indonesia kita vol.1.. berhasil!!!!!! <3

  • 2011.12.11(Sun)<Tanggal 11, Desember>

    『Indonesia Kita!-インドネシア、キタ!-vol.1』

    ホームページ:http://indonesiakita.net/

    Place:Live House APIA40 (Gakugei-daigaku station)

    Time:open 13:00 start 13:30

    Ticket:¥2500+1drink /¥1500+1drink (Indonesian)

    Cast: Hiroaki KATO/加藤ひろあき

        Ari Sudarmanto (from Pulau Merah Cafe)

        Reisha Humaira

        Novriana Dewi

        Annisa Hara and more….

    ・Indonesian Music

    ・Indoensian language lesson

    ・Tari Piring(Minankabau Traditional Dance)

    ・DJ Time (Funkot, Slow Dangdut etc…)etc…

    主催: Hiroaki KATO / Isti Winayu

    協力:Nanae Hanawa(MC)/Pulau Merah Cafe (Musashi Koyama)

    <Ticket>

    『お名前』、『予約枚数』、『緊急連絡先』を明記の上、

    indonesiakita.info@gmail.com

    までメールをお送りください。


Alhamdulillah, acara indonesia kita vol. 1 kemarin berhasil diadakan. uhuuu~
Saya sih happy luar biasa, semoga temen-temen yang lain juga. 🙂

Hal amazing untuk saya. Event yang pastinya akan terus saya ingat. Berada bersama Hiro dan Bandnya dalam satu panggung, membawakan lagu-lagu Indonesia di Jepang dan bukan sekedar acara Indonesia karena ini sebuah gigs indie yang biasanya saya cuma jadi penonton dan sibuk mengagumi para entertainernya. Salut untuk semua performer, Reisha + Ade dengan tari piringnya, mas ari dan mas juggler yang saya lupa namanya, dan pastinya Hiro + Ohta san + Yo kun + Ikkun.. Untuk semua organizer juga Nanae + abe isti + Nao san + Miki + (syapa lagi ya??) pokoknya terima kasih!

Yang bikin  saya makin happy adalah animo dari pengunjungnya. Well, mostly fansnya Hiro, tapi seneng juga menghadapi kenyataan diakhir acara bahwa mereka menghampiri saya hanya untuk bilang “icha kawaii” (icha lucu).. hehehe~ bukan saya GR, tapi ya ya ya… gimana dong? :p

Cuman bisa bilang Alhamdulillah. semoga setidaknya lepas dari kesalahan saya di atas panggung kemarin, semua orang bisa terhibur.
Semoga ada kesempatan lain lagi untuk saya, dan semoga saya bisa lebih baik lagi. 🙂

Yang belum sempat hadir, semoga lain kali bisa ikut gabung di Indonesia kita vol.2 dan event lainnya lagi.. 🙂

 

yay!

 

Advertisements

para pejuang petarung cancer

Cancer itu seperti bom waktu.. dan lebih parahnya, belum ada gegana yang benar benar bisa menonaktifkan timer-nya.

Saya sangat takjub pada kisah-kisah para”pejuang” yang terus bersemangat “melawan” sesuatu yang terlalu lincah ini. Melawan artinya bukan hanya mondar mandir masuk rumah sakit minta oprasi atau transplantasi, atau minta di “sinar”, melawan bagi saya berarti mau berjuang untuk hidup normal, tanpa minta dikasihani, dan berbuat maksimal untuk dirinya, keluarganya dan lingkungannya.

Hari ini seorang designer, innovator, inventor kelas dunia, Mr. Steve Jobs akhirnya harus takluk dengan kekuatan cel ganas ini. Bukan menakut-nakuti, karena toh setiap insan di dunia ini nantinya pasti akan kembali kepadaNya. Ketika hari ini saya bangun pagi (yang kesiangan) lalu mendengar berita itu dan sentak saya menangis, saya tidak merasa diri saya berlebihan. Saya benar benar merasa sedih karena saya kehilangan role model lagi, seseorang “pejuang” yang begitu inspiratif dan pastinya banyak orang yang juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Lahir dari keluarga yang memiliki bakat “cel itu” bukan hal yang mudah. Memang saat ini saya alhamdulillah dalam keadaan sehat, dan insyallah saya terus sehat. Tapi kita nggak pernah tau bagaimana takdir kita kedepannya. Saya berharap saya nggak akan pernah masuk dalam list daftar pejuang itu. Saya cukup perih walau hanya menjadi saksi kehidupan seorang pejuang – selama 6 tahun, yang akhirnya juga harus mengakui bahwa dirinya kalah dalam pertarungan itu.

Ketika awalnya seseorang ditakdirkan untuk menjadi pejuang, artinya dirinya harus siap maju ke pertempuran. Mereka harus siap untuk mengahadapi hal terburuk, dan pada saat inilah – mereka sangat butuh pasokan senjata dan perisai. Mereka membutuhkan dukungan, doa dan positivity dari lingkungannya. Ketika akhirnya mereka sudah bisa berdiri tegap, saat itu lah mereka siap bertarung. Kekuatan mental adalah hal yang paling penting untuk mereka miliki. Setidaknya itu yang saya saksikan dari Ayah saya. Saat dirinya sudah tau rasa sakitnya, yang ditakutkan bukan lagi sebagai mana dirinya akan “habis” di makan si sel jahat, tapi yang ditakutkan adalah bagaimana lingkungannya nanti setelah dia pergi. Itu yang memilukan. Saya tau saat itu beliau merasa sangat tertekan dengan keberadaan bom waktu di dalam tubuhnya, saya yakin begitu juga dengan para pejuang lainnya. Makanya saya sangat takjub dengan para pejuang yang melupakan rasa takutnya dan menggantinya dengan mengkontribusikan bagian dirinya yang lain untuk orang lainnya.

Semoga pertarungan Mr. Steve Jobs menjadi satu kisah yang bisa diambil positifnya. Untuk saya pribadi, sebagai orang yang hanya bisa mengenal dia dari produk dan videonya di youtube, saya sangat berimpresi dengan ke-humble-an dan something yang selalu out of the box. 🙂 Dan satu hal yang pentingnya luar biasa adalah,

ketika seseorang yang dalam keadaan “tidak sempurna” berusaha memberikan sesuatu yang melebihi kapasitasnya, kenapa kita yang masih bisa bernafas normal tidak bisa berkontribusi lebih lagi?

Kalau saat ini di SNS banyak yang memberi pendapat pro kontra mengenai pejuang yang satu ini, saya rasa itu wajar, karena no body is perfect dan nggak semua orang sempurna di mata orang lainnya. Semoga sih, setiap orang bisa melihat dari sisi positifnya dulu. Tapi gimanapun pejuang ini baru saja gugur. Selayaknya kita memberikan “respek” untuknya. 🙂

From deep inside my heart.. Mr.Steve Jobs,  thank you for your contributions. you’ll be missed! ♥

ps : I love you even more, Dad (RIP).. Thank you for being a good role model for me. i miss you.. ♥♥

 

 

love from Indonesia to Japan

I am so happy..

I really never realized it before..

My video “tsuru” been replied with a video from Japan “To Indonesia”. And tonight, i answer their video with “circle”..

Please check out the videos!

“Tsuru”

 

“To Indonesia”

 

“Circle”

icha yang ini mau nulis thesis!

Sebenarnya sedang total panik.

Sebenarnya lagi clueless banget.

Sebenarnya lagi kurang tidur luar biasa.

Sebenarnya sedang kelaparan.

Tapi tapi, entah ada angin apa, saya yang ini memberanikan diri untuk mengajukan tema thesis. Walau dengan segala ke-dungu-an,  akhirnya berani untuk menghubungi sensei untuk berdiskusi untuk thesis saya. jyaaaa~ takuuuttt!!!!

Belum diapprove, tapi so far, saya dah berhasil mengconvince dia untuk mendukung saya dengan tema ini.. 😛

 

Sensei sebenarnya agak kaget dengan apa yang presentasikan, karena agak lebih “goyah” dari presentasi “motivasi” pada saat awal masuk Lab. Sensei agak khawatir dengan bagaimana saya mencapai goal. Topik yang saya angkat terlalu sensitif, tapi kalau saya berhasil menjalankan projectnya – akan menjadi sangat menarik. Tegang! Saya sempat down waktu mata sensei seakan berkata “Icha, kenapa kamu selalu memilih topik sensitif” hehehe! Ya, dulu di presentasi motivasi, saya pernah mempresentasikan sesuatu yang juga membuat sensei bilang “kamu yakin dengan topik ini? karena ini sangat sensitif dan biasanya data yang kamu dapat harus dirahasiakan. Jadi perlu effort lebih untuk lalu bisa mempublishnya sebagai bahan thesis.” Tapi entah bagaimana saat ini saya MAU mengerjakan ini. Mengerjakan sesuatu yang sangat ingin saya lakukan. Insyallah. Ingat posting mengenai mimpi, ego dan realita? Saya memutuskan untuk menggabungkan semuanya! Saya tau dalam hidup kita harus memilih, dan saya memilih untuk mengkolaborasikan mimpi saya untuk bisa melebur dengan ego dan menjadikannya realita!

Semoga semua pihak membantu saya.

Ya, untuk merealisasikan ini saya akan butuh banyak orang. Saya akan butuh banyak pihak untuk mendukung saya.

Teman, Icha yang ini mau nulis thesis. Mohon bantuan dan dukungannya ya.. 🙂 Insyallah, hasil dari edukasi ini akan berguna untuk banyak pihak.

Smangat smangat!!!

kasihan orang indonesia

Jepang telah di guncang gempa lebih dari 9 SR, disusul tsunami, lalu radiasi dari power plant nuklir yang terbakar. Mungkin karena kesigapan Jepang, dengan teknologi yang bisa dibilang canggih, maka semua kejadian itu bisa segera ditanggulangi. Tapi sebenernya ada faktor lain yang lebih penting dari sekedar teknologi itu, yaitu faktor mentalitas. Ketenangan dalam menghadapi bencana, nggak ada kecurangan ketika dalam keadaan panik sekalipun, gotong royong, ikhlas, dan yang paling penting nggak ada mental menyalahkan salah satu pihak. Media di Jepang juga mendukung penanaman mental baik terhadap masyarakatnya. Nggak ada berita yang sifatnya menakut-nakuti, walau misalnya ada hal yang di cover dalam suatu pemberitaan, tapi berita tersebut tetap mengusung prinsip edukasi dan “bukan sekedar mengejar rating”.

Kasihan orang Indonesia.

Kenapa saya bilang begitu?

Indonesia adalah negara yang memiliki masyarakat sangat Heterogen. Kalau boleh bicara agak keras, baik dalam hal ekonomi, pendidikan, pekerjaan dan hal-hal ini sangat berpengaruh terhadap pemahaman seseorang terhadap informasi yang mereka terima. Teringat betapa masyarakat Indonesia ikut terkena dampak panik ketika bencana di Jepang terjadi. Berita yang disampaikan oleh media di Indonesia, mohon maaf, tapi sangat tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Mungkin karena media di Indonesia adalah pihak ketiga atau malah ke sepuluh dari sumber asli berita, yang terjadi adalah efek “pelebay-an” yang sangat akut. Pasca bencana Jepang, saya bekerja volunteer di KBRI Tokyo, dan tantangan terberat adalah bukan menghadapi mereka yang terkena bencana langsung, tapi justru melayani warga Indonesia lain (baik di Jepang dan di Indonesia) yang termakan berita di Media. Saat itu berita yang paling akurat adalah berita yang disiarkan oleh NHK – Jepang dan sumber-sumber dari pemerintah jepang yang sayangnya disampaikan dalam bahasa Jepang. Dan karena border bahasa itu akhirnya terjadi pembiasan berita.

Saya sempat membandingkan pemberitaan NHK mengenai gempa Jepang dan pemberitaan media di Indonesia mengenai pemberitaan gempa Cilacap, yang waktu itu terjadi dalam waktu yang berdekatan. Berita gempa dari NHK, memberitakan live report, helikopter, dengan fokus pada suara dari reporter dan ambient suara dari helikopter, atau suara udara. Konten berita adalah peringatan atas gempa dan rujukan `what to do` kepada  masyarakat. Sedangkan berita gempa cilacap, di kemas dengan gambar peta cilacap dengan narasi dari pembawa berita (well normal) tapi dibumbui dengan lagu horor yang biasa muncul di sinetron-sinetron. Hm~.. well, saya sebetulnya kagum dengan kinerja teman-teman media yang berusaha keras memberitakan berita seakurat mungkin, mereka yang berusaha menginformasikan berita dengan info yang benar. Salut untuk mereka yang masih mengusung azas ini. Tapi kenapa lebih banyak media yang memilih untuk berazas “yang penting rating gw bagus”. hm..!

Ini semoga sebuah pandangan yang bisa membangun pihak media. Semoga media ikut membantu mentalitas masyarakat Indonesia, bukan hanya menakut-nakuti via berita yang mereka siarkan. Baru-baru ini ada informasi yang ditayangkan mengenai ancaman gempa 8,sekian skala richter dari perairan laut Jawa. Media sebaiknya membantu mengembangan awareness di masyarakat, bukan membuat masyarakat malah panik dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan (misalnya nimbun makanan, atau menaikkan harga karna panik takut bencananya datang jadi ambil untung duluan).. Yah, semoga semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.

Ini untuk jaga-jaga, bukan untuk menakut-nakutin. Ini berguna bukan hanya untuk menghadapi bencana alam tapi apapun kejadian yang membutuhkan kedaduratan (termasuk mungkin untuk kabur dari kejaran KPK.. hehehe~ no offense). Sedikit tips dari saya untuk membuat personal Emergency Bag (tas darurat). Yang isinya kira-kira :

  • Sikat gigi dan pastinya odolnya,
  • Daleman, (untuk wanita ditambah dengan pembalut, bila anak-anak mungkin diapers),
  • Handuk kecil,
  • Lampu senter dan beberapa batre cadangan,
  • Obat-obatan pribadi (biasanya obat sakit kepala, obat maag, anti masuk angin, plester dan obat luka, obat gosok)
  • Personal ID,
  • Daftar nama emergency contact,
  • Makanan kering yang tahan lama (mungkin crackers atau abon),
  • Air mineral,
  • Uang secukupnya (dalam pecahan kecil),
Well, minimal itu isinya, semuanya di kemas dalam satu ransel, dan usahakan agar si ransel bisa dikenakan saat lari. di luar tas ransel juga usahakan untuk memasang peluit yang di beri tali, seperti pramuka, dan label nama pemilik ransel. Ini jelas bukan rencana liburan ke luar negri, jadi nggak usah berharap untuk membawa semua harta benda. Dan karena ini tas darurat, maka sebaiknya dimiliki setiap individu yang ada dirumah. Dan jika ditaruh di rumah, kenapa juga tidak sekalian menyediakan helm bila suatu hari memang terjadi gempa. Tas Ransel ini juga sebaiknya di taruh di lokasi yang mudah di jangkau, misalnya jangan ditaruh di gudang dan ditumpuk dengan spare part motor .. hehe~.
Untuk tips gempa lainnya, insyallah semoga saya bisa menulisakannya di postingan selanjutnya.
Mohon maaf ya, kalau ada pihak yang tidak berkenan. Harapan saya sih semoga ini jadi pembelajaran untuk banyak pihak ya. Smangat!

new friend called tumblr

belakangan gw punya mainan baru, bukan melupakan dunia yg ini.. hanya karena di iphone ada aplikasinya, jadi lebih gampang kl pengen update2 gitu.. namanya tumblr. my another world..

layoutnya simple, seru aja dipake. emang sih, jadinya kayak kebanyakan mainan gitu.. blog, facebook, plurk, twitter.. well, sebenernya sedang mencoba coba aja – sekalian belajar media mana yang paling enak dipake. media mana yang secara design lebih mudah dimengerti, interface yang menarik, dll.. wajar dong? secara gw skolah di skolah media, mesti tau dan menilik si media media ini biar nggak ketinggalan tren media. but dun worry, temen cerita panjang lebar diantara media-media itu tetep this blog sepertinya.. 🙂

thank you buat temen-temen yang ikut baca blog ini, temen-temen yang ikut ngeramein blog ini, yang juga ikut sampe ngesearch blog ini di search engine, yang suka kasih ide via email, atau menkomen di postingannya.. thank you all!!!

pray for Japan

Executive Producer | Muhammad Lutfi, Fithra Faisal, Widyanto Dwi Nugroho
Producer | Annisa ‘chazky’ Hara
Director | Annisa ‘chazky’ Hara
Asistant director | Najwa
Story | PPI Jepang – sencho gorimacho production
Story boarder | Rianti Hidayat
Camera person | Mahardian Rahmadi, Widiyanto Dwi Nugroho, Reza Aryaditya
Editor | Annisa ‘chazky’ Hara
Art and talent advisory | Rianti Hidayat, Agyl Fajar Rizky
Logistic | Riskina Juwita, Hendika Rahmadi, Riski Anggri Wirawan
General affair | Fatahuddin
Data compiler | Ardhi Fachrudin Noor
Media | Farid Triawan, Angga Wirastomo
Talent | Muhammad Lutfi, Miya chan, Khaidar kun
——
Thanks to Allah SWT, our parents and this dedicated to all people in Japan..

Nuklir Fukushima yang katanya level 7

Ini saya ambil dari note FB -nya mas mahardian, salah satu tim PPI untuk KBRI Tokyo bagian Lingkungan, yang diambil dari emailnya mas Sidiq, salah satu nuclear boys KBRI Tokyo…

——————————————————–

Saya mencoba kutip email dari Dr. Eng. Sidik Permana, beliau adalah salah seorang senior PPIJ dan saat ini menjadi anggota tim nuklir KBRI Tokyo, berikut paparannya:

 

 

Dear Mas Jon dan Rekans PPIJ ers

 

Saya coba bantu menjelaskan berita terkini.

Seperti yang telah saya posting beberapa minggu yang lalu, terkait skala

INES,

Skala INES ini adalah suatu evaluasi dengan standar evaluasi international

dari sebuah peristiwa atau kejadian di sebuah fasilitas nuklir baik

pembangkit, fuel fabrication, reprocessing, dan lainnya, terkait aplikasi

energi nuklir dan radiasi.

Evaluasi ini ditentukan beberapa aspek dari kejadian itu berdasarkan

seberapa parah damage core reactor yang ada, korban jiwa, radiasi yang

dikeluarkan.

Sifat evaluasi sekarang masih bisa berubah, dan bisa jadi setelah selesai

semua penanganan fukushima daiichi ini akan dievaluasi lagi. Ya semacam test

kesehatan ditubuh fukushima daiichi ini apakah penyakitnya sudah stadium

berapa begitu. Ini mengacu pada lokasi difasilitas PLTN, karena lokasi

disana radiasi cukup tinggi. Dan akan semakin kecil dengan jarak, waktu dan

perlingdungan.

 

Proteksi radiasi sederhana ada 3 komponen

1. Waktu, semakin lama akan berkurang tingak radiasinya, namun kita bisa

mengestimasi berapa lama radiasi itu mengena terhadap kita. Semakin sedikit

kita terkena radiasi akan semakin sedikir kita terpapar.

2. Jarak : Semakin jauh kita berada semakin sedikit radiasi akan kita

terima, tentunya untuk partikel radioaktif akan bergantung pula dengan arah

angindan kecepatan. Tapi dilihat dari daerah evakuasi, memang radius dibawah

20 tergolong harus dievakuasi dan juga beberapa daerah tambahan di 4-5 desa

di arah utara.

3. Pelindung : Radiasi paparan langsung kekulit akan terkurangi paling tidak

dengan baju kita. Kemudian kalau kita bekerja dan atau tinggal didalam

gedung/rumah maka kita tidak terkena paparan radiasi, yang artinya

peklidnung kita adalah rumah.

 

Fukushima daiichi

Dalam kejadian ini dievaluasi dari semenjak kejadian sampai hari ini,

akumulatif radiasi yang dipancarkan dari fasilitas 4 unit reaktor fukushima

daiichi tersebut serupa atau menyamai dengan level 7 dimana radiasi dari

radioaktif release I-131 diperkirakan terpancar dan secara akumulatif sampai

saat ini selevel dengan radioaktive release di level 7.

Berbeda dengan cernobyl dimana korban, radiaktif release, damage core dan

lainnya sudah sangat tinggi meskipun masuk ke level 7.

Untuk kasus fukushima daiichi dari komponen radioaktif release secara

akumulatif masuk ke levl 7, dari korban jiwa dan komponen lainnya masih

kemungkinan di level 5.

Laporan resmi komisi menyebutkan level 7 disebut karena akumulatif

radioaktif release sampai hari ini.

 

Apa impactnya penaikan Level ke 7.

Impact terhadap hasil evaluasi dari kasus krisis fukushima, memberikan

penilaian bahwa kecelakaan nuklir di jepang terburuk dalam sejarah jepang

dan satu level dengan level cernobyl dengan estimasi kriteria yang diberikan

diatas.

Efek langsung ke kita, tidak ada.

Yang ada adalah efek radiasi sisa dari yang direlase kemarin dan dibeberapa

daerah sudah kembali normal.

 

Kondisi radiasi

Sampai saat ini dibeberapa lokasi di kanto area termasuk tokyo sudah

memasuki level radiasi alaminya, di ibaraki masih lebih tinggi dari tokyo

dan sekitarnya, tapi cenderung mendekati 0.1 microSv.

Didaerah lebih jauh ke selatan dan barat jepang, sudah normal dan memang

efek radiasinya sangat kecil sehingga sudah lama radiasinya sudah dilevel

normal. hanya di daerah evakuasi anatar radisu 20 KM dan beberaoa daerah

tambahan perluasan evakuasi yang mendapat dosis radiasi yang lewat batas,

sehingga perlu dievakuasi. untuk area 20-30 KM disarankan diam dirumah untuk

menghindari paparan langsung radiasi. Diluar daerah itu, radiasinya relative

masih jauh dari membahayakan walaupun lebih tinggi dari radiasi alaminya.

DAn kecenderungannya terus menurun.

 

Lebih jelasnya:

InsyaAllah akan ada pembahasan ini di radio online besok.

Tunggu tanggal mainnya.

 

Mudah2an bisa membantu

Wassalam

 

Dr. Eng. Sidik Permana

(anggota tim ahli nuklir KBRI tokyo)

 

hari ke-sebelas

11 hari dan 10 hari untuk saya

Hari ini memasuki hari ke sebelas pasca gempa – tsunami di Miyagi. Saya yang sejak hari ke 2 sudah memvolunteer-kan diri di kedutaan, sudah seperti hatam dengan flow kerja crisis center disini. Tinggal di gedung kantor kedutaan selama 10 hari; makan, tidur, mandi, ngobrol semuanya dilakukan disini. Mungkin juga ini hari ke 10 saya nggak punya cukup waktu untuk tidur dan melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri. Selama itu juga saya tiba-tiba tidak merasa berada di Jepang. Saya sudah merasa dirumah. Walo ber-volunteer seperti ini, tapi sungguh nikmat sekali bisa berbicara bahasa Indonesia dengan joke-joke Indonesia yang sudah rindu sekali saya dengar.. 🙂

10 hari bekerja di call center, membuat saya ‘nge-blend’ dengan kondisi dan situasinya. Setiap hari menerima telpon, mendengar curahan hati orang yang kehilangan keluarga, suara2 putus asa akibat tak bisa menghubungi sanak saudara atau kerabat. Well, mungkin itu juga perasaan yang dirasakan keluarga ketika saya sibuk dan tak sempat menghubungi mereka karena terlalu sibuk.. (maaf bunda, adik2ku sayang, keluarga, temen2, otto juga)..  Tapi tapi tapi, mungkin karena itu ya, saya kini ber – empati dengan kasus kasusnya, jadi rasanya tergerak banget untuk terus membantu proses pencarian ini. Hari demi hari, laporan orang hilang makin bertambah, sedih rasanya ketika telpon hotline kami berdering. Telpon berdering artinya laporan orang hilang. Ya Allah, semoga mereka ini baik-baik saja. Tapi kita disini juga sangat bahagia, ketika kita mencoba mencari via telpon, lalu telponnya di jawab oleh si pemilik telpon dan menyatakan mereka baik-baik saja. Apa yang lebih membuat kami berbahagia adalah ketika kami bisa menemukan dan mengevakuasi para korban yang terkena dampak langsung gempa tsunami di Miyagi dan radiasi nuklir di Fukushima. Melihat mereka secara langsung, melihat mereka masih sehat dan masih bisa tersenyum membuat saya bangga bisa berada di posisi ini.

Beban untuk saya, bukan hanya saya tapi kami

Tantangan terberat yang kami hadapi adalah pemberitaan di media masa yang sangat berlebihan. Terutama di negri sendiri. Kami yang harus bertugas dengan kepala dingin dan ketenangan harus kerap kali menahan tangis ketika kami sendiri mendapat telpon dari keluarga kami di Indonesia dan kepanikan dengan berlebihan karena telah menyimak berita dalam negri yang menyiarkan berita tidak sesuai porsinya terutama mengenai radioaktif. Sangat umum kami mendengar rekan kami sendiri harus berjuang mati-matian untuk meyakinkan keluarganya agar bisa tetap bertahan hidup di Jepang. Saat itu pula kami harus mengangkat telpon dan mengubah getar suara kami agar tetap tenang, dan menenangkan para penelpon yang kepanikan baik mencari keluarga, maupun panik karena ancaman radioaktif dari plant nuklir yang sebenarnya tidak perlu di khawatirkan sebegitunya.

Kami saat itu, para volunteer yang berada di crisis center, kami yang semuanya merupakan mahasiswa, sangat kecewa dengan pemberitaan media. Kami sempat emosi karena pemberitaan yang semakin mengganggu. Saat itu, mereka bukan menjual berita. Mereka hanya memikirkan cara mendapat banyak respon dan rating. Mereka tidak bisa memilah fakta yang mereka dapat dan memaparkannya dengan benar. Saat itu, semua pemberitaan yang seharusnya menjadi sumber informasi saya rasa hanya berujung sebagai dilema bagi masyarakat – mungkin hampir di seluruh dunia. Payah!

Alhamdulillah, surat yang dikirimkan oleh persatuan pelajar Indonesia – Jepang atas nama mas Fithra didengar juga oleh media. Dan sejak itu pemberitaan pun berubah lebih terarah dan lebih baik.

Evakuasi

Suatu hari tim crisis center kami harus melakukan evakuasi terhadap keluarga-keluarga yang berada di Fukushima. Saat itu keadaanya sangat mencengangkan. Power plant nuklir sedang pada posisi teratas tingkat bahaya. Ketika semua orang mencoba melarikan diri dari daerah situ – dan bahkan tokyo dan sekitarnya, tim kami malah masuk mendekati daerah situ untuk melakukan penjemputan. Dengan berbagai aturan, misi ini dijalankan. Tim lapangan tidak punya banyak waktu. karena ada limit tertentu, bahwa manusia bisa berada di daerah terradiasi begitu. Kami di call center saat itu menjadi penengah – komunikasi antara pihak penjemput dan korban. Kondisinya sangat  menegangkan. Berpacu dengan waktu. Namun Alhamdulillah kami berhasil menyelamatkan 16 orang dalam hari itu, dan 9 diantaranya adalah anak-anak. Kami semua berteriak bahagia ketika mendapat kabar bahwa penjemputan berhasil, dan mobil evakuasi kembali ke Tokyo. Luar biasa! yang terpikir dikepala saya saat itu adalah :

“kalau pemberitaan di media benar, bahwa radiasi nuklir sudah sangat mengkhawatirkan, dan saya harus menjadi korbannya, saya tidak akan menyesal, saya akan sangat berbangga karena saya ada bersama mereka yang berjuang menyelamatkan orang lainnya, dan untuk saya, terutama karena akan ada 9 anak kecil yang terselamatkan. Jadi apalah artinya pengorbanan  ‘satu saya’ kalau di masa depan akan ada 9 anak yang mungkin akan tumbuh besar jauh lebih baik dari saya.. 🙂

Terharu ketika kami menerima sms, email, atau pesan-pesan terima kasih dan penyemangat. Saya terkadang juga mendapatkannya di email, akun SNS atau Handphone pribadi saya. Well, semua bukan untuk saya, tapi tim hebat tempat saya berada..

Mungkin teman-teman volunteer lainnya punya pendapat berbeda tentang alasan mereka berjuang di crisis center ini. Tapi Insyallah, apapun tujuan mereka, tujuan saya, semoga Allah membalas niat baik kami dengan mendengar doa yang selama ini kami panjatkan, untuk menyelamatkan kita semua. amin.

dream.. catch it if you can!

Seorang anak perempuan, kira-kira usianya 8 tahun, tertegun di depan tv. Ia sedang bersama saudara-saudaranya menonton bagaimana seekor T-rex sedang mengejar sekelompok manusia yang terjebak di Jurassic Park. Anak itu tak berkedip, gerakannya melambat tak terusik. Tak ada satu adegan pun yang ingin ia lewatkan. Ia tau bahwa dinosaurus sudah lama punah, karena itulah dia takjub bagaimana sebuah film yang diputar dengan laser disk itu bisa begitu nyata menggambarkan hewan-hewan purba hidup seperti hewan lain di kebun binatang.

Konsentrasinya masih belum bisa terusik sampai ia menemukan sebuah nama ‘Steven Spielberg’. Saat itu, dia bahkan tak tau apa itu ‘Director’. Tapi nama itu sangat menancap di kepalanya. Di tulisnya di diary bahwa kelak ia akan menjadi seperti Steven Spielberg. Hingga beberapa tahun setiap kali ia harus mengisi buku biodata di buku temannya, dia akan menjawab bahwa cita-citanya adalah menjadi Steven Spielberg, dan tentu saja teman-temannya akan complain karena apalah arti nama Steven Spielberg. Tapi saat itu cita-cita hanya berarti cita-cita. Bagaimana bisa seorang perempuan dari desa, yang bertemu teknologi saja sulit bisa menjadi seorang Spielberg.

Tahun 2001, usinya sekitar 16 tahun. Ia berlibur ke Jakarta. Namun semua kegiatannya berhenti ketika ia melihat sebuah peperangan antara tentara Jerman dan Amerika. Sebuah film seri yang diputar seharian via HBO menarik hatinya. Sebuah peperangan yang di reka ulang namun terlihat begitu hidup. Warna yang luar biasa, gerak kamera yang membuat film itu begitu nyata. Ia jatuh cinta. Dan diakhir episode, nama itu keluar lagi ; ‘Steven Spielberg’, dan kali ini berkolaborasi dengan beberapa produser besar seperti Tom Hanks. Dari situ mimpinya terbangun lagi. ‘I want to be like him’..

Tahun demi tahun berlalu. Kesempatannya untuk mempelajari videografi semakin banyak. Mulai dari kuliahnya, hingga terbawa di pekerjaannya. Dunia yang ia senangi. Dunia dibalik lensa, sebuah dunia yang memang masih sangat jauh dari ‘Spielberg’ tapi membuatnya merasa dekat. Dunia yang memberinya kebanggaan dan kebahagiaan untuk ada didalamnya, namun juga tidak berarti semua orang mendukungnya hingga akhirnya perlahan dia lepas. Tidak 100% lepas, karena beberapa orang mengetahui kemampuannya dan terkadang membuatnya terjun masuk ke dunia itu lagi walau hanya untuk membantu.

Kali ini Ia sedang melanjutkan studinya. Setelah sekian lama ia mulai melupakan cita-citanya, ia kembali menemukan dunia itu. Kembali menemukan suatu komunitas yang memiliki visi sama, bukan menjadi Spielberg, tapi mereka-mereka yang juga mencintai dunia dibalik lensa. Namun ia kini bingung. Haruskah ia kembali mengejar cita-citanya, atau tetap berada di jalur realita belajar untuk menjadi misionaris sosial dan mengejar karir baik demi masa depan ideal.

 

Kemana kaki harus dilangkahkan? Usia yang kini tidak lagi muda membuatnya harus berfikir keras untuk ini. Ia bukan lagi anak kecil yang bisa dengan mudah memilih sebuah cita-cita.

but yeah! dream.. catch it if you can!