sapporo yuki matsuri

Sejak bulan Desember lalu, Jepang sedang berselimut salju dan udara yang sangat dingin bila dibandingkan dengan Indonesia. Hampir seluruh Jepang mengalami udara dibawah nol derajat dengan tumpukan salju yang mencapai satu hingga 3 meter. Bagi mereka yang baru pertama kali tinggal di Tokyo dan mengharapkan salju tebal seperti di film-film, maka mereka pastinya sedikit kecewa karena di Tokyo dan Yokohama bisa dibilang salju tidak turun sama sekali. Namun salju akhirnya turun pada tanggal 14 Februari bertepatan dengan Valentine, dimana di Jepang Valentine merupakan salah satu hari yang penting terutama bagi para pemudanya dan menjadikan hari itu semakin spesial.

Sedikit mengenai budaya valentine di Jepang, ini merupakan hari yang sangat special terutama untuk para perempuan. Di jepang, valentine adalah waktu dimana perempuan dapat menyatakan perasaannya kepada laki-laki. Biasanya bentuknya dapat berupa customize chocolate (bukan coklat merek biasa yang dibeli di supermarket) atau bisa juga berupa kerajinan tangan yang dibuat sendiri. Semakin besar harapan, biasanya juga semakin besar effort yang diberikan untuk si hadiah spesial tersebut. Dan sebagai balasan, biasanya laki laki akan menjawabnya sebulan kemudian, yaitu 14 Maret, dengan memberikan hadiah yang berlipat bagi mereka yang menerima perasaan sang perempuan, atau tidak membalas sama sekali bagi mereka yang menolak, atau menjawab penolakannya sebulan setelahnya yaitu 14 April.

Terbang ke utara, Hokkaido, dimana salju pastinya turun dengan lebatnya, dan udara dingin pun terus bertahan hingga pertengahan tahun. Disana diadakan event tahunan “yuki matsuri” yang artinya festival musim salju, tahun ini adalah yang ke 62. Event yang berlangsung pada tanggal 7 hingga 13 Februari ini berlokasi di kota utama pulau Hokkaido, Sapporo, Yuki matsuri berhasil menarik sangat banyak wisatawan baik lokal maupun internasional, mulai dari asia, amerika, afrika, hingga eropa. Festival yang berlangsung selama seminggu ini seperti tidak pernah kehabisan pengunjung, karena dapat dipastikan puluhan ribu orang datang setiap harinya. Mereka sangat menikmati atmosfer yang ada, bukan hanya patung yang dipamerkan, tapi juga makanan, ice skating, free style ski dan snowboarding, live tv show hingga salju yang turun sekalipun menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Festival ini menampilkan banyak sekali patung-patung yang terbuat dari salju dan es. Patung yang dibuat tidak hanya patung-patung abstrak tetapi juga tokoh-tokoh anime, olahragawan, politisi, hingga patung-patung yang terkenal di negara-negara lain. Yang menarik adalah berpartisipasinya seniman Indonesia yang ikut berlaga di festival ini. Adalah Bambang Supriyanto, Sapto Hudoyo, dan Lilin Indriatmoko yang membuat patung bimasena yang dibentuk dari salju dan meraih juara ke lima best sclupture. Cukup membanggakan, karena disandingkan dengan puluhan patung lain dari berbagai negara.  Festival ini  juga menampilkan replika dari bangunan-bangunan bersejarah. Sungguh sangat menarik karena ukuran dari replika tersebut luar biasa besar.


Para wisatawan yang datang menggambarkan bahwa festival tersebut merubah Sapporo menjadi dunia es yang sangat indah, apalagi ditambah dengan lighting yang di gunakan sebagai pendukung dari setiap bangunan dan patung yang dipamerkan. Wisatawan lokal saja berlama-lama menyaksikan keajaiban dunia es tersebut, apalagi wisatawan yang berasal dari negara-negara di luar Jepang terutama mereka yang datang dari negara-negara tropis.

It was just amazing..

Advertisements