ruma maida :: tentang cinta, perjuangan dan sejarah

Lama banget saya nggak mampir ke lapaknya kang Denny. Biasanya sebulan sekali saya pasti mampir kesana buat nonton film-film Indonesia. Tapi karena belakangan film yang mangkal disana nggak jauh-jauh dari yang melayang dan ngesot-ngesot, ato engga tante tante girang, jadi males juga nontonnya,, hehe.  Malem ini tadi, sambil nunggu sahur, saya iseng lagi mampir, ya barangkali kang Denny punya sesuatu yang menarik. Dan betul aja, ada sebuah film yang menarik hati saya. Selain karena sinopsisnya, tapi juga karena yang main orang-orang yang saya kagumin, Wulan Guritno dan Atiqah Hasiholan. Saya tau mereka-mereka ini nggak main film sembarangan. Judulnya Ruma Maida. Sinopsisnya bisa dilihat di webnya kang Denny atau di web filmnya.

Film ini secara general bagus. Ceritanya juga menarik. Gabungin kisah reformasi 1998, Jaman belanda, Jaman Jepang, pasca Reformasi, masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial. Dialognya saya suka sekali. Apalagi waktu Sakera (Tokoh laki-laki utama) dan Maida debat soal masalah sosial. Ringan, tapi dapet! nggak ringan juga sih, berbobot tapi nggak keberatan. Sebenernya bertanya-tanya sih, ini kisah nyata apa fiksi ya? Apa segitunya ya? atau kombinasi? Jadi inget banget ambisi seorang sahabat saya, Odiq, yang pingin banget bikin Fiksi – History kisah cinta 1920 kampus Ganesha. Saya juga pernah mikir untuk bikin kisah fiksi history soal tentara Jepang yang memutuskan buat menetap di Indonesia. Tapi kayaknya dasar ilmu dan observasi data nya blm bisa nyampe taraf bikin cerita sejarah.. heheheu..

Balik ke ruma maida. Saya kagum sama sineas yang berani untuk ambil langkah bikin film begini. Ngangkat sejarah, ngangkat nilai sosial ada juga love storynya. Kritis dan harusnya sih bisa bikin penontonnya bisa memiliki kesadaran sosial. Tapi sesuka-sukanya saya dengan film ini, saya juga punya beberapa kritikan. Film bagus, bukan berarti luput dari kitisisasi ya kan? Mohon maaf untuk sineas dan pihak yang bersangkutan. Anggaplah saya orang yang awam, tapi ingin memberi pendapat sedikiiit aja. Semoga bisa jadi kritik membangun kedepannya.

Pertama soal Jalan cerita. Asik banget, ceritanya loncat kesana kemari. Alurnya maju mundur, kemunduran, kemajuan. Keren banget bisa mikir begini. Sayangnya adegan-adegan itu kurang detil. Make up dan properti misalnya. Wulan Guritno yang memerankan Berta, tahun 1943 dan 1920 make up dan kostumnya sama. Sama juga dengan pemeran bung karno, tampak sama persis. Kalau di filmnya nggak ada keterangan tahun, pasti yang nonton bingung. Masalahnya tokoh pembandingnya adalah Ishak pahing yang mungkin berumur 7 tahun pada tahun 1920 dan beranjak dewasa jadi mas mas ganteng sekitar 27 tahun pada tahun 194o-an. Ya masa iya orang disekitarnya nggak ikutan Aging?

Kedua soal dialog dan gestur. Di film ini banyak aktor bagus, tapi minim bicara, atau bicara dan gesture-nya kurang menegaskan karakter yang dimainkan. Sayang banget! Sebenernya saya sih udah puas dengan dialog Sakera – Maida, atau Bung karno, tapi sayang bgt karakter yang lainnya kurang dimainkan padahal ekspektasi saya tinggi waktu lihat nama Wulan Guritno main disitu. Terus lagi, Pak Kolonel Maruyama suka ber-gestur nggak jelas. Atau karena skrip nya ya? Jujur saya bingung dengan karakter dia. Jadi dia itu orangnya gimana ya? Jahat? Baik? Kayaknya dia punya karakter kayak Profesor Snape di Harry Potter. tapi kurang kena euy. Maaf ya.. Apalagi soal dialog pak Maruyama ini waktu mukulin Ishak Pahing.. hehehe~ kl yang ngerti bahasa Jepang, daripada iba – pasti malah jadi ketawa. Perannya Davina juga tanggung, dikiiit lagi, mungkin ditambah dialog yang kontras, agak sinis mungkin?? Dan lainnya yang juga tanggung. Istrinya Ishak Pahing juga bikin bingung penokohannya. Bung Hatta pun nggak seperti sedang berdebat dengan pak Karno, karena gestur tak sampai dialogpun tak ada.

Ketiga soal cerita. Ih, beneran deh, saya admire bgt ceritanya. Hanya saya ada yang kurang ngerti. (dengan nggak urut) Waktu Ishak Pahing di ambil tentara Jepang, pak Karno kan ada di tempat kejadian. Terus dia kemana? emang rumah itu nggak dijaga ajudan? Dan abis Ishak Pahik di ambil Jepang, terus siapa yang dobrak masuk rumah, perkosa dan membunuh keluarganya Ishak Pahing? Jepang kah? lebih keliatan kayak orang sipil, dan lagi kan tadinya ada pak Karno disitu?! kok?? Hm.. Kalau diperkosa pun, nggak seperti diperkosa. Dibunuh pun nggak seperti dibunuh.. (???)

Gw suka banget adegan Bunker. Dari pas Sakera – Maida cerita tentang kisah di tembok, sampai mereka nemu dokumen di dalem bunker. Propertinya oke! Adegan lainnya yang bikin bingung adalah, sebenernya lebih ke alur cerita, entah saya yang nggak teliti atau bingung beneran, tapi mana yang lebih dulu Ishak Pahing minta biola pas lihat WR. Supratman di Sumpah Pemuda, atau Ishak Pahing udah punya biola pas dikenalin pertama kali ke Bung Karno dan disuruh main bareng WR. Supratman? ini ambigu apa bloopers ya? atau saya ada yang kelewat? mohon kalau ada yang nonton saya diberi tau, siapa tau saya salah.

Empat soal sosial. hm.. It’s just a question..  Yang ini, mohon maaaaf sekali, sama sekali nggak ada maksud membawa SARA. semata-mata hanya pertanyaan dan sedikit kritikan demi kemajuan bersama. Soal pernikahan beda agama di Indonesia. Hm.. bisa begitu ya? Adegan kerusuhannya, wanita tionghoa-nya malah nggak kelihatan ya? yang diculik-culik itu agak nge-blend etnisnya. Tapi untungnya sih diperjelas dengan dialog di adegan selanjutnya. Kalau tidak, saya mungkin juga agak bingung.

In General, sekali lagi saya nyatakan salut untuk sineasnya. Saya bangga sekali. Propertinya juga oke, dengan Handphone-handphone ganjelan pintu, dengan adegan kerusuhan 1998-nya yang keren banget; Asap hitam, orang panik, anak nangis, motor dibakar. Seru banget! kebayang deh pas Shooting kayak apa. Dan yang keren, Talent-talentnya nggak kaku. Jadi penasaran berapa kali take ya? makin sedikit makin keren deh.. salut..! oh iya, mbah-mbah keroncong kemerdekaan juga sukses bikin saya jatuh cinta dengan lagu “dibawah sinar bulan purnama”. hehehe~

Kontras peran yang dimainkan tokoh utamanya keren banget! Terutama saya suka transformasi visual Maida dari seorang perempuan kikuk idealis yang sukses banget dimainkan Atiqah Hasiholan, jadi sarjana, lalu menikah.

Ini hanya mungkin, bukan berarti benar, bahkan mungkin smua yang saya bilang tadi hanya perasaan saya. Sekedar uneg uneg dari seorang pengagum film ini, sepertinya film ini kejar tayang, jadi detail detailnya agak kurang di perhatikan. Atau mungkin karena terlalu banyak aspek yang ingin ditampilkan ya?

Ya betul nggak ada yang sempurna di dunia ini, tapi ya semoga menjadi pelajaran bagi siapapun kedepannya, termasuk saya. Jujur, kalau bisa dan kalau ada yang berminat,  saya mau sekali ikut ambil bagian kalau ada penggarapan film seperti ini lagi. Pasti bangga sekali kalau saya bisa ikut partisipasi.

Bravo perfilman Indonesia, terutama bagi para sineas yang masih memiliki idealisme untuk membangun bangsa.

Salut!

Advertisements

6 Juli

6 Juli 2011,

Aku sedang berada di bumimu,

bumi yang digariskan untuk aku telusur untukmu,

membawaku ke angan indah,

dimana dulu kau pun pasti merasa apapun yang kini aku rasakan.

 

Teringatku saat-saat berharga kita,

kau yang terindah, yang berharga untukku,

walau sekejap saja aku bersamamu,

tapi menjadi bagian hidupmu adalah anugrah.

 

Cinta yang kau beri masih bisa aku rasakan,

betapa teduhnya senyum yang kau beri ketika aku berada dipelukmu,

kata-kata bijak yang selalu kau sampaikan, tutur kata seorang pribadi yang tulus,

semua membuat aku begitu merindumu.

 

6 Juli 1999

bersamamu,, orang orang yang kau cintai, orang orang yang juga mencintaimu,

berada di dekatmu, membawakan lantunan doa-doa indah untuk menjagamu dari pilu,

tangisku yang pecah seharian saat itu pun tak bisa mewakili apapun yang aku rasakan,

saat saat itu, saat yang bisa kuingat sebagai saat terakhir aku memandang wajahmu yang rupawan dengan senyum yang terus melekat di bibirmu.

 

Ayah,

12 tahun lalu, dihari ini, di waktu ini, kau yang terbaring di sebuah ruang rawat inap melawan rasa sakitmu.

ibundamu, istrimu, anak-anakmu, saudaramu, sahabatmu, semua bersamamu, memberikanmu semangat untuk bersabar.

kau buktikan pada kami betapa tangguh dirimu, ayah;

ketangguhan seorang manusia yang sangat ikhlas menerima takdirnya.

aku yakin, insyallah, Allah pun sangat sayang padamu, karenanya kau diberikan waktu kembali walau sejenak, untuk bisa bersama bunda yang juga sangat tegar untuk terus berada disampingmu.

 

aku tak bersamamu ketika kau menutup matamu, ayah,

tapi doaku selalu terpanjat untukmu.

aku merindumu!

 

Aku sayang ayah, semoga aku bisa bertemu lagi dengan ayah suatu hati nanti..

insyallah…

i love you!

tombol reset

Tadi pagi saya dan bunda ngobrol via skype. Sebenernya saya mau pamit, karena besok mau berangkat ke sendai. Seperti biasa obrolan seputar hidup masing-masing lah yang kita bicarakan. Mulai dari kuliah saya, sampai mau makan apa saya hari ini. Bunda juga gitu, cerita soal rumah, Sat dan Ken, soal sekolahnya juga. Wejangan ini itu soal thesis, karena kita sama-sama lagi bingung dengan thesis.

Bunda juga kasih encourage buat saya, karena besok saya akan berangkat ke Sendai untuk volunteer dan mengisi acara di ASEAN Carnival for Japan. Bismillah semoga berjalan lancar semuanya. Walau agak jiper dengan kenyataan bahwa beberapa artis dari Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya akan ikut tampil disana. Semoga saya bisa melaksanakan tugas dengan baik.

Satu pembicaraan yang terus terus membuat saya berfikir adalah, hari ini bunda mengeluh lagi soal masalah negara. “Dulu, eyang suka ngeluh ‘aduh, mau jadi apa negara ini kedepannya, kok pemerintahnya begini’ dan kita anak-anaknya jaman dulu selalu menjawab  ‘udahlah bu, nggak usah ikut dipikir, itu kan udah ada yang mikirin’. Sekarang ibu sudah jadi orang tua, jadi ngerti apa perasaan eyang-mu dulu” kata bunda.

Bunda bilang, setiap hari jumlah koruptor di Indonesia bertambah, setidaknya begitu yang disiarkan media. Tiap hari ada saja orang yang ketahuan menggelapkan uang negara. Ya Allah. Ada satu pemikiran bunda yang sama dengan apa yang saya pikirkan, “kok tega ya mereka??”. Mereka yang punya posisi dengan seenaknya memakan uang yang bukan hak mereka. Untuk apa? Untuk membiayai anaknya beli mobil baru, sedang disisi lain negara kita – banyak anak-anak kecil yang pergi sekolah hanya dengan sendal jepit yang karetnya disangga dengan ranting dan harus berjalan berkilo-kilo meter. Atau mereka yang mengambil uang negara dengan jumlah nominal yang bahkan angkanya nggak bisa saya hitung dengan jari. Untuk apa? Untuk  membelikan istrinya intan berlian, tas mahal sekelas Luis Vitton atau Gucci, sedang disisi lain negara kita – banyak orang meninggal karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit karena kartu tanda tidak mampu-nya tidak bisa diproses karena mereka nggak punya cukup uang untuk membayar “biaya cepat”-nya, atau mungkin petugas loketnya tidak cukup digaji sehingga mereka lebih memilih bekerja sambil berdiskusi soal infotainment dari pada melayani para pasiennya.

Saat ini, beberapa kampus di Indonesia punya program ‘kelas pemberantasan korupsi’. Semoga berguna. Bukan mendiskreditkan, tapi jika seseorang sudah biasa hidup dengan kemewahan dan indahnya easy money hasil korupsi, misalnya anak pejabat yang orang tuanya bertahun-tahun memberi uang saku dari hasil itu, apa si anak akan merubah mindsetnya? Kuliah yang mungkin hanya 2 SKS ato mungkin paling banyak 3 SKS nggak mungkin bisa merubah pola pikir dan psikologis seseorang. Bandingkan saja dengan para koruptor yang dulunya juga bertahun-tahun menjadi aktifis anti korupsi. ketika tahu nikmatnya berada di posisi “menerima” pasti luluh juga hatinya. Apalagi hukum yang ada di Indonesia cenderung lunak. Korupsi milyard-an rupiah, hanya dihukum 3 tahun penjara dan mengembalikan uang denda sebesar 500 juta. NO WAY! kembalikan semua uangnya, lalu pukul pantatnya sampai ledes di depan media masa lalu beritanya harus diberitakan selebay gosip gempa di Jepang, baru si pelaku layak dapat hukuman penjara 3 tahun (dengan tetap dipukul pantatnya setiap hari). Atau, pilih langsung di hukum mati. Snip or Snap!

Saya nggak mau munafik. Saya juga mungkin bisa bicara begini karena tidak berada di posisi itu. Tapi semoga Allah selalu memberikan saya pendidikan dan lingkungan yang bersih dari hal itu.

Mungkin satu hal saya sih yang perlu ditanamkan dalam pemikiran setiap orang. “tegakah??”. Well entahlah.

Kadang saya berfikir, andai negara kita punya tombol reset. Tekan sekali, mulai semua dari awal.

Maaf, pernyataan ini bukan berarti saya anti nasionalis atau demokratis, ini hanya pandangan saya, tanpa doktrinasi apapun. Pandangan pribadi seorang saya terhadap sebuah negara yang sangat saya cintai. Rasanya ingin mengulang semuanya. Andai bisa dibentuk sebuah panitia yang super adil. Lalu semua orang berkewajiban mengembalikan semua harta benda kepada panitia itu. Lalu harta itu dibagikan secara rata kepada semua orang sebagai modal. Semua orang harus memulai semuanya dari Nol, dan nantinya secara alamiah akan menghasilkan : dia yang jujur dan bekerja keras akan mendapat hasil yang lebih dari pada mereka yang malas. Skill menjadi base disini. Panitia menjadi juri. Juri pun harus fair. Setiap orang yang bekerja baik harus juga dibayar dengan baik. Yang ketahuan curang kelaut aja. DITENGGELEMIN!

Andai..

Maaf kalau ada yang tidak berkenan. Semoga bunda saya juga sepakat.

amin..

new friend called tumblr

belakangan gw punya mainan baru, bukan melupakan dunia yg ini.. hanya karena di iphone ada aplikasinya, jadi lebih gampang kl pengen update2 gitu.. namanya tumblr. my another world..

layoutnya simple, seru aja dipake. emang sih, jadinya kayak kebanyakan mainan gitu.. blog, facebook, plurk, twitter.. well, sebenernya sedang mencoba coba aja – sekalian belajar media mana yang paling enak dipake. media mana yang secara design lebih mudah dimengerti, interface yang menarik, dll.. wajar dong? secara gw skolah di skolah media, mesti tau dan menilik si media media ini biar nggak ketinggalan tren media. but dun worry, temen cerita panjang lebar diantara media-media itu tetep this blog sepertinya.. 🙂

thank you buat temen-temen yang ikut baca blog ini, temen-temen yang ikut ngeramein blog ini, yang juga ikut sampe ngesearch blog ini di search engine, yang suka kasih ide via email, atau menkomen di postingannya.. thank you all!!!

pray for Japan

Executive Producer | Muhammad Lutfi, Fithra Faisal, Widyanto Dwi Nugroho
Producer | Annisa ‘chazky’ Hara
Director | Annisa ‘chazky’ Hara
Asistant director | Najwa
Story | PPI Jepang – sencho gorimacho production
Story boarder | Rianti Hidayat
Camera person | Mahardian Rahmadi, Widiyanto Dwi Nugroho, Reza Aryaditya
Editor | Annisa ‘chazky’ Hara
Art and talent advisory | Rianti Hidayat, Agyl Fajar Rizky
Logistic | Riskina Juwita, Hendika Rahmadi, Riski Anggri Wirawan
General affair | Fatahuddin
Data compiler | Ardhi Fachrudin Noor
Media | Farid Triawan, Angga Wirastomo
Talent | Muhammad Lutfi, Miya chan, Khaidar kun
——
Thanks to Allah SWT, our parents and this dedicated to all people in Japan..

Nuklir Fukushima yang katanya level 7

Ini saya ambil dari note FB -nya mas mahardian, salah satu tim PPI untuk KBRI Tokyo bagian Lingkungan, yang diambil dari emailnya mas Sidiq, salah satu nuclear boys KBRI Tokyo…

——————————————————–

Saya mencoba kutip email dari Dr. Eng. Sidik Permana, beliau adalah salah seorang senior PPIJ dan saat ini menjadi anggota tim nuklir KBRI Tokyo, berikut paparannya:

 

 

Dear Mas Jon dan Rekans PPIJ ers

 

Saya coba bantu menjelaskan berita terkini.

Seperti yang telah saya posting beberapa minggu yang lalu, terkait skala

INES,

Skala INES ini adalah suatu evaluasi dengan standar evaluasi international

dari sebuah peristiwa atau kejadian di sebuah fasilitas nuklir baik

pembangkit, fuel fabrication, reprocessing, dan lainnya, terkait aplikasi

energi nuklir dan radiasi.

Evaluasi ini ditentukan beberapa aspek dari kejadian itu berdasarkan

seberapa parah damage core reactor yang ada, korban jiwa, radiasi yang

dikeluarkan.

Sifat evaluasi sekarang masih bisa berubah, dan bisa jadi setelah selesai

semua penanganan fukushima daiichi ini akan dievaluasi lagi. Ya semacam test

kesehatan ditubuh fukushima daiichi ini apakah penyakitnya sudah stadium

berapa begitu. Ini mengacu pada lokasi difasilitas PLTN, karena lokasi

disana radiasi cukup tinggi. Dan akan semakin kecil dengan jarak, waktu dan

perlingdungan.

 

Proteksi radiasi sederhana ada 3 komponen

1. Waktu, semakin lama akan berkurang tingak radiasinya, namun kita bisa

mengestimasi berapa lama radiasi itu mengena terhadap kita. Semakin sedikit

kita terkena radiasi akan semakin sedikir kita terpapar.

2. Jarak : Semakin jauh kita berada semakin sedikit radiasi akan kita

terima, tentunya untuk partikel radioaktif akan bergantung pula dengan arah

angindan kecepatan. Tapi dilihat dari daerah evakuasi, memang radius dibawah

20 tergolong harus dievakuasi dan juga beberapa daerah tambahan di 4-5 desa

di arah utara.

3. Pelindung : Radiasi paparan langsung kekulit akan terkurangi paling tidak

dengan baju kita. Kemudian kalau kita bekerja dan atau tinggal didalam

gedung/rumah maka kita tidak terkena paparan radiasi, yang artinya

peklidnung kita adalah rumah.

 

Fukushima daiichi

Dalam kejadian ini dievaluasi dari semenjak kejadian sampai hari ini,

akumulatif radiasi yang dipancarkan dari fasilitas 4 unit reaktor fukushima

daiichi tersebut serupa atau menyamai dengan level 7 dimana radiasi dari

radioaktif release I-131 diperkirakan terpancar dan secara akumulatif sampai

saat ini selevel dengan radioaktive release di level 7.

Berbeda dengan cernobyl dimana korban, radiaktif release, damage core dan

lainnya sudah sangat tinggi meskipun masuk ke level 7.

Untuk kasus fukushima daiichi dari komponen radioaktif release secara

akumulatif masuk ke levl 7, dari korban jiwa dan komponen lainnya masih

kemungkinan di level 5.

Laporan resmi komisi menyebutkan level 7 disebut karena akumulatif

radioaktif release sampai hari ini.

 

Apa impactnya penaikan Level ke 7.

Impact terhadap hasil evaluasi dari kasus krisis fukushima, memberikan

penilaian bahwa kecelakaan nuklir di jepang terburuk dalam sejarah jepang

dan satu level dengan level cernobyl dengan estimasi kriteria yang diberikan

diatas.

Efek langsung ke kita, tidak ada.

Yang ada adalah efek radiasi sisa dari yang direlase kemarin dan dibeberapa

daerah sudah kembali normal.

 

Kondisi radiasi

Sampai saat ini dibeberapa lokasi di kanto area termasuk tokyo sudah

memasuki level radiasi alaminya, di ibaraki masih lebih tinggi dari tokyo

dan sekitarnya, tapi cenderung mendekati 0.1 microSv.

Didaerah lebih jauh ke selatan dan barat jepang, sudah normal dan memang

efek radiasinya sangat kecil sehingga sudah lama radiasinya sudah dilevel

normal. hanya di daerah evakuasi anatar radisu 20 KM dan beberaoa daerah

tambahan perluasan evakuasi yang mendapat dosis radiasi yang lewat batas,

sehingga perlu dievakuasi. untuk area 20-30 KM disarankan diam dirumah untuk

menghindari paparan langsung radiasi. Diluar daerah itu, radiasinya relative

masih jauh dari membahayakan walaupun lebih tinggi dari radiasi alaminya.

DAn kecenderungannya terus menurun.

 

Lebih jelasnya:

InsyaAllah akan ada pembahasan ini di radio online besok.

Tunggu tanggal mainnya.

 

Mudah2an bisa membantu

Wassalam

 

Dr. Eng. Sidik Permana

(anggota tim ahli nuklir KBRI tokyo)

 

Percaya pada kekuatan Jepang!

Sebuah catatan dari my new beloved friend, Isti Winayu..

——————————————

 

Aku sebenarnya sudah gemes pingin nulis tentang kondisi & situasi di Jepang saat ini sejak beberapa hari lalu, tetapi karena hampir tidak waktu bahkan untuk diri sendiri akhirnya batal terus. Sekarang, apapun yang terjadi pokoknya harus ditulis! Basi tidak basi, sudah tak peduli lagi.

Terpuruk tapi tidak merutuk
Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sikap & perilaku orang-orang Jepang ketika gempa besar Miyagi terjadi. Meski Tokyo jauh dari pusat gempa & tidak ada kerusakan sama sekali, tetapi seketika itu juga dampak besar gempa turut terasa.

Kereta api langsung dihentikan saat itu juga hingga esok harinya. Otomatis transportasi jadi kacau balau, apalagi untuk Tokyo dengan jutaan orang yang sangat tergantung pada kereta & subway. Calon penumpang menumpuk di sekitar stasiun hingga penuh sesak di ruas-ruas jalan sekitarnya. Begitu pula antrian panjang di sekitar tempat menunggu taksi & bis.

Sore itu dingin tetapi semua orang tetap rela antri teratur bahkan hingga berjam-jam berikutnya. Awalnya, aku & teman-teman berniat mengantri bis untuk pulang tetapi tampaknya percuma saja karena saat itu kami berada di kota kecil yang bisnya juga terbatas. Akhirnya kami jalan kaki 1,5 jam hingga asrama teman. Aku juga mendapat cerita dari Goto Sensei bahwa beliau juga harus antri bis di Shibuya & baru sampai rumah 5 jam setelah gempa.

Pemandangan yang terlihat selama berjalan kaki adalah sesama orang yang terjebak situasi & terpaksa jalan kaki. Meski harus jalan kaki entah berapa kilometer jauhnya, mereka tampak tetap tenang & taat pada peraturan lalu lintas. Begitu pula dengan para pengemudi mobil & motor yang juga harus rela antri lebih lama. Macet, itu pasti! Namun, tidak ada yang saling serobot meski lampu merah tidak berfungsi. Tidak ada bising suara klakson meski antrian kendaraan mengular panjang & bergerak sangat pelan.

Antrian panjang semacam itu tidak hanya terjadi di Tokyo saja. Di TV & media cetak, kulihat para pengungsi pun antri untuk mendapat ransum yang tidak seberapa jumlahnya. Orang-orang tidak menggurutu ketika harus antri di supermarket untuk bahan makanan yang jumlahnya terbatas. Tidak ada kerusuhan akibat saling berebutan!

Berbagi & berhemat
Masalah-masalah lain pun turut bermunculan pasca gempa Miyagi, mulai dari masalah klasik di pengungsian hingga bahaya radiasi dari PLTN Fukushima yang bermasalah. Aku tidak akan membahas hal tersebut satu-satu di sini. Lebih dari itu, aku kagum dengan semangat berbagi yang kurasakan sejauh ini. Rusaknya infrastruktur di daerah Tohoku memang menghambat pasokan ataupun distribusi barang kebutuhan masyarakat di daerah sekitarnya. Apalagi PLTN Fukushima juga bermasalah yang berakibat pada penurunan pasokan energi untuk daerah Tohoku & Kanto, termasuk Tokyo tentunya.

Sejauh ini, entah sudah berapa banyak kulihat iklan layanan masyarakat ataupun leaflet yang mengajak berbagi demi para pengungsi di Tohoku. Aku sempat tertegun dengan gambar yang kutemukan di internet yang mengajak orang untuk tidak menimbun barang karena panik ketika beberapa barang jadi langka. Kurang lebih 12 rol tissue toilet bisa untuk 1.000 orang, 1 tabung gas kecil bisa untuk memasak makanan 10 orang, 1 liter bensin bisa untuk ambulance yang mengangkut 4 orang yang terluka. Hitung saja berapa junlahnya jika jutaan orang lain juga berhemat hal yang sama.

Hemat energi juga kurasakan langsung di kehidupan sehari-hari. Jadwal pemadaman bergilir telah diumumkan sejak beberapa hari lalu. Toko-toko yang biasanya tutup sekitar jam 9 atau 10 malam, jadi tutup jam 6 petang. Shibuya yang biasa hingar-bingar dengan lampu & beberapa TV raksasa pun sedikit jadi suram karena semua itu dimatikan. Lampu-lampu di tempat umum pun tidak banyak yang dinyalakan. Suasana Tokyo memang berubah, tapi kami baik-baik saja!

Aku makin terpana & kagum saat menyimak pesan-pesan iklan ataupun diskusi di TV. “Ini berat & entah untuk berapa lama, tapi kalau semua melakukan bersama-sama pasti kondisi ini terlalui & jadi lebih baik”, “Marilah saling menolong, jadilah kuat, & percaya pada masa depan”, “Jepang negara kuat. Percaya pada kekuatan Jepang”, “Jika semua orang melakukan hal yang sama, akan jadi kekuatan besar” dan pesan-pesan macam itu terus diulang.

Acara di beberapa TV pun menyajikan hal-hal yang positif mulai dari liputan tentang pengungsian hingga tanya jawab tentang radiasi. Ada acara di NHK yang menyerukan ajakan berbagi & berhemat dengan memberikan contoh kongkrit yang dilakukan oleh masyarakat seperti sukarelawan sebuah LSM yang membuat program untuk menghubungkan orang-orang yang terpisah atau mencari keluarganya di pengungsian, gerakan matikan alat listrik yang tidak perlu di banyak keluarga, dan sebagainya.

Aku terenyuh melihat semua ini. Aku tak kuasa menahan air mata saat melihat liputan tentang para pengungsi yang masih tetap antri & tersenyum ketika hanya bisa makan 2 butir nasi kepal dalam sehari. Aku kehilangan kata-kata ketika sebuah keluarga rela menampung belasan pengungsi dengan segala keterbatasannya, dengan makanan yang mereka coba sediakan sendiri. Aku merasa sakit & pedih melihat anak-anak yang lulus tahun ini terpaksa diwisuda tanpa upacara yang layak tapi tetap semangat menyanyikan lagu kelulusan.

Aku kagum dengan kemampuan mereka untuk “gaman” yang menurutku artinya agak berbeda dengan kata sabar. Mereka gaman dengan menahan diri tidak mengeluh & merutuk meski aku yakin tak ada satu pun orang yang senang & nyaman dengan kondisi saat ini. Mereka “gaman” dengan tidak melaukan hal-hal negatif ataupu perusakan meski semua hal jadi terbatas & sempat tidak teratur. Kuteringat pada percakapanku dengan orang-orang Jepang tempo hari,”Karena kami sama-sama jatuh saat ini, makanya harus bisa gaman. Kalau yang lain semua duduk lalu kita berdiri sendirian, rasanya malu & tidak nyaman bahkan akan sangat terasa kehilangan & kesusahan akibat bencana alam ini. Namun, jika sama-sama duduk & saling membantu untuk bangkit, pasti terasa lebih ringan & cepat terlalui.” Sudah, aku tak sanggup lagi menerangkan maksudnya saking gamblang & tegasnya makna yang disampaikan dalam kalimat tadi.

Jepang, negeri keduaku…, bangkitlah & pulihlah kembali. Memang benar semua pesan iklan itu dan aku sepakat sepenuhnya. Jepang, kamu tidak sendirian karena orang-orang di dunia ada untuk mendukungmu. Mulai dari diri sendiri, hal sekecil apapun itu, lakukan penghematan & berbagi untuk kebaikan bersama demi pemulihan kondisi Jepang ke normal kembali. Ganbarou Nippon!

*Ganbatteta nulis di note iPhone karena Cherry masih bermalam opname di tempat service*

hari ke-sebelas

11 hari dan 10 hari untuk saya

Hari ini memasuki hari ke sebelas pasca gempa – tsunami di Miyagi. Saya yang sejak hari ke 2 sudah memvolunteer-kan diri di kedutaan, sudah seperti hatam dengan flow kerja crisis center disini. Tinggal di gedung kantor kedutaan selama 10 hari; makan, tidur, mandi, ngobrol semuanya dilakukan disini. Mungkin juga ini hari ke 10 saya nggak punya cukup waktu untuk tidur dan melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri. Selama itu juga saya tiba-tiba tidak merasa berada di Jepang. Saya sudah merasa dirumah. Walo ber-volunteer seperti ini, tapi sungguh nikmat sekali bisa berbicara bahasa Indonesia dengan joke-joke Indonesia yang sudah rindu sekali saya dengar.. 🙂

10 hari bekerja di call center, membuat saya ‘nge-blend’ dengan kondisi dan situasinya. Setiap hari menerima telpon, mendengar curahan hati orang yang kehilangan keluarga, suara2 putus asa akibat tak bisa menghubungi sanak saudara atau kerabat. Well, mungkin itu juga perasaan yang dirasakan keluarga ketika saya sibuk dan tak sempat menghubungi mereka karena terlalu sibuk.. (maaf bunda, adik2ku sayang, keluarga, temen2, otto juga)..  Tapi tapi tapi, mungkin karena itu ya, saya kini ber – empati dengan kasus kasusnya, jadi rasanya tergerak banget untuk terus membantu proses pencarian ini. Hari demi hari, laporan orang hilang makin bertambah, sedih rasanya ketika telpon hotline kami berdering. Telpon berdering artinya laporan orang hilang. Ya Allah, semoga mereka ini baik-baik saja. Tapi kita disini juga sangat bahagia, ketika kita mencoba mencari via telpon, lalu telponnya di jawab oleh si pemilik telpon dan menyatakan mereka baik-baik saja. Apa yang lebih membuat kami berbahagia adalah ketika kami bisa menemukan dan mengevakuasi para korban yang terkena dampak langsung gempa tsunami di Miyagi dan radiasi nuklir di Fukushima. Melihat mereka secara langsung, melihat mereka masih sehat dan masih bisa tersenyum membuat saya bangga bisa berada di posisi ini.

Beban untuk saya, bukan hanya saya tapi kami

Tantangan terberat yang kami hadapi adalah pemberitaan di media masa yang sangat berlebihan. Terutama di negri sendiri. Kami yang harus bertugas dengan kepala dingin dan ketenangan harus kerap kali menahan tangis ketika kami sendiri mendapat telpon dari keluarga kami di Indonesia dan kepanikan dengan berlebihan karena telah menyimak berita dalam negri yang menyiarkan berita tidak sesuai porsinya terutama mengenai radioaktif. Sangat umum kami mendengar rekan kami sendiri harus berjuang mati-matian untuk meyakinkan keluarganya agar bisa tetap bertahan hidup di Jepang. Saat itu pula kami harus mengangkat telpon dan mengubah getar suara kami agar tetap tenang, dan menenangkan para penelpon yang kepanikan baik mencari keluarga, maupun panik karena ancaman radioaktif dari plant nuklir yang sebenarnya tidak perlu di khawatirkan sebegitunya.

Kami saat itu, para volunteer yang berada di crisis center, kami yang semuanya merupakan mahasiswa, sangat kecewa dengan pemberitaan media. Kami sempat emosi karena pemberitaan yang semakin mengganggu. Saat itu, mereka bukan menjual berita. Mereka hanya memikirkan cara mendapat banyak respon dan rating. Mereka tidak bisa memilah fakta yang mereka dapat dan memaparkannya dengan benar. Saat itu, semua pemberitaan yang seharusnya menjadi sumber informasi saya rasa hanya berujung sebagai dilema bagi masyarakat – mungkin hampir di seluruh dunia. Payah!

Alhamdulillah, surat yang dikirimkan oleh persatuan pelajar Indonesia – Jepang atas nama mas Fithra didengar juga oleh media. Dan sejak itu pemberitaan pun berubah lebih terarah dan lebih baik.

Evakuasi

Suatu hari tim crisis center kami harus melakukan evakuasi terhadap keluarga-keluarga yang berada di Fukushima. Saat itu keadaanya sangat mencengangkan. Power plant nuklir sedang pada posisi teratas tingkat bahaya. Ketika semua orang mencoba melarikan diri dari daerah situ – dan bahkan tokyo dan sekitarnya, tim kami malah masuk mendekati daerah situ untuk melakukan penjemputan. Dengan berbagai aturan, misi ini dijalankan. Tim lapangan tidak punya banyak waktu. karena ada limit tertentu, bahwa manusia bisa berada di daerah terradiasi begitu. Kami di call center saat itu menjadi penengah – komunikasi antara pihak penjemput dan korban. Kondisinya sangat  menegangkan. Berpacu dengan waktu. Namun Alhamdulillah kami berhasil menyelamatkan 16 orang dalam hari itu, dan 9 diantaranya adalah anak-anak. Kami semua berteriak bahagia ketika mendapat kabar bahwa penjemputan berhasil, dan mobil evakuasi kembali ke Tokyo. Luar biasa! yang terpikir dikepala saya saat itu adalah :

“kalau pemberitaan di media benar, bahwa radiasi nuklir sudah sangat mengkhawatirkan, dan saya harus menjadi korbannya, saya tidak akan menyesal, saya akan sangat berbangga karena saya ada bersama mereka yang berjuang menyelamatkan orang lainnya, dan untuk saya, terutama karena akan ada 9 anak kecil yang terselamatkan. Jadi apalah artinya pengorbanan  ‘satu saya’ kalau di masa depan akan ada 9 anak yang mungkin akan tumbuh besar jauh lebih baik dari saya.. 🙂

Terharu ketika kami menerima sms, email, atau pesan-pesan terima kasih dan penyemangat. Saya terkadang juga mendapatkannya di email, akun SNS atau Handphone pribadi saya. Well, semua bukan untuk saya, tapi tim hebat tempat saya berada..

Mungkin teman-teman volunteer lainnya punya pendapat berbeda tentang alasan mereka berjuang di crisis center ini. Tapi Insyallah, apapun tujuan mereka, tujuan saya, semoga Allah membalas niat baik kami dengan mendengar doa yang selama ini kami panjatkan, untuk menyelamatkan kita semua. amin.

i’m with the best

Richard Winters (Easy Company – US Army 101 Airborne 1945)

“You know why they volunteered? Because they knew that the man in the foxhole next to them would be the best, not some draftee who’s going to get them killed.”

Dedicated to beloved senpai @ KMD specially for Global Education Project and 4K Narrative Project..

say hi to the lady

controversy,

while people liking her cheer,

but the cheer is actually tears..

 

everything is cold,

as a vampire needs blood..

heart jump and dying…

no color only darkness..

 

below the big tree there is a door..

place to hide from reality..

because pain become culinary..

 

fake, everything seems to be perfect..

mouth speak but the soul is melts..

no strength to stand..

power absorbed by the dark cloud..

 

no wings to fly or foot to step..

hope is the only way..

but eyes can’t be lied..

it keeps open to a new way..

 

please, say hi to the lady..

to the one who still alive even with all the reality..