a day with Dean

Meet Dean (read: DE – AN)

He is one of my adorable student at Indriya Home Schooling Program. Yesterday, he came to early, and miss Titin from Accounting asked Dean to sit beside me.

He loves music, and he always wanted me to play him something from my itunes. But yesterday, not only music, i gave him camera. and this what we got. 😀

dean1

we had fun!

dean2

*> Dean is a 20 years old boy with autism, and he is now function. Our home schooling program will allow him to graduate this July and start working in our management office as a staff. We are so proud of him and his supportive family.

Wish him luck!

Advertisements

indonesia kita vol.1.. berhasil!!!!!! <3

  • 2011.12.11(Sun)<Tanggal 11, Desember>

    『Indonesia Kita!-インドネシア、キタ!-vol.1』

    ホームページ:http://indonesiakita.net/

    Place:Live House APIA40 (Gakugei-daigaku station)

    Time:open 13:00 start 13:30

    Ticket:¥2500+1drink /¥1500+1drink (Indonesian)

    Cast: Hiroaki KATO/加藤ひろあき

        Ari Sudarmanto (from Pulau Merah Cafe)

        Reisha Humaira

        Novriana Dewi

        Annisa Hara and more….

    ・Indonesian Music

    ・Indoensian language lesson

    ・Tari Piring(Minankabau Traditional Dance)

    ・DJ Time (Funkot, Slow Dangdut etc…)etc…

    主催: Hiroaki KATO / Isti Winayu

    協力:Nanae Hanawa(MC)/Pulau Merah Cafe (Musashi Koyama)

    <Ticket>

    『お名前』、『予約枚数』、『緊急連絡先』を明記の上、

    indonesiakita.info@gmail.com

    までメールをお送りください。


Alhamdulillah, acara indonesia kita vol. 1 kemarin berhasil diadakan. uhuuu~
Saya sih happy luar biasa, semoga temen-temen yang lain juga. 🙂

Hal amazing untuk saya. Event yang pastinya akan terus saya ingat. Berada bersama Hiro dan Bandnya dalam satu panggung, membawakan lagu-lagu Indonesia di Jepang dan bukan sekedar acara Indonesia karena ini sebuah gigs indie yang biasanya saya cuma jadi penonton dan sibuk mengagumi para entertainernya. Salut untuk semua performer, Reisha + Ade dengan tari piringnya, mas ari dan mas juggler yang saya lupa namanya, dan pastinya Hiro + Ohta san + Yo kun + Ikkun.. Untuk semua organizer juga Nanae + abe isti + Nao san + Miki + (syapa lagi ya??) pokoknya terima kasih!

Yang bikin  saya makin happy adalah animo dari pengunjungnya. Well, mostly fansnya Hiro, tapi seneng juga menghadapi kenyataan diakhir acara bahwa mereka menghampiri saya hanya untuk bilang “icha kawaii” (icha lucu).. hehehe~ bukan saya GR, tapi ya ya ya… gimana dong? :p

Cuman bisa bilang Alhamdulillah. semoga setidaknya lepas dari kesalahan saya di atas panggung kemarin, semua orang bisa terhibur.
Semoga ada kesempatan lain lagi untuk saya, dan semoga saya bisa lebih baik lagi. 🙂

Yang belum sempat hadir, semoga lain kali bisa ikut gabung di Indonesia kita vol.2 dan event lainnya lagi.. 🙂

 

yay!

 

Growing Documentary about Tohoku Disaster

Do you know how I feel about Tohoku Disaster?

I feel like, i have an insight to that matter. I live in Japan, but I am not living in Tohoku Area. But since i felt the earthquake and volunteered from day 2, went there and still have connections with some victims, so – i have something pushing me to do something for them. The thing is, I dont have money to buy them things. I don’t have power to do the reconstruction. I don’t have knowledge to help the medication. I couldn’t even talk to local people in a good Japanese, but i really wanted to do something for them.

Few months ago, fortunately, i got a very good opportunity to do something for them. Do something that i can do with my ability. My professor approved my proposal to make a “growing documentary” for Tohoku. I created the name Growing Documentary as the film will be growth together with the growing of the reconstruction of Tohoku after the disaster. Alhamdulillah.

Now, I am still on my first step. And thanks to Allah, I got a lot of helps from many people to do this documentary. If you wanted to know, most of the people on the credit – i’ve never met them, not even talked to them online. They’re volunteering themselves to the project. They’re from many different backgrounds, countries, educations even ages. So cool! Thank you all!

It’s a very big step for me as my film was shown on CineGrid Showcase on Tokyo International Film Festival 2011 last month in Tokyo – Japan. After that, the CineGrid Community seems interested to the idea and offer us to work together. I am so happy for that. Alhamdulillah.

Now, Let me show you the documentary. I hope you like it! 🙂

As this documentary will keep growing, it will need many “seeds” + “waters” + “oxygens” + “fertilizers” and so on.. So, if you interested to join me with this project, feel free to contact me. You can be anywhere, any time zone, any island, any country from any background or any thing.. and let’s figure out what can you do on this project 🙂

I hope this project will bring out more energy to Tohoku reconstruction, a learning source for people in the future and also motivate people to helping and loving each other (anywhere).. 🙂

peace..

songs for ishinomaki

Dalam rangka Asean Youth Caravan kemarin ini, saya diberi kesempatan untuk ikut ambil bagian. Niat awalnya, asal bisa ikut bantu – alhamdulillah banget. Sebulan sebelumnya saya di kontak mas Yudho dari KBRI, kebetulan juga sedang ikut bantu membereskan perpustakaan KBRI, jadi informasinya cepat saya terima. Diputuskan : saya, Kiki dan Dika yang akan berangkat, dengan pertimbangan kami bisa menjadi representasi mahasiswa Indonesia di Jepang. Kiki dengan tari legong, saya dan dika akan berduet menyanyikan lagu bengawan solo dan sukiyaki. Sedikit mengaransemen lagu, tapi tidak pernah latihan sama sekali karena kami luar biasa sibuk. Tidak disangka, saya juga kena flu parah, sampai harus bedrest karena semua tulang rasanya sangat sakit. Belum selesai dengan flu – hidung pun ikut sok eksis dengan kasih saya hadiah cucuran darah, dokter bilang saya kena “burned out” mungkin dalam bahasa Indonesianya panas dalam, karena terlalu capek. 3 Hari sebelum berangkat, kami akhirnya bisa melakukan latihan, satu-satunya latihan yang kami lakukan. Walau dengan agak ketidakyakinan, karena suara saya belum kembali 100%, si nafas juga masih terengah2 akhirnya menyanyilah saya dengan Dika.

Sedikit membaca itinerary, kaget! kok yang dateng orang “penting”.. acaranya kayak apa ini???

H1.. 

Nggak tidur betulan, selesai lab jam brapaa~ trs pulang langsung packing, tidurnya kayak ayam. Takut g bangun. Pagi-pagi dibangunin otto dan bunda. Thanks God ada mereka. Setidaknya charge sebelum berjuang. Sebenernya secara mental saya agak takut. Sendai, gempanya masih ada terus. Dalam hati saya cuma berharap, semoga tidak ada orang yang mengaktifkan aplikasi “yurekuru” (detektor gempa) – supaya saya tidak perlu tertekan mental.

Akhirnya tiba di gedung Nippon Foundation terlalu pagi. Jam 7 pun ternyata bukan jam berangkat, tapi jam berkumpul. Berkenalan dengan banyak orang – para representer negara-negara ASEAN lainnya, termasuk didalamnya mas Fadly, mas Rindra, Yosep “Ring of Fire”, Derby, dan mas Indra dari Sony music. Alhamdulilah bisa baur juga kita. Mungkin karena darah Indonesia kami mengalir begitu deras, Jendral!

Perjalanan sekitar 6 jam, Sempat berhenti untuk makan siang di Fukushima. Dijemur panas-panas di bangku taman, makan bento sambil menghirup radiasi – mungkin. I don’t care anyway. hehe~

Tujuan pertama adalah Natori. Merinding saya. Natori rata. Tidak ada lagi kehidupan disitu. Sedih rasanya. Sejenak membandingkan dengan kota tempat saya tinggal, ya Allah, tidak terbayang bagaimana air bisa membuat semuanya menjadi seperti itu. Walau saya pernah melihat videonya via youtube, tetap saja beda rasanya ketika melihat langsung ke lokasi.

Teman-teman survivor dari Phuket dan Aceh juga ada di dalam rombongan, dan mereka sempat menangis, mungkin teringat dengan betapa tsunami pernah merenggut kehidupan mereka dulu.

Allahuakbar, ketika saya kemudian memutar videonya lagi. Allahuakbar, sungguh Allah maha besar. Jujur, secara mental saya jatuh sekali. Malamnya, saya mencoba menenangkan diri, saya mencoba untuk lupa sejenak rasa sedihnya dengan berlatih bersama mas fadly, mas rindra, yosep, dika, derby dan kiki. Mas fadly mengajak saya untuk berkolaborasi besok.

H2..

Ishinomaki, namanya begitu familiar. Sebulan di KBRI sebagai call center, saya seperti meihat peta 4D. Saya terbiasa melihat peta Ishinomaki dan kali ini saya berada di dalamnya. Seperti mimpi sebenarnya. Tapi keadannya tidak seperti yang saya mau. Ishinomaki masih dalam cover sedih. Banyaknya korban, banyaknya kehilangan sama sekali tidak bisa dibayangkan. Lokasi yang saya datangi memang tidak serusak Natori, disini masih ada kehidupan, harapan, senyum dan keceriyaan. Mungkin hanya di Ishinomaki bagian ini saja. saya juga tidak yakin. Tapi semoga bagian lain juga memiliki harapan itu. amin.

Dan tibalah saatnya.. hehe~

Setelah beberapa performance dari teman teman negara lain, akhirnya tiba saatnya saya untuk bersuara. Alhamdulillah sekali, nafas – suara bisa keluar. Alhamdulillah tiba-tiba di hilangkan alerginya. Saya menyanyikan Bengawan Solo, Sukiyaki song dan Lagu duet dengan mas Fadly – Kokoro no tomo. So Happy for that. Sisanya, jadi back up untuk “mereka yang advance”. Sempat juga berduet dengan Mr. Surin – Sekjen ASEAN. whaa~

Alhamdulillah juga, semua orang disana terhibur. Semua bahagia.

Alhamdullillah penduduk setempat menerima kami dengan baik. Alhamdulillah perjalanannya tidak sia-sia. Suatu saat kalau fukushima bento berefek buruk bagi saya, saya bersumpah tidak akan menyesal, karena perjalanan kemarin “begitu indah” Saya bicara dengan bahasa Jepang saya yang terbatas dengan beberapa penduduk disana. Mereka bercerita mengenai pengalaman mereka. (Insyallah di cerita berikutnya)..

Hari ini diakhiri dengan ASEAN Night, Mr. Surin dan Sasakawa san – Nippon Foundation hadir disana. Beberapa rekan ikut perform, dan acara ini diakhiri dengan poco-poco bersama.

H3..

Hari ketiga, hari kilas balik. Kami berkunjung ke Higashi Matsushima. Dulunya merupakan daerah wisata yang sangat terkenal di Miyagi-ken. Air sempat naik dan menggenangi kota. Alhamdulillah bukan Tsunami besar seperti di tempat lainnya. Ada 300 pulau kecil yang melindungi lokasi ini. Perekonomian pun sudah mulai terlihat naik kembali. Jumlah turis mungkin tidak sebanyak dulu, tapi setidaknya orang-orang disini sudah bisa jauh lebih optimis.

Sampai di Tokyo sekitar jam 6 sore. Setelah membantu finishing ASEAN Youth Caravan di Gedung NIppon Foundation, Akhirnya rombongan yang tidak tinggal di Tokyo berangkat pulang melalui Haneda Airport. Saya, Dika dan Kiki ikut mengantar. Makan malam, lalu mengantar mereka ke gate. Saya sedih sejujurnya.. 😀

Well, it’s always hard to say good bye, kan?! Alhamdulillah saya pernah ada di Journey ini. Kalau kata Kiki, Setelah sebulan bekerja di call center – crisis center KBRI Tokyo, mengimajinasikan Miyagi – ken, menjelaskan kepada penelpon, I deserve to go here.

Alhamdulillah..

Tapi ada satu yang belum tersampaikan sebenarnya, sebuah lagu dari band saya (R.I.P – meninggal band-nya) yang didedikasikan untuk para korban gempa dan tsunami Jepang. Kita sampaikan disini saja kalau begitu.. 🙂

Entah apa perasaan saya sebenarnya. Disisi lain saya sedih, tapi saya juga lega saya ikut dalam tim ini. Semoga kehadiran kami memang bisa berguna untuk menghilangkan kesedihan mereka.

.

PS :: postingan ini belum selesai sepertinya. ada mood yang hilang waktu saya menuliskannya. anggaplah to be continued.. 😀

asean youth caravan

Sebuah program dari Asean untuk pemuda. Alhamdulillah saya masih muda juga jadi bisa ikut. Tahun ini saya mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia bersama Kiki dan Dika. Asean Youth Caravan ini diperuntukan kepada para korban bencana dempa dan tsunami di aceh. lebih panjangnya, saya copy paste kisahnya dari pagenya. 🙂

thank you for all volunteers..

 

======

ASEAN Youth Caravan of Goodwill To Northeast Japan (3-5 June 2011) The Background: The 11 March 2011 Great Earthquake, the subsequent tsunami and the on-going nuclear power plant crisis have brought about a high number of deaths and a wide spread area of destruction and much suffering among hundreds of thousands of survivors in over 2,000 evacuation centers across Japan. On top of the immediate human tragedy, the catastrophic disruption to the Japanese economy is also immense. This is the worst crisis that the Japanese people have ever faced since the Second World War. Japan has been a most generous Dialogue Partner of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) and has been instrumental in the industrialization and economic development of the ASEAN Region since the late 1960s. Japanese private investment and the government’s Overseas Development Assistance (ODA) have poured into the member countries of ASEAN in large amounts for the past four decades, accelerating infrastructure and human resources development. The reason that the ASEAN countries have benefitted from the growth of East Asia particularly the economic dynamism of China and India today is due in large part to the earlier waves of Japanese development assistance and investment in our region. When the Great Asian Financial Crisis devastated the ASEAN economies in the late 1990s, Japan led the international efforts under the direction of the International Monetary Fund (lMF) to offer a generous package of financial aid known as the Miyazawa Plan.

Many ASEAN Member States benefited and, indeed, started to stabilize their economies and restore their financial institutions with that unprecedented multinational rescue package. When the global economic crisis came again in 2008, this time originating in the West, all the ASEAN Member States along with the larger economies of East Asia have not only been shielded from the brunt of the worst global downturn in 70 years, but have also been able to bounce back faster than the rest of the world. And East Asia, along with the ASEAN economies, have been leading the global economic recovery, serving as the new growth center and “locomotive” that is pulling the world economy out of its depth of crisis. For this very reason, the ASEAN Member States, led by the ASEAN Foreign Ministers, have shown their sincere condolences and deep sympathy for the tremendous loss of lives and physical destruction suffered by the japanese people. Outpouring of goodwill and continuous streams of donations have been flowing from the governments, the general public and the private citizens and the private business sector all across the ASEAN landscape ever since 11 March Great Earthquake.

THE ASEAN AND JAPAN FOREIGN MINISTERS MEETING: An unprecedented meeting between all 10 ASEAN Foreign Ministers and their Japanese counterpart took place at the ASEAN Secretariat on 9 April 2011. The Ministers agreed that they would do everything possible to extend a helping hand to Japan and the Japanese people to recover from the “triple catastrophe” with immediate and short, medium and long term strategies. They all realized that it would take much effort, a large scale of resources, and a long time for Japan to get back on her feet again. This, the Ministers agreed, is the time to reciprocate the generosity and goodwill that the Japanese people have shown to the people of ASEAN through the years.

photo owned by dika

THE ASEAN YOUTH CARAVAN OF GOODWILL: Realizing that hundreds of thousands of unfortunate victims of the triple catastrophe are still being housed in many evacuation centers in Northeast Japan in particular, the ASEAN and Japanese Foreign Ministers have endorsed a proposal to organize a quick “Caravan of ASEAN Youth” to show the goodwill of the ASEAN people to be supported by the civil society and the private sector at no cost to the ASEAN Member States. It was agreed that a small group of ASEAN Youth would travel to Northeast Japan to pay a visit to a few evacuation centres, perform some cultural shows, share their own personal painful experiences from similar natural disasters in recent past, and strengthen the “human bond” that has long existed between the Japanese and ASEAN peoples.

THE TARGET DATE AND PLACES: The ASEAN Youth Caravan of Goodwill is planned for 3-5 June, 2011. The Caravan will visit evacuation centers in the Northeastern coastal communities of Japan that have been devastated by the Great Earthquake and the tsunami of 11 March.

PARTICIPATION: All members of the “ASEAN Caravan of Goodwill” will be on a voluntary, pro bono, basis (charity and free of charge). Some members will travel from some of the ASEAN Member States, the ASEAN Secretariat and some will be invited from among the Tokyo-based youth or students who are interested and willing to join the Caravan of Goodwill. The 10 ASEAN embassies (The ASEAN Tokyo Committee) will be closely consulted and will support the organization of the project without any financial implications to the ASEAN Member States. The Thai Ambassador to Japan, H.E. Virasakdi Futrakul, Chairman of the ASEAN Tokyo Committee, will serve as the main Coordinator in Tokyo. All Ambassadors of the ASEAN Member States in Tokyo will advise and render support to this goodwill initiative.

CONTRIBUTIONS FROM THE MEDIA: For such a goodwill initiative to be appreciated by a wider Japanese and ASEAN public, members of the media on both sides will have to play an important role. The National Japan Broadcasting Company (NHK) has agreed to document the “ASEAN Youth Caravan of Goodwill” from the very start until the end over the 3 days period, beginning with its arrival in Japan on 3 June to its departure on 5 June. A special appearance and interview by some of the leading performers, members of the “Caravan” will be arranged for special recording for future broadcast. Some of the media representatives from ASEAN, including the media unit of the ASEAN Secretariat will be invited to join the ASEAN Youth Caravan of Goodwill. Other media representatives from the ASEAN Member States may be invited to join the Caravan.

TRANSPORT AND LOGISTICS: Thai International Airways and Air Asia have expressed their readiness to participate in the ASEAN Youth Caravan of Goodwill. The Japan Broadcasting Corporation (NHK) has expressed its interest to record all activities the ASEAN Youth Caravan of Goodwill and special interviews with possible performances studio for future broadcast and wider dissemination to the Japanese and global audience. The Chair of the ASEAN Tokyo Committee, Ambassador Virasakdi Futrakul of Thailand, and his staff have been in close contact with the Nippon Foundation, which has extensive network of volunteers and humanitarian outreach projects in the earthquake-tsunami ravaged areas in Northeast Japan, for arrangements of logistics support.

EXPECTED OUTCOME: All Governments of the ASEAN Member States have conveyed their condolences and deep sympathy to the Government and people of Japan right from the very beginning of this Triple Tragedy. The ASEAN people themselves, in their own separate ways, have joined hands in raising donations for the victims of the Catastrophe. The ASEAN Secretariat is spearheading this ASEAN Youth Caravan of Goodwill, with full support of the private entities and the civil society community in ASEAN, to convey yet another message of goodwill and a sharing of loss and pain that the people of ASEAN feel in the suffering of our Japanese friends. The project, with participation of ASEAN performing artists and youth, will have a lasting impact on the Japanese public through the support of the Japan Broadcasting Corporation (NHK). This strong “human bond of goodwill” will certainly serve as an even firmer foundation for future cooperation between Japan and ASEAN.”

icha yang ini mau nulis thesis!

Sebenarnya sedang total panik.

Sebenarnya lagi clueless banget.

Sebenarnya lagi kurang tidur luar biasa.

Sebenarnya sedang kelaparan.

Tapi tapi, entah ada angin apa, saya yang ini memberanikan diri untuk mengajukan tema thesis. Walau dengan segala ke-dungu-an,  akhirnya berani untuk menghubungi sensei untuk berdiskusi untuk thesis saya. jyaaaa~ takuuuttt!!!!

Belum diapprove, tapi so far, saya dah berhasil mengconvince dia untuk mendukung saya dengan tema ini.. 😛

 

Sensei sebenarnya agak kaget dengan apa yang presentasikan, karena agak lebih “goyah” dari presentasi “motivasi” pada saat awal masuk Lab. Sensei agak khawatir dengan bagaimana saya mencapai goal. Topik yang saya angkat terlalu sensitif, tapi kalau saya berhasil menjalankan projectnya – akan menjadi sangat menarik. Tegang! Saya sempat down waktu mata sensei seakan berkata “Icha, kenapa kamu selalu memilih topik sensitif” hehehe! Ya, dulu di presentasi motivasi, saya pernah mempresentasikan sesuatu yang juga membuat sensei bilang “kamu yakin dengan topik ini? karena ini sangat sensitif dan biasanya data yang kamu dapat harus dirahasiakan. Jadi perlu effort lebih untuk lalu bisa mempublishnya sebagai bahan thesis.” Tapi entah bagaimana saat ini saya MAU mengerjakan ini. Mengerjakan sesuatu yang sangat ingin saya lakukan. Insyallah. Ingat posting mengenai mimpi, ego dan realita? Saya memutuskan untuk menggabungkan semuanya! Saya tau dalam hidup kita harus memilih, dan saya memilih untuk mengkolaborasikan mimpi saya untuk bisa melebur dengan ego dan menjadikannya realita!

Semoga semua pihak membantu saya.

Ya, untuk merealisasikan ini saya akan butuh banyak orang. Saya akan butuh banyak pihak untuk mendukung saya.

Teman, Icha yang ini mau nulis thesis. Mohon bantuan dan dukungannya ya.. 🙂 Insyallah, hasil dari edukasi ini akan berguna untuk banyak pihak.

Smangat smangat!!!

new friend called tumblr

belakangan gw punya mainan baru, bukan melupakan dunia yg ini.. hanya karena di iphone ada aplikasinya, jadi lebih gampang kl pengen update2 gitu.. namanya tumblr. my another world..

layoutnya simple, seru aja dipake. emang sih, jadinya kayak kebanyakan mainan gitu.. blog, facebook, plurk, twitter.. well, sebenernya sedang mencoba coba aja – sekalian belajar media mana yang paling enak dipake. media mana yang secara design lebih mudah dimengerti, interface yang menarik, dll.. wajar dong? secara gw skolah di skolah media, mesti tau dan menilik si media media ini biar nggak ketinggalan tren media. but dun worry, temen cerita panjang lebar diantara media-media itu tetep this blog sepertinya.. 🙂

thank you buat temen-temen yang ikut baca blog ini, temen-temen yang ikut ngeramein blog ini, yang juga ikut sampe ngesearch blog ini di search engine, yang suka kasih ide via email, atau menkomen di postingannya.. thank you all!!!

pray for Japan

Executive Producer | Muhammad Lutfi, Fithra Faisal, Widyanto Dwi Nugroho
Producer | Annisa ‘chazky’ Hara
Director | Annisa ‘chazky’ Hara
Asistant director | Najwa
Story | PPI Jepang – sencho gorimacho production
Story boarder | Rianti Hidayat
Camera person | Mahardian Rahmadi, Widiyanto Dwi Nugroho, Reza Aryaditya
Editor | Annisa ‘chazky’ Hara
Art and talent advisory | Rianti Hidayat, Agyl Fajar Rizky
Logistic | Riskina Juwita, Hendika Rahmadi, Riski Anggri Wirawan
General affair | Fatahuddin
Data compiler | Ardhi Fachrudin Noor
Media | Farid Triawan, Angga Wirastomo
Talent | Muhammad Lutfi, Miya chan, Khaidar kun
——
Thanks to Allah SWT, our parents and this dedicated to all people in Japan..

hari ke-sebelas

11 hari dan 10 hari untuk saya

Hari ini memasuki hari ke sebelas pasca gempa – tsunami di Miyagi. Saya yang sejak hari ke 2 sudah memvolunteer-kan diri di kedutaan, sudah seperti hatam dengan flow kerja crisis center disini. Tinggal di gedung kantor kedutaan selama 10 hari; makan, tidur, mandi, ngobrol semuanya dilakukan disini. Mungkin juga ini hari ke 10 saya nggak punya cukup waktu untuk tidur dan melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri. Selama itu juga saya tiba-tiba tidak merasa berada di Jepang. Saya sudah merasa dirumah. Walo ber-volunteer seperti ini, tapi sungguh nikmat sekali bisa berbicara bahasa Indonesia dengan joke-joke Indonesia yang sudah rindu sekali saya dengar.. 🙂

10 hari bekerja di call center, membuat saya ‘nge-blend’ dengan kondisi dan situasinya. Setiap hari menerima telpon, mendengar curahan hati orang yang kehilangan keluarga, suara2 putus asa akibat tak bisa menghubungi sanak saudara atau kerabat. Well, mungkin itu juga perasaan yang dirasakan keluarga ketika saya sibuk dan tak sempat menghubungi mereka karena terlalu sibuk.. (maaf bunda, adik2ku sayang, keluarga, temen2, otto juga)..  Tapi tapi tapi, mungkin karena itu ya, saya kini ber – empati dengan kasus kasusnya, jadi rasanya tergerak banget untuk terus membantu proses pencarian ini. Hari demi hari, laporan orang hilang makin bertambah, sedih rasanya ketika telpon hotline kami berdering. Telpon berdering artinya laporan orang hilang. Ya Allah, semoga mereka ini baik-baik saja. Tapi kita disini juga sangat bahagia, ketika kita mencoba mencari via telpon, lalu telponnya di jawab oleh si pemilik telpon dan menyatakan mereka baik-baik saja. Apa yang lebih membuat kami berbahagia adalah ketika kami bisa menemukan dan mengevakuasi para korban yang terkena dampak langsung gempa tsunami di Miyagi dan radiasi nuklir di Fukushima. Melihat mereka secara langsung, melihat mereka masih sehat dan masih bisa tersenyum membuat saya bangga bisa berada di posisi ini.

Beban untuk saya, bukan hanya saya tapi kami

Tantangan terberat yang kami hadapi adalah pemberitaan di media masa yang sangat berlebihan. Terutama di negri sendiri. Kami yang harus bertugas dengan kepala dingin dan ketenangan harus kerap kali menahan tangis ketika kami sendiri mendapat telpon dari keluarga kami di Indonesia dan kepanikan dengan berlebihan karena telah menyimak berita dalam negri yang menyiarkan berita tidak sesuai porsinya terutama mengenai radioaktif. Sangat umum kami mendengar rekan kami sendiri harus berjuang mati-matian untuk meyakinkan keluarganya agar bisa tetap bertahan hidup di Jepang. Saat itu pula kami harus mengangkat telpon dan mengubah getar suara kami agar tetap tenang, dan menenangkan para penelpon yang kepanikan baik mencari keluarga, maupun panik karena ancaman radioaktif dari plant nuklir yang sebenarnya tidak perlu di khawatirkan sebegitunya.

Kami saat itu, para volunteer yang berada di crisis center, kami yang semuanya merupakan mahasiswa, sangat kecewa dengan pemberitaan media. Kami sempat emosi karena pemberitaan yang semakin mengganggu. Saat itu, mereka bukan menjual berita. Mereka hanya memikirkan cara mendapat banyak respon dan rating. Mereka tidak bisa memilah fakta yang mereka dapat dan memaparkannya dengan benar. Saat itu, semua pemberitaan yang seharusnya menjadi sumber informasi saya rasa hanya berujung sebagai dilema bagi masyarakat – mungkin hampir di seluruh dunia. Payah!

Alhamdulillah, surat yang dikirimkan oleh persatuan pelajar Indonesia – Jepang atas nama mas Fithra didengar juga oleh media. Dan sejak itu pemberitaan pun berubah lebih terarah dan lebih baik.

Evakuasi

Suatu hari tim crisis center kami harus melakukan evakuasi terhadap keluarga-keluarga yang berada di Fukushima. Saat itu keadaanya sangat mencengangkan. Power plant nuklir sedang pada posisi teratas tingkat bahaya. Ketika semua orang mencoba melarikan diri dari daerah situ – dan bahkan tokyo dan sekitarnya, tim kami malah masuk mendekati daerah situ untuk melakukan penjemputan. Dengan berbagai aturan, misi ini dijalankan. Tim lapangan tidak punya banyak waktu. karena ada limit tertentu, bahwa manusia bisa berada di daerah terradiasi begitu. Kami di call center saat itu menjadi penengah – komunikasi antara pihak penjemput dan korban. Kondisinya sangat  menegangkan. Berpacu dengan waktu. Namun Alhamdulillah kami berhasil menyelamatkan 16 orang dalam hari itu, dan 9 diantaranya adalah anak-anak. Kami semua berteriak bahagia ketika mendapat kabar bahwa penjemputan berhasil, dan mobil evakuasi kembali ke Tokyo. Luar biasa! yang terpikir dikepala saya saat itu adalah :

“kalau pemberitaan di media benar, bahwa radiasi nuklir sudah sangat mengkhawatirkan, dan saya harus menjadi korbannya, saya tidak akan menyesal, saya akan sangat berbangga karena saya ada bersama mereka yang berjuang menyelamatkan orang lainnya, dan untuk saya, terutama karena akan ada 9 anak kecil yang terselamatkan. Jadi apalah artinya pengorbanan  ‘satu saya’ kalau di masa depan akan ada 9 anak yang mungkin akan tumbuh besar jauh lebih baik dari saya.. 🙂

Terharu ketika kami menerima sms, email, atau pesan-pesan terima kasih dan penyemangat. Saya terkadang juga mendapatkannya di email, akun SNS atau Handphone pribadi saya. Well, semua bukan untuk saya, tapi tim hebat tempat saya berada..

Mungkin teman-teman volunteer lainnya punya pendapat berbeda tentang alasan mereka berjuang di crisis center ini. Tapi Insyallah, apapun tujuan mereka, tujuan saya, semoga Allah membalas niat baik kami dengan mendengar doa yang selama ini kami panjatkan, untuk menyelamatkan kita semua. amin.

info KBRI TOKYO

Layanan pencarian keluarga/teman/ kerabat yang berada di Jepang.

call center: +81-90-3132-4994
facebook: KBRI Tokyo
Twitter: KBRITokyo
sms posko KBRI: 080-3506-8612
website KBRI: http://www2.indonesianembassy.jp/
Bagi rekan-rekan yang menggunakan layanan call center KBRI Tokyo, harap mempersiapkan;

1. Nama (Indonesia / pencari data).

2. No telp (Indonesia / pencari data).

3. Nama yang dicari (yg di Jepang).

4. Alamat (perfecture / daerah) dan no. telp orang yang di cari (di Jepang)

Kepada rekan-rekan yang telah menghubungi CALL CENTRE KBRI TOKYO dan belum mendapatkan konfirmasi kembali itu berarti kami belum mendapatkan informasi mengenai teman / saudara yang Anda cari. Jika kami sudah berhasil mendapatkan data, kami pasti akan segera menghubungi kembali kepada Anda. Mohon tetap tenang dan berdoa.