fasilitas umum dan kita

Indonesia punya banyak sekali penduduk, everybody knows that. Dan terutama kota besar, banyaknya penduduk udah bener2 besar sampai sarana papan aja selalu sold out setiap kali ada developer buka lahan.

however, pertumbuhan ini nggak dibarengin dengan fasilitas yang memenuhi 100% kebutuhan penduduk, terutama yang hidup di kota besar. Bayangkan ketika area rumah tinggal makin meluas, sedang lokasi mata pencaharian tetap lebih banyak di kota besar, fasilitas mobilisasi rakyat sangat terbatas. Some of the society memilih untuk punya alat transportasi sendiri, bahkan sampai punya 3 mobil padahal garasi cuma cukup untuk 1 mobil. (hehehe, sok update sama tren si sns).
Pernahkah terbersit untuk nyalahin pemerintah untuk masalah ini?

Entah sejak pemerintahan yang mana, tp semenjak saya kembali ke negara tercinta ini, sebenernya saya melihat banyak kemajuan. Bicara soal Jakarta dan sekitarnya saja ya ini, tp mulai dari perkembangan trans-Jakarta, commuter line sampai pembangunan MRT dan mono rail yg sekarang sedang dilakukan, I think we’re making progress.

Pemerintah (entah dengan embel2 korupsi dibelakangnya) sedikit sedikit berusaha untuk membangun fasilitas itu, menjaganya juga. Good Job for now.

Some of us, mungkin masih punya mimpi yang jauh. Ingin punya kereta atau bis seperti di singapura atau Jepang. Beberapa dari kita, atau kita sendiri juga terus membandingkan apa yg kita punya dengan negara lain. No problem juga, as long as we  also suppprt the government to do their job.
Yang menurut saya agak rancu disini adalah selalu dimana pun ada ketimpangan sosial. Bukan soal kaya miskin, mampu tidak mampu, tapi soal mental. Mental bahwa fasilitas umum itu tanggung jawab bersama – iya, semua penggunanya. Bukan cuma  pemerintah, apalagi cleaning service.

Miris yg saya dapati hari ini. Sepasang teman, yang menurut pembicaraan prosinya adalah guru, yang mampu untuk shopping banyak hari ini ke Tanah Abang, bicara blablabla soal estetika diri, diet, jerawat, ngomongin ekonomi orang, perhiasan tapi dengan mudahnya membuang sampah sembarangan (berupa plastik bekas makan jajanan siomay) padahal dia duduk tepat disebelah tong sampah. Dan waktu pengumuman soal menjaga kebersihan diperdengarkan, dia dengan simplenya menendang sampah itu menjauh dr dia supaya dia tidak disalahkan atas sampahnya sendiri.

itu hanya baru satu kasus. Mungkin kalau saya cerita dan kesal pun otang hanya akan merespon dengan “yah namanya juga angkutan umum”. Dalam pikiran saya, justru karena fasilitas umum – kalau di mobil atau rumah sendiri silakan buang2 apapun seenaknya.

Ini pelajaran buat saya, dan tentunya kamu juga, sampai kapan kita mau jadi orang yg ignorance? sampai kapan kita cuma menggantungkan semua hal dengan cara menuntut pemerintah?

oh well..
Sepertinya tugas pemerintah bukan cuma menyediakan, tp juga mesti jauh ke sosialisasi gimana kita semua bisa berfikir dan lebih care ke fasilitas umum.
Tapi apa soal itu juga harus pemerintah yang nanganin??

hm…
just a thought and a note to myself.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s