icha yang ini mau nulis thesis!

Sebenarnya sedang total panik.

Sebenarnya lagi clueless banget.

Sebenarnya lagi kurang tidur luar biasa.

Sebenarnya sedang kelaparan.

Tapi tapi, entah ada angin apa, saya yang ini memberanikan diri untuk mengajukan tema thesis. Walau dengan segala ke-dungu-an,  akhirnya berani untuk menghubungi sensei untuk berdiskusi untuk thesis saya. jyaaaa~ takuuuttt!!!!

Belum diapprove, tapi so far, saya dah berhasil mengconvince dia untuk mendukung saya dengan tema ini.. 😛

 

Sensei sebenarnya agak kaget dengan apa yang presentasikan, karena agak lebih “goyah” dari presentasi “motivasi” pada saat awal masuk Lab. Sensei agak khawatir dengan bagaimana saya mencapai goal. Topik yang saya angkat terlalu sensitif, tapi kalau saya berhasil menjalankan projectnya – akan menjadi sangat menarik. Tegang! Saya sempat down waktu mata sensei seakan berkata “Icha, kenapa kamu selalu memilih topik sensitif” hehehe! Ya, dulu di presentasi motivasi, saya pernah mempresentasikan sesuatu yang juga membuat sensei bilang “kamu yakin dengan topik ini? karena ini sangat sensitif dan biasanya data yang kamu dapat harus dirahasiakan. Jadi perlu effort lebih untuk lalu bisa mempublishnya sebagai bahan thesis.” Tapi entah bagaimana saat ini saya MAU mengerjakan ini. Mengerjakan sesuatu yang sangat ingin saya lakukan. Insyallah. Ingat posting mengenai mimpi, ego dan realita? Saya memutuskan untuk menggabungkan semuanya! Saya tau dalam hidup kita harus memilih, dan saya memilih untuk mengkolaborasikan mimpi saya untuk bisa melebur dengan ego dan menjadikannya realita!

Semoga semua pihak membantu saya.

Ya, untuk merealisasikan ini saya akan butuh banyak orang. Saya akan butuh banyak pihak untuk mendukung saya.

Teman, Icha yang ini mau nulis thesis. Mohon bantuan dan dukungannya ya.. 🙂 Insyallah, hasil dari edukasi ini akan berguna untuk banyak pihak.

Smangat smangat!!!

kasihan orang indonesia

Jepang telah di guncang gempa lebih dari 9 SR, disusul tsunami, lalu radiasi dari power plant nuklir yang terbakar. Mungkin karena kesigapan Jepang, dengan teknologi yang bisa dibilang canggih, maka semua kejadian itu bisa segera ditanggulangi. Tapi sebenernya ada faktor lain yang lebih penting dari sekedar teknologi itu, yaitu faktor mentalitas. Ketenangan dalam menghadapi bencana, nggak ada kecurangan ketika dalam keadaan panik sekalipun, gotong royong, ikhlas, dan yang paling penting nggak ada mental menyalahkan salah satu pihak. Media di Jepang juga mendukung penanaman mental baik terhadap masyarakatnya. Nggak ada berita yang sifatnya menakut-nakuti, walau misalnya ada hal yang di cover dalam suatu pemberitaan, tapi berita tersebut tetap mengusung prinsip edukasi dan “bukan sekedar mengejar rating”.

Kasihan orang Indonesia.

Kenapa saya bilang begitu?

Indonesia adalah negara yang memiliki masyarakat sangat Heterogen. Kalau boleh bicara agak keras, baik dalam hal ekonomi, pendidikan, pekerjaan dan hal-hal ini sangat berpengaruh terhadap pemahaman seseorang terhadap informasi yang mereka terima. Teringat betapa masyarakat Indonesia ikut terkena dampak panik ketika bencana di Jepang terjadi. Berita yang disampaikan oleh media di Indonesia, mohon maaf, tapi sangat tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Mungkin karena media di Indonesia adalah pihak ketiga atau malah ke sepuluh dari sumber asli berita, yang terjadi adalah efek “pelebay-an” yang sangat akut. Pasca bencana Jepang, saya bekerja volunteer di KBRI Tokyo, dan tantangan terberat adalah bukan menghadapi mereka yang terkena bencana langsung, tapi justru melayani warga Indonesia lain (baik di Jepang dan di Indonesia) yang termakan berita di Media. Saat itu berita yang paling akurat adalah berita yang disiarkan oleh NHK – Jepang dan sumber-sumber dari pemerintah jepang yang sayangnya disampaikan dalam bahasa Jepang. Dan karena border bahasa itu akhirnya terjadi pembiasan berita.

Saya sempat membandingkan pemberitaan NHK mengenai gempa Jepang dan pemberitaan media di Indonesia mengenai pemberitaan gempa Cilacap, yang waktu itu terjadi dalam waktu yang berdekatan. Berita gempa dari NHK, memberitakan live report, helikopter, dengan fokus pada suara dari reporter dan ambient suara dari helikopter, atau suara udara. Konten berita adalah peringatan atas gempa dan rujukan `what to do` kepada  masyarakat. Sedangkan berita gempa cilacap, di kemas dengan gambar peta cilacap dengan narasi dari pembawa berita (well normal) tapi dibumbui dengan lagu horor yang biasa muncul di sinetron-sinetron. Hm~.. well, saya sebetulnya kagum dengan kinerja teman-teman media yang berusaha keras memberitakan berita seakurat mungkin, mereka yang berusaha menginformasikan berita dengan info yang benar. Salut untuk mereka yang masih mengusung azas ini. Tapi kenapa lebih banyak media yang memilih untuk berazas “yang penting rating gw bagus”. hm..!

Ini semoga sebuah pandangan yang bisa membangun pihak media. Semoga media ikut membantu mentalitas masyarakat Indonesia, bukan hanya menakut-nakuti via berita yang mereka siarkan. Baru-baru ini ada informasi yang ditayangkan mengenai ancaman gempa 8,sekian skala richter dari perairan laut Jawa. Media sebaiknya membantu mengembangan awareness di masyarakat, bukan membuat masyarakat malah panik dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan (misalnya nimbun makanan, atau menaikkan harga karna panik takut bencananya datang jadi ambil untung duluan).. Yah, semoga semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.

Ini untuk jaga-jaga, bukan untuk menakut-nakutin. Ini berguna bukan hanya untuk menghadapi bencana alam tapi apapun kejadian yang membutuhkan kedaduratan (termasuk mungkin untuk kabur dari kejaran KPK.. hehehe~ no offense). Sedikit tips dari saya untuk membuat personal Emergency Bag (tas darurat). Yang isinya kira-kira :

  • Sikat gigi dan pastinya odolnya,
  • Daleman, (untuk wanita ditambah dengan pembalut, bila anak-anak mungkin diapers),
  • Handuk kecil,
  • Lampu senter dan beberapa batre cadangan,
  • Obat-obatan pribadi (biasanya obat sakit kepala, obat maag, anti masuk angin, plester dan obat luka, obat gosok)
  • Personal ID,
  • Daftar nama emergency contact,
  • Makanan kering yang tahan lama (mungkin crackers atau abon),
  • Air mineral,
  • Uang secukupnya (dalam pecahan kecil),
Well, minimal itu isinya, semuanya di kemas dalam satu ransel, dan usahakan agar si ransel bisa dikenakan saat lari. di luar tas ransel juga usahakan untuk memasang peluit yang di beri tali, seperti pramuka, dan label nama pemilik ransel. Ini jelas bukan rencana liburan ke luar negri, jadi nggak usah berharap untuk membawa semua harta benda. Dan karena ini tas darurat, maka sebaiknya dimiliki setiap individu yang ada dirumah. Dan jika ditaruh di rumah, kenapa juga tidak sekalian menyediakan helm bila suatu hari memang terjadi gempa. Tas Ransel ini juga sebaiknya di taruh di lokasi yang mudah di jangkau, misalnya jangan ditaruh di gudang dan ditumpuk dengan spare part motor .. hehe~.
Untuk tips gempa lainnya, insyallah semoga saya bisa menulisakannya di postingan selanjutnya.
Mohon maaf ya, kalau ada pihak yang tidak berkenan. Harapan saya sih semoga ini jadi pembelajaran untuk banyak pihak ya. Smangat!

new friend called tumblr

belakangan gw punya mainan baru, bukan melupakan dunia yg ini.. hanya karena di iphone ada aplikasinya, jadi lebih gampang kl pengen update2 gitu.. namanya tumblr. my another world..

layoutnya simple, seru aja dipake. emang sih, jadinya kayak kebanyakan mainan gitu.. blog, facebook, plurk, twitter.. well, sebenernya sedang mencoba coba aja – sekalian belajar media mana yang paling enak dipake. media mana yang secara design lebih mudah dimengerti, interface yang menarik, dll.. wajar dong? secara gw skolah di skolah media, mesti tau dan menilik si media media ini biar nggak ketinggalan tren media. but dun worry, temen cerita panjang lebar diantara media-media itu tetep this blog sepertinya.. 🙂

thank you buat temen-temen yang ikut baca blog ini, temen-temen yang ikut ngeramein blog ini, yang juga ikut sampe ngesearch blog ini di search engine, yang suka kasih ide via email, atau menkomen di postingannya.. thank you all!!!

april mop!

dsc09485

Chacha Lost In Nowhere..

Buku cerita anak sebenernya. Gw buat taun 2005 untuk tugas kampus mata kuliah ilustrasi. Entah kenapa tiba-tiba muncul pas gw nyari2 file. Pas bgt lagi april mop, brasa dapet kejutan dari si kompie.. 😛

Chacha Lost In Nowhere sendiri menceritakan tentang Chacha (yah emg narsis) yang sedang pergi ke taman hiburan dengan orang tuanya. Taman hiburan saat itu terlihat sangat mengagumkan bagi Chacha. Banyak tenda warna warni, lampu-lampu kelap-kelip dan berbagai macam hiasan dan suara canda tawa dan lagu-lagu yang mengundangnya untuk segera berkeliling.

Chacha ingin melihat ini itu – semuanya.. Orang tua Chacha menyuruh chacha untuk sabar sedikit. Tapi Chacha bandel dan lari dari pengawasan orang tuanya.

Chacha berlari melihat segala rupa yang ada disana. Mulai dari gula-gula, ikan mas, badut, hingga akhirnya Chacha tergoda oleh badut2 untuk masuk ke sebuah tenda yang berisi dunia fantasi yang lebih menarik lagi. Ada apakah didalamnya?

Perlahan Chacha masuk kedalam dan makin takjub dengan apa yang dilihatnya. Marry Go round, Bianglala, Jet Coaster dan banyak arena permainan lainnya. Chacha berputar-putar menaiki segala arena didalamnya hingga terbuai dan benar-benar melupakan orang tuanya.

Ketika ia sedang menikmati permainan-permainan itu tiba-tiba semuanya gelap.. Hilang tempat bermainnya, hilang pula kesenangannya.. berganti ruang kosong yang hampa..

dsc09495

Chacha ketakutan. Berlari Chacha kesana kemari mencari pertolongan tapi tidak satu orangpun dia temui. Hanya suara udara kosong, hentakan kaki  dan pantulan suaranya sendiri yang terdengar. Chacha terus berlari berharap ada cahaya terang yang membimbingnya keluar dari tempat itu. Chacha berusaha tegar menghadapi kepanikannya, namun ternyata dibelakangnya muncul sebuah mata besar yang menakutkannya. Chacha bingung dan ia pun tak kuasa menahan tangisnya..

Berteriaklah ia… “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……..”

dsc09497

Chacha terbangun..

Ternyata ia bermimpi. Chacha menangis sekeras-kerasnya. Ibundanya pun langsung menghampiri dan menghibur Chacha. Chacha menceritakan segala mimpinya dalam tangis.

“Chacha menyesal mama.. andai Chacha nggak nakal..” (kira-kira gitu dialognya)

Ibunda Chacha lgsg memeluknya dan mengusap kepala anaknya penuh sayang. Dengan halus iya mengingatkan Chacha untuk selalu mematuhi orang tuanya, tidak tamak dengan apa yang bisa didapatkannya dan ingat dengan lingkungannya. Dalam hati diyakininya ada pelajaran yang diterima Chacha secara tidak langsung yang akan selalu diingat dan tidak lagi dilanggar.

Hm..

Familiar kayanya.. oops…

Yah, ini emg crita anak yang gw karang sendiri. Tapi entah kenapa pas nyeritain ini lagi barusan gw merasa sangat nyambung dengan apa yang abis gw alamin di realita..

Nggak cuma gw – gw yakin, karna Chacha Lost In Nowhere ini juga ilustrasi sederhana dari kehidupan kita bukan? 😀 oops..