ketika saya kembali 2

Salju turun terus menerus. Kehidupan saya 19 tahun lalu jadi sangat berbeda. Saya yang bocah tropis harus tinggal di Jepang berbulan-bulan untuk menemani ayah saya menjalani operasi paru-paru karena kankernya. Saat itu saya sepertinya sudah mengerti, namun ayah dan ibu saya tidak mau menjelaskan apapun mengenai detil yang terjadi. Tapi saya yang berumur 8 tahun saat itu harus menyaksikan banyak air mata. Terkadang saya harus menyimpan perihnya karena tidak mau ibu saya tahu bahwa saya mengerti bahwa keadaan ayah saya sangat buruk – saat itu. Saya tidak punya teman, Sat masih 3 tahun, ibu saya tertutup, saya nggak sekolah juga selama itu. Kalau keluar rumah, udara sangat dingin dan gelap sekali ketika malam – bahaya untuk seorang anak 8 tahun yang tidak bisa berbahasa Jepang. Tidak ada internet, apalagi smartphone. Teman saya? Toilet dan apel (baca posting sebelumnya). Ketika saya sedih, saya masuk kedalam toilet hanya untuk duduk bermain dengan tissue dan apel, wangi toilet membuat saya nyaman dan tenang.

Pada malam hari, Ibu membuat ramuan tradisional, air panas + bawang putih + biji kacang hijau didalam termos kecil sambil berdoa untuk kesembuhan ayah. Paginya, sekitar pukul 8 pagi, kami dibangunkan untuk mandi dan bersiap untuk ke rumah sakit. Sebelumnya – ibu suka sekali menyiapkan soto ayam dari bumbu indofood. Saya ingat alat makan saya hello kitty berwarna pink, punya sat doraemon biru. Ayah yang belikan. Setelah sarapan, kami siap menerjang salju untuk menjenguk ayah.

Melewati lorong jalan kecil yang panjang, melewati pom bensin, bertemu jalan besar, menekan tombol untuk menyebrang, menuruni tangga, melewati belakang skolah, melihat anak-anak sekolah, belakang rumah sakit, parkiran rumah sakit, pintu kanan rumah sakit, lalu bertemu dengan konbini dan vending machine yang menjual kopi kesukaan ayah “georgia coffee”, toilet umum yang bau sekali, dan lalu lift. Ketika tiba di lantai 7, ayah selalu baru selesai mandi dan menunggu kami di kasur rumah sakitnya. Ruangan ayah kalau tidak salah ada 6 atau 8 orang. Ayah tinggal di dekat jendela di sisi kiri. Saya ingat benar, ayah suka menukar bento saya dengan makanan rumah sakitnya. kenapa? Karena saya suka makan ikan punya ayah. Ketika jam makan siang, ayah yang memilih makan di common room, selalu menyuruh saya mencari dan membawakan makanannya serta membantu suster2 mendorong trolly makanan ke arah para pasien yang duduk di common room.

Saya melakukan itu setiap hari. 7 hari seminggu. Terkadang malah saya pergi sendirian dari rumah karena ibu sakit. Saya selalu senang pergi ke rumah sakit. Teman saya bertambah 1, Ayah.

Saya yang tidak bersekolah, diajari ayah ini itu. Matematika, gambar, bahasa Jepang (untuk usia saya saat itu), dan yang terpenting – pelajaran bagaimana saya harus bisa “berteman” dengan “siapapun”. Saya ingat, di lantai ayah ada ruang karantina untuk penderita TBC. Untuk mereka yang menderita TBC ringan, mereka diperbolehkan keluar dari bangsal mereka dan berinteraksi dengan pasien lain dengan menggunakan masker dan sterilizer. Ibu saya sempat protes pada ayah, karena itu sangat berbahaya. Saya ingat teman baru saya itu, mungkin usianya sekitar 20-an, laki-laki dan lebih tinggi dari pada ayah. SAya juga berteman dengan seorang suster bernama Junko. Dia sangat cekatan dan lincah. Setiap hari dia yang membantu mengukur tensi ayah saya. Dan Suster Junko memberikan kepercayaan pada saya untuk mengukur suhu tubuh ayah dan menyiapkan obat untuk ayah.

Kalau ayah tidur, saya bermain di common room sambil menonton tv, atau tidur di sofa common room. Bahaya? tidak juga, suster-suster ikut menjaga saya. Dan para pasien lain tau bahwa saya anak – ayah saya. Sehingga terkadang mereka malah mengajak saya mengobrol. Kalau saya bosan, saya bisa main ke lobby lantai 1, atau menelpon ibu saya lewat telpon umum.

Saya belajar banyak dari kehupan saya 19 tahun lalu. Saya tidak menyesal karena saya tidak bersekolah, tidak punya teman. Saya bahagia bisa meluangkan waktu dengan ayah saya.  Terima kasih Ayah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s