a day with Dean

Meet Dean (read: DE – AN)

He is one of my adorable student at Indriya Home Schooling Program. Yesterday, he came to early, and miss Titin from Accounting asked Dean to sit beside me.

He loves music, and he always wanted me to play him something from my itunes. But yesterday, not only music, i gave him camera. and this what we got. 😀

dean1

we had fun!

dean2

*> Dean is a 20 years old boy with autism, and he is now function. Our home schooling program will allow him to graduate this July and start working in our management office as a staff. We are so proud of him and his supportive family.

Wish him luck!

Growing Documentary about Tohoku Disaster

Do you know how I feel about Tohoku Disaster?

I feel like, i have an insight to that matter. I live in Japan, but I am not living in Tohoku Area. But since i felt the earthquake and volunteered from day 2, went there and still have connections with some victims, so – i have something pushing me to do something for them. The thing is, I dont have money to buy them things. I don’t have power to do the reconstruction. I don’t have knowledge to help the medication. I couldn’t even talk to local people in a good Japanese, but i really wanted to do something for them.

Few months ago, fortunately, i got a very good opportunity to do something for them. Do something that i can do with my ability. My professor approved my proposal to make a “growing documentary” for Tohoku. I created the name Growing Documentary as the film will be growth together with the growing of the reconstruction of Tohoku after the disaster. Alhamdulillah.

Now, I am still on my first step. And thanks to Allah, I got a lot of helps from many people to do this documentary. If you wanted to know, most of the people on the credit – i’ve never met them, not even talked to them online. They’re volunteering themselves to the project. They’re from many different backgrounds, countries, educations even ages. So cool! Thank you all!

It’s a very big step for me as my film was shown on CineGrid Showcase on Tokyo International Film Festival 2011 last month in Tokyo – Japan. After that, the CineGrid Community seems interested to the idea and offer us to work together. I am so happy for that. Alhamdulillah.

Now, Let me show you the documentary. I hope you like it! 🙂

As this documentary will keep growing, it will need many “seeds” + “waters” + “oxygens” + “fertilizers” and so on.. So, if you interested to join me with this project, feel free to contact me. You can be anywhere, any time zone, any island, any country from any background or any thing.. and let’s figure out what can you do on this project 🙂

I hope this project will bring out more energy to Tohoku reconstruction, a learning source for people in the future and also motivate people to helping and loving each other (anywhere).. 🙂

peace..

para pejuang petarung cancer

Cancer itu seperti bom waktu.. dan lebih parahnya, belum ada gegana yang benar benar bisa menonaktifkan timer-nya.

Saya sangat takjub pada kisah-kisah para”pejuang” yang terus bersemangat “melawan” sesuatu yang terlalu lincah ini. Melawan artinya bukan hanya mondar mandir masuk rumah sakit minta oprasi atau transplantasi, atau minta di “sinar”, melawan bagi saya berarti mau berjuang untuk hidup normal, tanpa minta dikasihani, dan berbuat maksimal untuk dirinya, keluarganya dan lingkungannya.

Hari ini seorang designer, innovator, inventor kelas dunia, Mr. Steve Jobs akhirnya harus takluk dengan kekuatan cel ganas ini. Bukan menakut-nakuti, karena toh setiap insan di dunia ini nantinya pasti akan kembali kepadaNya. Ketika hari ini saya bangun pagi (yang kesiangan) lalu mendengar berita itu dan sentak saya menangis, saya tidak merasa diri saya berlebihan. Saya benar benar merasa sedih karena saya kehilangan role model lagi, seseorang “pejuang” yang begitu inspiratif dan pastinya banyak orang yang juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Lahir dari keluarga yang memiliki bakat “cel itu” bukan hal yang mudah. Memang saat ini saya alhamdulillah dalam keadaan sehat, dan insyallah saya terus sehat. Tapi kita nggak pernah tau bagaimana takdir kita kedepannya. Saya berharap saya nggak akan pernah masuk dalam list daftar pejuang itu. Saya cukup perih walau hanya menjadi saksi kehidupan seorang pejuang – selama 6 tahun, yang akhirnya juga harus mengakui bahwa dirinya kalah dalam pertarungan itu.

Ketika awalnya seseorang ditakdirkan untuk menjadi pejuang, artinya dirinya harus siap maju ke pertempuran. Mereka harus siap untuk mengahadapi hal terburuk, dan pada saat inilah – mereka sangat butuh pasokan senjata dan perisai. Mereka membutuhkan dukungan, doa dan positivity dari lingkungannya. Ketika akhirnya mereka sudah bisa berdiri tegap, saat itu lah mereka siap bertarung. Kekuatan mental adalah hal yang paling penting untuk mereka miliki. Setidaknya itu yang saya saksikan dari Ayah saya. Saat dirinya sudah tau rasa sakitnya, yang ditakutkan bukan lagi sebagai mana dirinya akan “habis” di makan si sel jahat, tapi yang ditakutkan adalah bagaimana lingkungannya nanti setelah dia pergi. Itu yang memilukan. Saya tau saat itu beliau merasa sangat tertekan dengan keberadaan bom waktu di dalam tubuhnya, saya yakin begitu juga dengan para pejuang lainnya. Makanya saya sangat takjub dengan para pejuang yang melupakan rasa takutnya dan menggantinya dengan mengkontribusikan bagian dirinya yang lain untuk orang lainnya.

Semoga pertarungan Mr. Steve Jobs menjadi satu kisah yang bisa diambil positifnya. Untuk saya pribadi, sebagai orang yang hanya bisa mengenal dia dari produk dan videonya di youtube, saya sangat berimpresi dengan ke-humble-an dan something yang selalu out of the box. 🙂 Dan satu hal yang pentingnya luar biasa adalah,

ketika seseorang yang dalam keadaan “tidak sempurna” berusaha memberikan sesuatu yang melebihi kapasitasnya, kenapa kita yang masih bisa bernafas normal tidak bisa berkontribusi lebih lagi?

Kalau saat ini di SNS banyak yang memberi pendapat pro kontra mengenai pejuang yang satu ini, saya rasa itu wajar, karena no body is perfect dan nggak semua orang sempurna di mata orang lainnya. Semoga sih, setiap orang bisa melihat dari sisi positifnya dulu. Tapi gimanapun pejuang ini baru saja gugur. Selayaknya kita memberikan “respek” untuknya. 🙂

From deep inside my heart.. Mr.Steve Jobs,  thank you for your contributions. you’ll be missed! ♥

ps : I love you even more, Dad (RIP).. Thank you for being a good role model for me. i miss you.. ♥♥

 

 

love from Indonesia to Japan

I am so happy..

I really never realized it before..

My video “tsuru” been replied with a video from Japan “To Indonesia”. And tonight, i answer their video with “circle”..

Please check out the videos!

“Tsuru”

 

“To Indonesia”

 

“Circle”

kisah bengawan solo di ishinomaki

mata airmu dari solo,

terkurung gunung seribu..

air mengalir sampai jauh,

akhirnya ke laut..

Tanggal 3, 4, 5 Juni kemarin, kami, perwakilan pemuda ASEAN dikirim ke Sendai untuk mengadakan sebuah event bernama “ASEAN YOUTH CARAVAN” yang di sponsori oleh ASEAN dan Nippon Foundation dan bekerja sama dengan Gakuvo. Ini adalah bagian dari program ROAD Project milik Nippon Foundation dalam merehabilitasi Sendai dari kerusakan (baik fisik dan mental) yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami, 11 Maret lalu. Alhamdulillah saya bisa ikut ambil bagian didalamnya, bersama orang-orang hebat lainnya yang mau menyediakan waktunya untuk bervolunteer tanpa takut akan segala macam resiko yang mungkin akan dihadapi.

Dua hari ini saya terus-terus memutar rekaman suara latihan lagu bengawan solo, dan lagu-lagu lain yang dibawakan di Ishinomaki. Sayang sekali hanya ada sebagian. Mendengarkan vocal mas Fadly dan Derby.. Suara gitar Yoseph dan Dika, suara gitar bass mas Rindra.. Sedikit diselingi suara lagu tari Bali-nya kiki juga.

Tulisan kali ini agak panjang, jadi saya beri sekat-sekat, supaya mudah membacanya. Kumpulan kisah Bengawan Solo di Ishinomaki..

.

MALAM LATIHAN

Malam itu, 3 Juni 2011, Sekitar tengah malam, jadi bisa dibilang juga tanggal 4 kali ya. Setelah perjalanan panjang dari Tokyo ke Sendai, setelah terenyuh menyaksikan kota Natori, bagi saya malam itu sungguh merupakan malam refreshing. Mengembalikan semua mood agar kembali fit untuk misi besok. Malam itu penuh canda, malam yang aneh! heheu.. Kita semua ketawa-ketawa saling bercanda, sampai akhirnya sekitar pukul 1 pagi, terjadi gempa yang berpusat di Iwaki, Fukushima. 5,6 skala. Well, untuk saya dan Dika yang saat itu berada di lantai 19 bersama rombongan yang lain, hal itu sudah biasa. Lumayan lama dan mengagetkan. Teman-teman Indonesia yang lain sampai berlarian keluar kamar. Kasihan, sedih jadinya, tapi lucu juga.. :p hehe~

Saya kembali ke kamar sekitar pukul 2 pagi. Saya sekamar dengan Kiki dan Amy, dari Malaysia di lantai 8. Semua sudah lelap tidur. Saya memandangi kota, berharap ini itu untuk Ishinomaki. Saya tidak punya bayangan sama sekali soal misi besok. Saya sangat antusias untuk bertemu para penduduk setempat.

.

KOTA BERNAMA ISHINOMAKI

*saya masih sambil mendengarkan si rekaman, nostalgia*

Pagi hari, bangun pagi dan membantu Kiki untuk menggunakan kostum tari-nya. Nggak sarapan. Ternyata ada roti. Alhamdulillah, orang baik disayang Allah :p

Ngaret sampai tempat tujuan, but no problem, sepertinya, setidaknya yang terlihat.

Tim langsung dibagi menjadi 3. Mud diggers, Kitchen dan Performance. Saya ada di Performance. Inginnya ikut Mud Diggers, tapi waktunya nggak mungkin terkejar untuk perform.  Tapi akhirnya dapat kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk Ishinomaki, ketika saya ikut tim yang menyebar undangan ke event ASEAN di situ. Nggak banyak yang bisa diobrolin waktu menyebar undangan sih sebenarnya, tapi lumayan, melihat mereka antusias dengan acara ini membuat saya lega. Waktu menyebar undangan itu, saya sempat berjalan dengan Dika, mas Rindra, Yoseph, mbak Ken, mas Indra dan Derby. Kiki dan beberapa teman lain terpisah dalam tim yang satunya. Sebenarnya dalam perjalanan kita sempat tertawa-tawa sambil berlatih untuk bisa bicara dengan penduduk yang kita ketuk pintu rumahnya, tapi setiap kali kita menjumpai rumah yang tidak lagi berpenghuni, tawa kami berubah menjadi muram.

Sebuah rumah kami ketuk. Muncul seorang wanita kira-kira usianya lebih dari 60 tahun, saya rasa. Rumahnya terletak di pinggir sungai. Saya yakin waktu tsunami kemarin, ia juga terkena air bah-nya, namun kini rumahnya sudah terlihat bersih dan beliau juga sudah tinggal di rumah itu. Kami mengundangnya ke acara. Ia tersenyum dan dengan ceria berkata bahwa ia akan datang. Senang sekali rasanya, kami pun sambil tertawa-tawa bercanda dengan beliau. Waktu kami pamit dan bilang mau melanjutkan mengirim undangan ke rumah rumah sekitar situ, Ia berkata bahwa ia satu-satunya keluarga yang kembali ke blok itu. Kami kelu, tidak ingin melanjutkan pertanyaan. Tapi kami juga penasaran, kemana kira-kira pemilik rumah rumah itu. 😦

Berkeliling cukup lama, sampai sempat salah masuk ke area yang dilarang pula. Tapi sangat menarik, saya pribadi mendapat 2 impresi. sedih dan lega. Sedih karena ternyata banyak sekali rumah yang penghuninya tidak kembali kerumah, atau semoga saja belum, dan akan kembali suatu saat nanti. Lega karena para penduduk yang sudah kembali, sudah bisa melakukan kegiatan secara (relatif) normal di rumahnya masing-masing. Saya tidak tahu persis bagaimana, tapi yang jelas mereka mau mengusahakan untuk mengembalikan kehidupan mereka seperti sedia kala, walau dengan usaha sendiri.

Acara ASEAN CARAVAN sendiri sudah mulai dibuka dan mulai membagi-bagikan makanan pada pukul 11. Antrian dari para penduduk lumayan panjang. mereka antusias. Alhamdulillah. Karena yang menjadi panitia inti acara adalah thailand, maka mereka menyediakan thai food. Menurut panitia inti, mereka menyediakan makanan untuk sekitar 400 orang. Selain itu juga dibagikan berbagai sandang dan pangan untuk para penduduk Ishinomaki. Dari yang datang, dan mereka yang saya berhasil datangi rumahnya, saya mendapat kesimpulan, bahwa jumlah orang lanjut usia di daerah ini sangat sangat banyak. Ya Allah.. Terharu rasanya. Sedih sih.. Saya ingin ada disana membantu mereka lebih.. 😦 Saya mendapat impresi yang sama dari teman-teman volunteer yang lain. Berada disana, membantu merawat para oma opa ini pasti sangat berguna. Andai saya punya banyak waktu.

Pada acara siang, teman-teman menampilkan berbagai adat dari negara masing-masing. Dari Indonesia ditampilkan tari Legong oleh Kiki, dan beberapa lagu dari saya + Dika, Ring of fire dan Derby. Alhamdulillah para penduduk senang sekali dengan hiburan ini. Saya pribadi, walau suara saya nggak sehebat para “advance”, saya bangga membawakan 3 buah lagu yang menurut saya pas sekali pilihannya.

1. Bengawan solo, dan ternyata Mr. Surin SekJen ASEAN suka sekali dengan lagu ini, sampai direquest berulang-ulang, tapi maaf ya pak, tidak ada waktunya.

2. Sukiyaki-song, karena ternyata audiencenya mereka yang hidup pada waktu lagu ini tenar, maka mereka bisa ikut bernyanyi bersama, dan rupanya suka sekali.

3. Kokoro no Tomo, Pilihannya mas Fadly. Mohon maaf ya mas, suara saya nggak bisa seimbang dengan suara mas Fadly yang luar biasa keren.

.

BUNDAKU PERAWAT 

Disela acara, Seorang “bunda” muncul dengan harmonika-nya. Tiba-tiba ia membawakan sebuah lagu tadisional Jepang yang saya lupa judulnya. Dia bilang, dia mainkan sebagai ucapan terima kasih kepada para volunteer yang hadir dan membantu (dalam bentuk apapun). Ia terharu, dan permainannya ditujukan pada kami agar kami juga bisa terhibur – karena sudah datang jauh-jauh ke Ishinomaki. Sato san namanya. Bunda adalah seorang perawat. Saya meminta izin padanya untuk memanggilnya dengan panggilan “okaasan” (bunda) dan sambil memegang tangan saya, dia mengangguk setuju. Ia sangat suka ketika saya membawakan “sukiyaki song”. Dia berkata bahwa saya harus kembali suatu saat untuk menyanyi bersamanya.

Bunda sempat bercerita tentang bagaimana akhirnya ia bisa selamat, tentang ia yang sedang berada di jalan ketika gempa terjadi, dan kaget setengah mati ketika ternyata ada air bah yang mengejarnya. Ia berlari bersama beberapa orang, dan terselamatkan ketika ada sebuah bis yang mengambil mereka dan membawanya pergi ke bukit. Alhamdulillah. Ia lalu sempat tinggal di penampungan selama 2 minggu bersama penduduk yang lain. “Setiap hari makannya hanya pisang dan minum air botol yang harus di share. Hanya ada itu saja” katanya dengan senyumnya yang teduh. Saya teringat, kisah ketika masih volunteer di crisis center KBRI, diceritakan bahwa Ishinomaki memang lumpuh total selama sekitar 2 minggu. walau ada beras, sulit untuk masak, tidak ada listrik atau gas. Air bersih pun sulit karena rembesan sisa air bah. Alhamdulillah para survivors ini sudah kembali ke rumah masing-masing jadi sudah bisa hidup dengan lebih layak. Tapi bagi mereka yang kehilangan rumah, atau yang rumahnya masih rusak dan tidak layak, mereka masih tinggal di penampungan. Sedih juga. Sebenarnya pemerintah Jepang sudah dengan maksimal berusaha memenuhi kebutuhan mereka, tapi apa daya, ini bencana nasional yang mengakibatkan kerugian sangat besar. Pemulihan pastinya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Kembali kepada bunda,  Alhamdulillah saat ini beliau sudah bisa bekerja kembali dan Alhamdulillah dalam keadaan sehat.

Ketika saatnya pulang, bunda mengantar kami hingga bis kami berangkat. Momen yang sangat memilukan. Kami melambaikan tangan pada semua orang yang berada bersama bunda mengantar kami pulang. Rasanya tidak tega meninggalkan mereka di sana. Tapi bagaimana lagi, kami tidak punya power apapun atas itu, terutama karena bagi mereka itu adalah “rumah” mereka, rumah yang akan segera mereka bangun lagi. Saya sempat memeluk bunda mengucapkan perpisahan, bunda membisikkan pada saya supaya saya tidak lupa padanya. Ia memberikan alamat pada saya, dan berharap saya akan mengirimkan surat padanya suatu hari.

oh bunda~

.

KAMI ASEAN

Kembali dari Ishinomaki menuju Sendai, dengan perasaan campur aduk. Lelah, tidak puas, sedih, senang, apapun itu – rasanya sudah nggak bisa lagi didefinisikan. Bukan hanya saya, tapi semuanya. Didalam bis sebenarnya masih ada canda, tapi sebagian besar memilih untuk diam atau tidur karena benar benar kelelahan.  Bukan sok tahu, tapi setiap orang saya yakin masih menyimpan perasaan “tanggung”.

Ada yang ajaib di mata saya sebenarnya selama program ini. Kami, volunteer, datang dari 10 negara yang berbeda. Jumlah kami 2 bis besar, dengan wujud fisik kami yang mirip. Kami eksotis. Kami para penduduk ekuator di daerah yang berdekatan, tapi anehnya kami tidak bisa mengerti bahasa masing-masing. hehe.. Misalnya mereka yang berada di Latin Amerika, semua berbahasa Spanyol, walau beda jenis, namun masih bisa paham satu sama lain. Sedangkan kami, sama sekali berbeda. Ada yang 1 rumpun, misalnya Bahasa Indonesia, Melayu dan Brunei, tapi yakin ketika bicara, sama sekali berbeda makna. Ini sungguh-sungguh menarik bagi saya. Kami datang untuk sebuah misi untuk Tohoku. Kami bersama selama 3 hari, tapi tidak berinteraksi banyak karena banyak pula yang harus kami kerjakan dalam 3 hari itu. Sudah lewat 2 hari sekarang, dan entah bagaimana ceritanya tapi kami merindukan satu sama lain. Beberapa bisa dihubungi via email atau Facebook, jadi untuk saya pribadi, baru kali ini saya bicara banyak dengan beberapa diantara mereka. Seru sekali!

Terima kasih ya semuanya. Andai kalian bisa baca ini.

.

Tulisan ini saya dedikasikan juga untuk  semua Volunteer di seluruh dunia. Semua orang yang punya kemauan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Semua volunteer yang peduli soal masalah Sendai, Fukushima, dan semua permasalahan global yang semoga lekas bisa selesai.

Saya menerima beberapa private message, terima kasih.

Alhamdulillah saya bisa berkesempatan untuk bekerja sama dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang juga beruntung bisa ikut dalam program ini. Mereka yang punya kemauan untuk berada disini untuk membantu juga. Semua Allah yang mengatur. Semoga berkah bagi kita semua yang terlibat.

asean youth caravan

Sebuah program dari Asean untuk pemuda. Alhamdulillah saya masih muda juga jadi bisa ikut. Tahun ini saya mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia bersama Kiki dan Dika. Asean Youth Caravan ini diperuntukan kepada para korban bencana dempa dan tsunami di aceh. lebih panjangnya, saya copy paste kisahnya dari pagenya. 🙂

thank you for all volunteers..

 

======

ASEAN Youth Caravan of Goodwill To Northeast Japan (3-5 June 2011) The Background: The 11 March 2011 Great Earthquake, the subsequent tsunami and the on-going nuclear power plant crisis have brought about a high number of deaths and a wide spread area of destruction and much suffering among hundreds of thousands of survivors in over 2,000 evacuation centers across Japan. On top of the immediate human tragedy, the catastrophic disruption to the Japanese economy is also immense. This is the worst crisis that the Japanese people have ever faced since the Second World War. Japan has been a most generous Dialogue Partner of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) and has been instrumental in the industrialization and economic development of the ASEAN Region since the late 1960s. Japanese private investment and the government’s Overseas Development Assistance (ODA) have poured into the member countries of ASEAN in large amounts for the past four decades, accelerating infrastructure and human resources development. The reason that the ASEAN countries have benefitted from the growth of East Asia particularly the economic dynamism of China and India today is due in large part to the earlier waves of Japanese development assistance and investment in our region. When the Great Asian Financial Crisis devastated the ASEAN economies in the late 1990s, Japan led the international efforts under the direction of the International Monetary Fund (lMF) to offer a generous package of financial aid known as the Miyazawa Plan.

Many ASEAN Member States benefited and, indeed, started to stabilize their economies and restore their financial institutions with that unprecedented multinational rescue package. When the global economic crisis came again in 2008, this time originating in the West, all the ASEAN Member States along with the larger economies of East Asia have not only been shielded from the brunt of the worst global downturn in 70 years, but have also been able to bounce back faster than the rest of the world. And East Asia, along with the ASEAN economies, have been leading the global economic recovery, serving as the new growth center and “locomotive” that is pulling the world economy out of its depth of crisis. For this very reason, the ASEAN Member States, led by the ASEAN Foreign Ministers, have shown their sincere condolences and deep sympathy for the tremendous loss of lives and physical destruction suffered by the japanese people. Outpouring of goodwill and continuous streams of donations have been flowing from the governments, the general public and the private citizens and the private business sector all across the ASEAN landscape ever since 11 March Great Earthquake.

THE ASEAN AND JAPAN FOREIGN MINISTERS MEETING: An unprecedented meeting between all 10 ASEAN Foreign Ministers and their Japanese counterpart took place at the ASEAN Secretariat on 9 April 2011. The Ministers agreed that they would do everything possible to extend a helping hand to Japan and the Japanese people to recover from the “triple catastrophe” with immediate and short, medium and long term strategies. They all realized that it would take much effort, a large scale of resources, and a long time for Japan to get back on her feet again. This, the Ministers agreed, is the time to reciprocate the generosity and goodwill that the Japanese people have shown to the people of ASEAN through the years.

photo owned by dika

THE ASEAN YOUTH CARAVAN OF GOODWILL: Realizing that hundreds of thousands of unfortunate victims of the triple catastrophe are still being housed in many evacuation centers in Northeast Japan in particular, the ASEAN and Japanese Foreign Ministers have endorsed a proposal to organize a quick “Caravan of ASEAN Youth” to show the goodwill of the ASEAN people to be supported by the civil society and the private sector at no cost to the ASEAN Member States. It was agreed that a small group of ASEAN Youth would travel to Northeast Japan to pay a visit to a few evacuation centres, perform some cultural shows, share their own personal painful experiences from similar natural disasters in recent past, and strengthen the “human bond” that has long existed between the Japanese and ASEAN peoples.

THE TARGET DATE AND PLACES: The ASEAN Youth Caravan of Goodwill is planned for 3-5 June, 2011. The Caravan will visit evacuation centers in the Northeastern coastal communities of Japan that have been devastated by the Great Earthquake and the tsunami of 11 March.

PARTICIPATION: All members of the “ASEAN Caravan of Goodwill” will be on a voluntary, pro bono, basis (charity and free of charge). Some members will travel from some of the ASEAN Member States, the ASEAN Secretariat and some will be invited from among the Tokyo-based youth or students who are interested and willing to join the Caravan of Goodwill. The 10 ASEAN embassies (The ASEAN Tokyo Committee) will be closely consulted and will support the organization of the project without any financial implications to the ASEAN Member States. The Thai Ambassador to Japan, H.E. Virasakdi Futrakul, Chairman of the ASEAN Tokyo Committee, will serve as the main Coordinator in Tokyo. All Ambassadors of the ASEAN Member States in Tokyo will advise and render support to this goodwill initiative.

CONTRIBUTIONS FROM THE MEDIA: For such a goodwill initiative to be appreciated by a wider Japanese and ASEAN public, members of the media on both sides will have to play an important role. The National Japan Broadcasting Company (NHK) has agreed to document the “ASEAN Youth Caravan of Goodwill” from the very start until the end over the 3 days period, beginning with its arrival in Japan on 3 June to its departure on 5 June. A special appearance and interview by some of the leading performers, members of the “Caravan” will be arranged for special recording for future broadcast. Some of the media representatives from ASEAN, including the media unit of the ASEAN Secretariat will be invited to join the ASEAN Youth Caravan of Goodwill. Other media representatives from the ASEAN Member States may be invited to join the Caravan.

TRANSPORT AND LOGISTICS: Thai International Airways and Air Asia have expressed their readiness to participate in the ASEAN Youth Caravan of Goodwill. The Japan Broadcasting Corporation (NHK) has expressed its interest to record all activities the ASEAN Youth Caravan of Goodwill and special interviews with possible performances studio for future broadcast and wider dissemination to the Japanese and global audience. The Chair of the ASEAN Tokyo Committee, Ambassador Virasakdi Futrakul of Thailand, and his staff have been in close contact with the Nippon Foundation, which has extensive network of volunteers and humanitarian outreach projects in the earthquake-tsunami ravaged areas in Northeast Japan, for arrangements of logistics support.

EXPECTED OUTCOME: All Governments of the ASEAN Member States have conveyed their condolences and deep sympathy to the Government and people of Japan right from the very beginning of this Triple Tragedy. The ASEAN people themselves, in their own separate ways, have joined hands in raising donations for the victims of the Catastrophe. The ASEAN Secretariat is spearheading this ASEAN Youth Caravan of Goodwill, with full support of the private entities and the civil society community in ASEAN, to convey yet another message of goodwill and a sharing of loss and pain that the people of ASEAN feel in the suffering of our Japanese friends. The project, with participation of ASEAN performing artists and youth, will have a lasting impact on the Japanese public through the support of the Japan Broadcasting Corporation (NHK). This strong “human bond of goodwill” will certainly serve as an even firmer foundation for future cooperation between Japan and ASEAN.”

hari ke-sebelas

11 hari dan 10 hari untuk saya

Hari ini memasuki hari ke sebelas pasca gempa – tsunami di Miyagi. Saya yang sejak hari ke 2 sudah memvolunteer-kan diri di kedutaan, sudah seperti hatam dengan flow kerja crisis center disini. Tinggal di gedung kantor kedutaan selama 10 hari; makan, tidur, mandi, ngobrol semuanya dilakukan disini. Mungkin juga ini hari ke 10 saya nggak punya cukup waktu untuk tidur dan melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri. Selama itu juga saya tiba-tiba tidak merasa berada di Jepang. Saya sudah merasa dirumah. Walo ber-volunteer seperti ini, tapi sungguh nikmat sekali bisa berbicara bahasa Indonesia dengan joke-joke Indonesia yang sudah rindu sekali saya dengar.. 🙂

10 hari bekerja di call center, membuat saya ‘nge-blend’ dengan kondisi dan situasinya. Setiap hari menerima telpon, mendengar curahan hati orang yang kehilangan keluarga, suara2 putus asa akibat tak bisa menghubungi sanak saudara atau kerabat. Well, mungkin itu juga perasaan yang dirasakan keluarga ketika saya sibuk dan tak sempat menghubungi mereka karena terlalu sibuk.. (maaf bunda, adik2ku sayang, keluarga, temen2, otto juga)..  Tapi tapi tapi, mungkin karena itu ya, saya kini ber – empati dengan kasus kasusnya, jadi rasanya tergerak banget untuk terus membantu proses pencarian ini. Hari demi hari, laporan orang hilang makin bertambah, sedih rasanya ketika telpon hotline kami berdering. Telpon berdering artinya laporan orang hilang. Ya Allah, semoga mereka ini baik-baik saja. Tapi kita disini juga sangat bahagia, ketika kita mencoba mencari via telpon, lalu telponnya di jawab oleh si pemilik telpon dan menyatakan mereka baik-baik saja. Apa yang lebih membuat kami berbahagia adalah ketika kami bisa menemukan dan mengevakuasi para korban yang terkena dampak langsung gempa tsunami di Miyagi dan radiasi nuklir di Fukushima. Melihat mereka secara langsung, melihat mereka masih sehat dan masih bisa tersenyum membuat saya bangga bisa berada di posisi ini.

Beban untuk saya, bukan hanya saya tapi kami

Tantangan terberat yang kami hadapi adalah pemberitaan di media masa yang sangat berlebihan. Terutama di negri sendiri. Kami yang harus bertugas dengan kepala dingin dan ketenangan harus kerap kali menahan tangis ketika kami sendiri mendapat telpon dari keluarga kami di Indonesia dan kepanikan dengan berlebihan karena telah menyimak berita dalam negri yang menyiarkan berita tidak sesuai porsinya terutama mengenai radioaktif. Sangat umum kami mendengar rekan kami sendiri harus berjuang mati-matian untuk meyakinkan keluarganya agar bisa tetap bertahan hidup di Jepang. Saat itu pula kami harus mengangkat telpon dan mengubah getar suara kami agar tetap tenang, dan menenangkan para penelpon yang kepanikan baik mencari keluarga, maupun panik karena ancaman radioaktif dari plant nuklir yang sebenarnya tidak perlu di khawatirkan sebegitunya.

Kami saat itu, para volunteer yang berada di crisis center, kami yang semuanya merupakan mahasiswa, sangat kecewa dengan pemberitaan media. Kami sempat emosi karena pemberitaan yang semakin mengganggu. Saat itu, mereka bukan menjual berita. Mereka hanya memikirkan cara mendapat banyak respon dan rating. Mereka tidak bisa memilah fakta yang mereka dapat dan memaparkannya dengan benar. Saat itu, semua pemberitaan yang seharusnya menjadi sumber informasi saya rasa hanya berujung sebagai dilema bagi masyarakat – mungkin hampir di seluruh dunia. Payah!

Alhamdulillah, surat yang dikirimkan oleh persatuan pelajar Indonesia – Jepang atas nama mas Fithra didengar juga oleh media. Dan sejak itu pemberitaan pun berubah lebih terarah dan lebih baik.

Evakuasi

Suatu hari tim crisis center kami harus melakukan evakuasi terhadap keluarga-keluarga yang berada di Fukushima. Saat itu keadaanya sangat mencengangkan. Power plant nuklir sedang pada posisi teratas tingkat bahaya. Ketika semua orang mencoba melarikan diri dari daerah situ – dan bahkan tokyo dan sekitarnya, tim kami malah masuk mendekati daerah situ untuk melakukan penjemputan. Dengan berbagai aturan, misi ini dijalankan. Tim lapangan tidak punya banyak waktu. karena ada limit tertentu, bahwa manusia bisa berada di daerah terradiasi begitu. Kami di call center saat itu menjadi penengah – komunikasi antara pihak penjemput dan korban. Kondisinya sangat  menegangkan. Berpacu dengan waktu. Namun Alhamdulillah kami berhasil menyelamatkan 16 orang dalam hari itu, dan 9 diantaranya adalah anak-anak. Kami semua berteriak bahagia ketika mendapat kabar bahwa penjemputan berhasil, dan mobil evakuasi kembali ke Tokyo. Luar biasa! yang terpikir dikepala saya saat itu adalah :

“kalau pemberitaan di media benar, bahwa radiasi nuklir sudah sangat mengkhawatirkan, dan saya harus menjadi korbannya, saya tidak akan menyesal, saya akan sangat berbangga karena saya ada bersama mereka yang berjuang menyelamatkan orang lainnya, dan untuk saya, terutama karena akan ada 9 anak kecil yang terselamatkan. Jadi apalah artinya pengorbanan  ‘satu saya’ kalau di masa depan akan ada 9 anak yang mungkin akan tumbuh besar jauh lebih baik dari saya.. 🙂

Terharu ketika kami menerima sms, email, atau pesan-pesan terima kasih dan penyemangat. Saya terkadang juga mendapatkannya di email, akun SNS atau Handphone pribadi saya. Well, semua bukan untuk saya, tapi tim hebat tempat saya berada..

Mungkin teman-teman volunteer lainnya punya pendapat berbeda tentang alasan mereka berjuang di crisis center ini. Tapi Insyallah, apapun tujuan mereka, tujuan saya, semoga Allah membalas niat baik kami dengan mendengar doa yang selama ini kami panjatkan, untuk menyelamatkan kita semua. amin.