

Tujuan pertama adalah Natori. Merinding saya. Natori rata. Tidak ada lagi kehidupan disitu. Sedih rasanya. Sejenak membandingkan dengan kota tempat saya tinggal, ya Allah, tidak terbayang bagaimana air bisa membuat semuanya menjadi seperti itu. Walau saya pernah melihat videonya via youtube, tetap saja beda rasanya ketika melihat langsung ke lokasi.

Teman-teman survivor dari Phuket dan Aceh juga ada di dalam rombongan, dan mereka sempat menangis, mungkin teringat dengan betapa tsunami pernah merenggut kehidupan mereka dulu.

Allahuakbar, ketika saya kemudian memutar videonya lagi. Allahuakbar, sungguh Allah maha besar. Jujur, secara mental saya jatuh sekali. Malamnya, saya mencoba menenangkan diri, saya mencoba untuk lupa sejenak rasa sedihnya dengan berlatih bersama mas fadly, mas rindra, yosep, dika, derby dan kiki. Mas fadly mengajak saya untuk berkolaborasi besok.

H2..

Ishinomaki, namanya begitu familiar. Sebulan di KBRI sebagai call center, saya seperti meihat peta 4D. Saya terbiasa melihat peta Ishinomaki dan kali ini saya berada di dalamnya. Seperti mimpi sebenarnya. Tapi keadannya tidak seperti yang saya mau. Ishinomaki masih dalam cover sedih. Banyaknya korban, banyaknya kehilangan sama sekali tidak bisa dibayangkan. Lokasi yang saya datangi memang tidak serusak Natori, disini masih ada kehidupan, harapan, senyum dan keceriyaan. Mungkin hanya di Ishinomaki bagian ini saja. saya juga tidak yakin. Tapi semoga bagian lain juga memiliki harapan itu. amin.

Dan tibalah saatnya.. hehe~

Setelah beberapa performance dari teman teman negara lain, akhirnya tiba saatnya saya untuk bersuara. Alhamdulillah sekali, nafas – suara bisa keluar. Alhamdulillah tiba-tiba di hilangkan alerginya. Saya menyanyikan Bengawan Solo, Sukiyaki song dan Lagu duet dengan mas Fadly – Kokoro no tomo. So Happy for that. Sisanya, jadi back up untuk “mereka yang advance”. Sempat juga berduet dengan Mr. Surin – Sekjen ASEAN. whaa~

Alhamdulillah juga, semua orang disana terhibur. Semua bahagia.

Alhamdullillah penduduk setempat menerima kami dengan baik. Alhamdulillah perjalanannya tidak sia-sia. Suatu saat kalau fukushima bento berefek buruk bagi saya, saya bersumpah tidak akan menyesal, karena perjalanan kemarin “begitu indah” Saya bicara dengan bahasa Jepang saya yang terbatas dengan beberapa penduduk disana. Mereka bercerita mengenai pengalaman mereka. (Insyallah di cerita berikutnya)..

Hari ini diakhiri dengan ASEAN Night, Mr. Surin dan Sasakawa san – Nippon Foundation hadir disana. Beberapa rekan ikut perform, dan acara ini diakhiri dengan poco-poco bersama.

H3..

Hari ketiga, hari kilas balik. Kami berkunjung ke Higashi Matsushima. Dulunya merupakan daerah wisata yang sangat terkenal di Miyagi-ken. Air sempat naik dan menggenangi kota. Alhamdulillah bukan Tsunami besar seperti di tempat lainnya. Ada 300 pulau kecil yang melindungi lokasi ini. Perekonomian pun sudah mulai terlihat naik kembali. Jumlah turis mungkin tidak sebanyak dulu, tapi setidaknya orang-orang disini sudah bisa jauh lebih optimis.

Sampai di Tokyo sekitar jam 6 sore. Setelah membantu finishing ASEAN Youth Caravan di Gedung NIppon Foundation, Akhirnya rombongan yang tidak tinggal di Tokyo berangkat pulang melalui Haneda Airport. Saya, Dika dan Kiki ikut mengantar. Makan malam, lalu mengantar mereka ke gate. Saya sedih sejujurnya.. 😀

Well, it’s always hard to say good bye, kan?! Alhamdulillah saya pernah ada di Journey ini. Kalau kata Kiki, Setelah sebulan bekerja di call center – crisis center KBRI Tokyo, mengimajinasikan Miyagi – ken, menjelaskan kepada penelpon, I deserve to go here.

Alhamdulillah..

Tapi ada satu yang belum tersampaikan sebenarnya, sebuah lagu dari band saya (R.I.P – meninggal band-nya) yang didedikasikan untuk para korban gempa dan tsunami Jepang. Kita sampaikan disini saja kalau begitu.. 🙂

Entah apa perasaan saya sebenarnya. Disisi lain saya sedih, tapi saya juga lega saya ikut dalam tim ini. Semoga kehadiran kami memang bisa berguna untuk menghilangkan kesedihan mereka.

.

PS :: postingan ini belum selesai sepertinya. ada mood yang hilang waktu saya menuliskannya. anggaplah to be continued.. 😀

tombol reset

Tadi pagi saya dan bunda ngobrol via skype. Sebenernya saya mau pamit, karena besok mau berangkat ke sendai. Seperti biasa obrolan seputar hidup masing-masing lah yang kita bicarakan. Mulai dari kuliah saya, sampai mau makan apa saya hari ini. Bunda juga gitu, cerita soal rumah, Sat dan Ken, soal sekolahnya juga. Wejangan ini itu soal thesis, karena kita sama-sama lagi bingung dengan thesis.

Bunda juga kasih encourage buat saya, karena besok saya akan berangkat ke Sendai untuk volunteer dan mengisi acara di ASEAN Carnival for Japan. Bismillah semoga berjalan lancar semuanya. Walau agak jiper dengan kenyataan bahwa beberapa artis dari Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya akan ikut tampil disana. Semoga saya bisa melaksanakan tugas dengan baik.

Satu pembicaraan yang terus terus membuat saya berfikir adalah, hari ini bunda mengeluh lagi soal masalah negara. “Dulu, eyang suka ngeluh ‘aduh, mau jadi apa negara ini kedepannya, kok pemerintahnya begini’ dan kita anak-anaknya jaman dulu selalu menjawab  ‘udahlah bu, nggak usah ikut dipikir, itu kan udah ada yang mikirin’. Sekarang ibu sudah jadi orang tua, jadi ngerti apa perasaan eyang-mu dulu” kata bunda.

Bunda bilang, setiap hari jumlah koruptor di Indonesia bertambah, setidaknya begitu yang disiarkan media. Tiap hari ada saja orang yang ketahuan menggelapkan uang negara. Ya Allah. Ada satu pemikiran bunda yang sama dengan apa yang saya pikirkan, “kok tega ya mereka??”. Mereka yang punya posisi dengan seenaknya memakan uang yang bukan hak mereka. Untuk apa? Untuk membiayai anaknya beli mobil baru, sedang disisi lain negara kita – banyak anak-anak kecil yang pergi sekolah hanya dengan sendal jepit yang karetnya disangga dengan ranting dan harus berjalan berkilo-kilo meter. Atau mereka yang mengambil uang negara dengan jumlah nominal yang bahkan angkanya nggak bisa saya hitung dengan jari. Untuk apa? Untuk  membelikan istrinya intan berlian, tas mahal sekelas Luis Vitton atau Gucci, sedang disisi lain negara kita – banyak orang meninggal karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit karena kartu tanda tidak mampu-nya tidak bisa diproses karena mereka nggak punya cukup uang untuk membayar “biaya cepat”-nya, atau mungkin petugas loketnya tidak cukup digaji sehingga mereka lebih memilih bekerja sambil berdiskusi soal infotainment dari pada melayani para pasiennya.

Saat ini, beberapa kampus di Indonesia punya program ‘kelas pemberantasan korupsi’. Semoga berguna. Bukan mendiskreditkan, tapi jika seseorang sudah biasa hidup dengan kemewahan dan indahnya easy money hasil korupsi, misalnya anak pejabat yang orang tuanya bertahun-tahun memberi uang saku dari hasil itu, apa si anak akan merubah mindsetnya? Kuliah yang mungkin hanya 2 SKS ato mungkin paling banyak 3 SKS nggak mungkin bisa merubah pola pikir dan psikologis seseorang. Bandingkan saja dengan para koruptor yang dulunya juga bertahun-tahun menjadi aktifis anti korupsi. ketika tahu nikmatnya berada di posisi “menerima” pasti luluh juga hatinya. Apalagi hukum yang ada di Indonesia cenderung lunak. Korupsi milyard-an rupiah, hanya dihukum 3 tahun penjara dan mengembalikan uang denda sebesar 500 juta. NO WAY! kembalikan semua uangnya, lalu pukul pantatnya sampai ledes di depan media masa lalu beritanya harus diberitakan selebay gosip gempa di Jepang, baru si pelaku layak dapat hukuman penjara 3 tahun (dengan tetap dipukul pantatnya setiap hari). Atau, pilih langsung di hukum mati. Snip or Snap!

Saya nggak mau munafik. Saya juga mungkin bisa bicara begini karena tidak berada di posisi itu. Tapi semoga Allah selalu memberikan saya pendidikan dan lingkungan yang bersih dari hal itu.

Mungkin satu hal saya sih yang perlu ditanamkan dalam pemikiran setiap orang. “tegakah??”. Well entahlah.

Kadang saya berfikir, andai negara kita punya tombol reset. Tekan sekali, mulai semua dari awal.

Maaf, pernyataan ini bukan berarti saya anti nasionalis atau demokratis, ini hanya pandangan saya, tanpa doktrinasi apapun. Pandangan pribadi seorang saya terhadap sebuah negara yang sangat saya cintai. Rasanya ingin mengulang semuanya. Andai bisa dibentuk sebuah panitia yang super adil. Lalu semua orang berkewajiban mengembalikan semua harta benda kepada panitia itu. Lalu harta itu dibagikan secara rata kepada semua orang sebagai modal. Semua orang harus memulai semuanya dari Nol, dan nantinya secara alamiah akan menghasilkan : dia yang jujur dan bekerja keras akan mendapat hasil yang lebih dari pada mereka yang malas. Skill menjadi base disini. Panitia menjadi juri. Juri pun harus fair. Setiap orang yang bekerja baik harus juga dibayar dengan baik. Yang ketahuan curang kelaut aja. DITENGGELEMIN!

Andai..

Maaf kalau ada yang tidak berkenan. Semoga bunda saya juga sepakat.

amin..

icha yang ini mau nulis thesis!

Sebenarnya sedang total panik.

Sebenarnya lagi clueless banget.

Sebenarnya lagi kurang tidur luar biasa.

Sebenarnya sedang kelaparan.

Tapi tapi, entah ada angin apa, saya yang ini memberanikan diri untuk mengajukan tema thesis. Walau dengan segala ke-dungu-an,  akhirnya berani untuk menghubungi sensei untuk berdiskusi untuk thesis saya. jyaaaa~ takuuuttt!!!!

Belum diapprove, tapi so far, saya dah berhasil mengconvince dia untuk mendukung saya dengan tema ini.. 😛

 

Sensei sebenarnya agak kaget dengan apa yang presentasikan, karena agak lebih “goyah” dari presentasi “motivasi” pada saat awal masuk Lab. Sensei agak khawatir dengan bagaimana saya mencapai goal. Topik yang saya angkat terlalu sensitif, tapi kalau saya berhasil menjalankan projectnya – akan menjadi sangat menarik. Tegang! Saya sempat down waktu mata sensei seakan berkata “Icha, kenapa kamu selalu memilih topik sensitif” hehehe! Ya, dulu di presentasi motivasi, saya pernah mempresentasikan sesuatu yang juga membuat sensei bilang “kamu yakin dengan topik ini? karena ini sangat sensitif dan biasanya data yang kamu dapat harus dirahasiakan. Jadi perlu effort lebih untuk lalu bisa mempublishnya sebagai bahan thesis.” Tapi entah bagaimana saat ini saya MAU mengerjakan ini. Mengerjakan sesuatu yang sangat ingin saya lakukan. Insyallah. Ingat posting mengenai mimpi, ego dan realita? Saya memutuskan untuk menggabungkan semuanya! Saya tau dalam hidup kita harus memilih, dan saya memilih untuk mengkolaborasikan mimpi saya untuk bisa melebur dengan ego dan menjadikannya realita!

Semoga semua pihak membantu saya.

Ya, untuk merealisasikan ini saya akan butuh banyak orang. Saya akan butuh banyak pihak untuk mendukung saya.

Teman, Icha yang ini mau nulis thesis. Mohon bantuan dan dukungannya ya.. 🙂 Insyallah, hasil dari edukasi ini akan berguna untuk banyak pihak.

Smangat smangat!!!

kasihan orang indonesia

Jepang telah di guncang gempa lebih dari 9 SR, disusul tsunami, lalu radiasi dari power plant nuklir yang terbakar. Mungkin karena kesigapan Jepang, dengan teknologi yang bisa dibilang canggih, maka semua kejadian itu bisa segera ditanggulangi. Tapi sebenernya ada faktor lain yang lebih penting dari sekedar teknologi itu, yaitu faktor mentalitas. Ketenangan dalam menghadapi bencana, nggak ada kecurangan ketika dalam keadaan panik sekalipun, gotong royong, ikhlas, dan yang paling penting nggak ada mental menyalahkan salah satu pihak. Media di Jepang juga mendukung penanaman mental baik terhadap masyarakatnya. Nggak ada berita yang sifatnya menakut-nakuti, walau misalnya ada hal yang di cover dalam suatu pemberitaan, tapi berita tersebut tetap mengusung prinsip edukasi dan “bukan sekedar mengejar rating”.

Kasihan orang Indonesia.

Kenapa saya bilang begitu?

Indonesia adalah negara yang memiliki masyarakat sangat Heterogen. Kalau boleh bicara agak keras, baik dalam hal ekonomi, pendidikan, pekerjaan dan hal-hal ini sangat berpengaruh terhadap pemahaman seseorang terhadap informasi yang mereka terima. Teringat betapa masyarakat Indonesia ikut terkena dampak panik ketika bencana di Jepang terjadi. Berita yang disampaikan oleh media di Indonesia, mohon maaf, tapi sangat tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Mungkin karena media di Indonesia adalah pihak ketiga atau malah ke sepuluh dari sumber asli berita, yang terjadi adalah efek “pelebay-an” yang sangat akut. Pasca bencana Jepang, saya bekerja volunteer di KBRI Tokyo, dan tantangan terberat adalah bukan menghadapi mereka yang terkena bencana langsung, tapi justru melayani warga Indonesia lain (baik di Jepang dan di Indonesia) yang termakan berita di Media. Saat itu berita yang paling akurat adalah berita yang disiarkan oleh NHK – Jepang dan sumber-sumber dari pemerintah jepang yang sayangnya disampaikan dalam bahasa Jepang. Dan karena border bahasa itu akhirnya terjadi pembiasan berita.

Saya sempat membandingkan pemberitaan NHK mengenai gempa Jepang dan pemberitaan media di Indonesia mengenai pemberitaan gempa Cilacap, yang waktu itu terjadi dalam waktu yang berdekatan. Berita gempa dari NHK, memberitakan live report, helikopter, dengan fokus pada suara dari reporter dan ambient suara dari helikopter, atau suara udara. Konten berita adalah peringatan atas gempa dan rujukan `what to do` kepada  masyarakat. Sedangkan berita gempa cilacap, di kemas dengan gambar peta cilacap dengan narasi dari pembawa berita (well normal) tapi dibumbui dengan lagu horor yang biasa muncul di sinetron-sinetron. Hm~.. well, saya sebetulnya kagum dengan kinerja teman-teman media yang berusaha keras memberitakan berita seakurat mungkin, mereka yang berusaha menginformasikan berita dengan info yang benar. Salut untuk mereka yang masih mengusung azas ini. Tapi kenapa lebih banyak media yang memilih untuk berazas “yang penting rating gw bagus”. hm..!

Ini semoga sebuah pandangan yang bisa membangun pihak media. Semoga media ikut membantu mentalitas masyarakat Indonesia, bukan hanya menakut-nakuti via berita yang mereka siarkan. Baru-baru ini ada informasi yang ditayangkan mengenai ancaman gempa 8,sekian skala richter dari perairan laut Jawa. Media sebaiknya membantu mengembangan awareness di masyarakat, bukan membuat masyarakat malah panik dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan (misalnya nimbun makanan, atau menaikkan harga karna panik takut bencananya datang jadi ambil untung duluan).. Yah, semoga semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.

Ini untuk jaga-jaga, bukan untuk menakut-nakutin. Ini berguna bukan hanya untuk menghadapi bencana alam tapi apapun kejadian yang membutuhkan kedaduratan (termasuk mungkin untuk kabur dari kejaran KPK.. hehehe~ no offense). Sedikit tips dari saya untuk membuat personal Emergency Bag (tas darurat). Yang isinya kira-kira :

  • Sikat gigi dan pastinya odolnya,
  • Daleman, (untuk wanita ditambah dengan pembalut, bila anak-anak mungkin diapers),
  • Handuk kecil,
  • Lampu senter dan beberapa batre cadangan,
  • Obat-obatan pribadi (biasanya obat sakit kepala, obat maag, anti masuk angin, plester dan obat luka, obat gosok)
  • Personal ID,
  • Daftar nama emergency contact,
  • Makanan kering yang tahan lama (mungkin crackers atau abon),
  • Air mineral,
  • Uang secukupnya (dalam pecahan kecil),
Well, minimal itu isinya, semuanya di kemas dalam satu ransel, dan usahakan agar si ransel bisa dikenakan saat lari. di luar tas ransel juga usahakan untuk memasang peluit yang di beri tali, seperti pramuka, dan label nama pemilik ransel. Ini jelas bukan rencana liburan ke luar negri, jadi nggak usah berharap untuk membawa semua harta benda. Dan karena ini tas darurat, maka sebaiknya dimiliki setiap individu yang ada dirumah. Dan jika ditaruh di rumah, kenapa juga tidak sekalian menyediakan helm bila suatu hari memang terjadi gempa. Tas Ransel ini juga sebaiknya di taruh di lokasi yang mudah di jangkau, misalnya jangan ditaruh di gudang dan ditumpuk dengan spare part motor .. hehe~.
Untuk tips gempa lainnya, insyallah semoga saya bisa menulisakannya di postingan selanjutnya.
Mohon maaf ya, kalau ada pihak yang tidak berkenan. Harapan saya sih semoga ini jadi pembelajaran untuk banyak pihak ya. Smangat!

new friend called tumblr

belakangan gw punya mainan baru, bukan melupakan dunia yg ini.. hanya karena di iphone ada aplikasinya, jadi lebih gampang kl pengen update2 gitu.. namanya tumblr. my another world..

layoutnya simple, seru aja dipake. emang sih, jadinya kayak kebanyakan mainan gitu.. blog, facebook, plurk, twitter.. well, sebenernya sedang mencoba coba aja – sekalian belajar media mana yang paling enak dipake. media mana yang secara design lebih mudah dimengerti, interface yang menarik, dll.. wajar dong? secara gw skolah di skolah media, mesti tau dan menilik si media media ini biar nggak ketinggalan tren media. but dun worry, temen cerita panjang lebar diantara media-media itu tetep this blog sepertinya.. 🙂

thank you buat temen-temen yang ikut baca blog ini, temen-temen yang ikut ngeramein blog ini, yang juga ikut sampe ngesearch blog ini di search engine, yang suka kasih ide via email, atau menkomen di postingannya.. thank you all!!!

pray for Japan

Executive Producer | Muhammad Lutfi, Fithra Faisal, Widyanto Dwi Nugroho
Producer | Annisa ‘chazky’ Hara
Director | Annisa ‘chazky’ Hara
Asistant director | Najwa
Story | PPI Jepang – sencho gorimacho production
Story boarder | Rianti Hidayat
Camera person | Mahardian Rahmadi, Widiyanto Dwi Nugroho, Reza Aryaditya
Editor | Annisa ‘chazky’ Hara
Art and talent advisory | Rianti Hidayat, Agyl Fajar Rizky
Logistic | Riskina Juwita, Hendika Rahmadi, Riski Anggri Wirawan
General affair | Fatahuddin
Data compiler | Ardhi Fachrudin Noor
Media | Farid Triawan, Angga Wirastomo
Talent | Muhammad Lutfi, Miya chan, Khaidar kun
——
Thanks to Allah SWT, our parents and this dedicated to all people in Japan..

Nuklir Fukushima yang katanya level 7

Ini saya ambil dari note FB -nya mas mahardian, salah satu tim PPI untuk KBRI Tokyo bagian Lingkungan, yang diambil dari emailnya mas Sidiq, salah satu nuclear boys KBRI Tokyo…

——————————————————–

Saya mencoba kutip email dari Dr. Eng. Sidik Permana, beliau adalah salah seorang senior PPIJ dan saat ini menjadi anggota tim nuklir KBRI Tokyo, berikut paparannya:

 

 

Dear Mas Jon dan Rekans PPIJ ers

 

Saya coba bantu menjelaskan berita terkini.

Seperti yang telah saya posting beberapa minggu yang lalu, terkait skala

INES,

Skala INES ini adalah suatu evaluasi dengan standar evaluasi international

dari sebuah peristiwa atau kejadian di sebuah fasilitas nuklir baik

pembangkit, fuel fabrication, reprocessing, dan lainnya, terkait aplikasi

energi nuklir dan radiasi.

Evaluasi ini ditentukan beberapa aspek dari kejadian itu berdasarkan

seberapa parah damage core reactor yang ada, korban jiwa, radiasi yang

dikeluarkan.

Sifat evaluasi sekarang masih bisa berubah, dan bisa jadi setelah selesai

semua penanganan fukushima daiichi ini akan dievaluasi lagi. Ya semacam test

kesehatan ditubuh fukushima daiichi ini apakah penyakitnya sudah stadium

berapa begitu. Ini mengacu pada lokasi difasilitas PLTN, karena lokasi

disana radiasi cukup tinggi. Dan akan semakin kecil dengan jarak, waktu dan

perlingdungan.

 

Proteksi radiasi sederhana ada 3 komponen

1. Waktu, semakin lama akan berkurang tingak radiasinya, namun kita bisa

mengestimasi berapa lama radiasi itu mengena terhadap kita. Semakin sedikit

kita terkena radiasi akan semakin sedikir kita terpapar.

2. Jarak : Semakin jauh kita berada semakin sedikit radiasi akan kita

terima, tentunya untuk partikel radioaktif akan bergantung pula dengan arah

angindan kecepatan. Tapi dilihat dari daerah evakuasi, memang radius dibawah

20 tergolong harus dievakuasi dan juga beberapa daerah tambahan di 4-5 desa

di arah utara.

3. Pelindung : Radiasi paparan langsung kekulit akan terkurangi paling tidak

dengan baju kita. Kemudian kalau kita bekerja dan atau tinggal didalam

gedung/rumah maka kita tidak terkena paparan radiasi, yang artinya

peklidnung kita adalah rumah.

 

Fukushima daiichi

Dalam kejadian ini dievaluasi dari semenjak kejadian sampai hari ini,

akumulatif radiasi yang dipancarkan dari fasilitas 4 unit reaktor fukushima

daiichi tersebut serupa atau menyamai dengan level 7 dimana radiasi dari

radioaktif release I-131 diperkirakan terpancar dan secara akumulatif sampai

saat ini selevel dengan radioaktive release di level 7.

Berbeda dengan cernobyl dimana korban, radiaktif release, damage core dan

lainnya sudah sangat tinggi meskipun masuk ke level 7.

Untuk kasus fukushima daiichi dari komponen radioaktif release secara

akumulatif masuk ke levl 7, dari korban jiwa dan komponen lainnya masih

kemungkinan di level 5.

Laporan resmi komisi menyebutkan level 7 disebut karena akumulatif

radioaktif release sampai hari ini.

 

Apa impactnya penaikan Level ke 7.

Impact terhadap hasil evaluasi dari kasus krisis fukushima, memberikan

penilaian bahwa kecelakaan nuklir di jepang terburuk dalam sejarah jepang

dan satu level dengan level cernobyl dengan estimasi kriteria yang diberikan

diatas.

Efek langsung ke kita, tidak ada.

Yang ada adalah efek radiasi sisa dari yang direlase kemarin dan dibeberapa

daerah sudah kembali normal.

 

Kondisi radiasi

Sampai saat ini dibeberapa lokasi di kanto area termasuk tokyo sudah

memasuki level radiasi alaminya, di ibaraki masih lebih tinggi dari tokyo

dan sekitarnya, tapi cenderung mendekati 0.1 microSv.

Didaerah lebih jauh ke selatan dan barat jepang, sudah normal dan memang

efek radiasinya sangat kecil sehingga sudah lama radiasinya sudah dilevel

normal. hanya di daerah evakuasi anatar radisu 20 KM dan beberaoa daerah

tambahan perluasan evakuasi yang mendapat dosis radiasi yang lewat batas,

sehingga perlu dievakuasi. untuk area 20-30 KM disarankan diam dirumah untuk

menghindari paparan langsung radiasi. Diluar daerah itu, radiasinya relative

masih jauh dari membahayakan walaupun lebih tinggi dari radiasi alaminya.

DAn kecenderungannya terus menurun.

 

Lebih jelasnya:

InsyaAllah akan ada pembahasan ini di radio online besok.

Tunggu tanggal mainnya.

 

Mudah2an bisa membantu

Wassalam

 

Dr. Eng. Sidik Permana

(anggota tim ahli nuklir KBRI tokyo)