they’re so special

they're so special

Sebuah kisah yang dikabarkan hari ini di Yahoo News, tentang seseorang yang bersimpati pada sebuah keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Seseorang yang bahkan tidak mengenal keluarga tersebut dengan jiwa dermawannya mengungkapkan simpatinya dengan membayar makanan yang keluarga tersebut makan di sebuah restoran dan meninggalkan notes berisi kalimat “God only gives special children to special parents” (Tuhan hanya memberikan/menitipkan anak-anak special pada orang tua special pula) lalu ia meninggalkan keluarga tersebut tanpa meninggalkan nama ataupun meminta imbalan sedikitpun walau hanya pujian.

Seberapa peduli kita dengan perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus?
maukah kita mensupport mereka agar bisa menjadi istimewa, mandiri dan berkarya?

story was taken from: http://news.yahoo.com/stranger-diner-note-family-epilepsy-131659087.html

kisah bengawan solo di ishinomaki

mata airmu dari solo,

terkurung gunung seribu..

air mengalir sampai jauh,

akhirnya ke laut..

Tanggal 3, 4, 5 Juni kemarin, kami, perwakilan pemuda ASEAN dikirim ke Sendai untuk mengadakan sebuah event bernama “ASEAN YOUTH CARAVAN” yang di sponsori oleh ASEAN dan Nippon Foundation dan bekerja sama dengan Gakuvo. Ini adalah bagian dari program ROAD Project milik Nippon Foundation dalam merehabilitasi Sendai dari kerusakan (baik fisik dan mental) yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami, 11 Maret lalu. Alhamdulillah saya bisa ikut ambil bagian didalamnya, bersama orang-orang hebat lainnya yang mau menyediakan waktunya untuk bervolunteer tanpa takut akan segala macam resiko yang mungkin akan dihadapi.

Dua hari ini saya terus-terus memutar rekaman suara latihan lagu bengawan solo, dan lagu-lagu lain yang dibawakan di Ishinomaki. Sayang sekali hanya ada sebagian. Mendengarkan vocal mas Fadly dan Derby.. Suara gitar Yoseph dan Dika, suara gitar bass mas Rindra.. Sedikit diselingi suara lagu tari Bali-nya kiki juga.

Tulisan kali ini agak panjang, jadi saya beri sekat-sekat, supaya mudah membacanya. Kumpulan kisah Bengawan Solo di Ishinomaki..

.

MALAM LATIHAN

Malam itu, 3 Juni 2011, Sekitar tengah malam, jadi bisa dibilang juga tanggal 4 kali ya. Setelah perjalanan panjang dari Tokyo ke Sendai, setelah terenyuh menyaksikan kota Natori, bagi saya malam itu sungguh merupakan malam refreshing. Mengembalikan semua mood agar kembali fit untuk misi besok. Malam itu penuh canda, malam yang aneh! heheu.. Kita semua ketawa-ketawa saling bercanda, sampai akhirnya sekitar pukul 1 pagi, terjadi gempa yang berpusat di Iwaki, Fukushima. 5,6 skala. Well, untuk saya dan Dika yang saat itu berada di lantai 19 bersama rombongan yang lain, hal itu sudah biasa. Lumayan lama dan mengagetkan. Teman-teman Indonesia yang lain sampai berlarian keluar kamar. Kasihan, sedih jadinya, tapi lucu juga.. :p hehe~

Saya kembali ke kamar sekitar pukul 2 pagi. Saya sekamar dengan Kiki dan Amy, dari Malaysia di lantai 8. Semua sudah lelap tidur. Saya memandangi kota, berharap ini itu untuk Ishinomaki. Saya tidak punya bayangan sama sekali soal misi besok. Saya sangat antusias untuk bertemu para penduduk setempat.

.

KOTA BERNAMA ISHINOMAKI

*saya masih sambil mendengarkan si rekaman, nostalgia*

Pagi hari, bangun pagi dan membantu Kiki untuk menggunakan kostum tari-nya. Nggak sarapan. Ternyata ada roti. Alhamdulillah, orang baik disayang Allah :p

Ngaret sampai tempat tujuan, but no problem, sepertinya, setidaknya yang terlihat.

Tim langsung dibagi menjadi 3. Mud diggers, Kitchen dan Performance. Saya ada di Performance. Inginnya ikut Mud Diggers, tapi waktunya nggak mungkin terkejar untuk perform.  Tapi akhirnya dapat kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk Ishinomaki, ketika saya ikut tim yang menyebar undangan ke event ASEAN di situ. Nggak banyak yang bisa diobrolin waktu menyebar undangan sih sebenarnya, tapi lumayan, melihat mereka antusias dengan acara ini membuat saya lega. Waktu menyebar undangan itu, saya sempat berjalan dengan Dika, mas Rindra, Yoseph, mbak Ken, mas Indra dan Derby. Kiki dan beberapa teman lain terpisah dalam tim yang satunya. Sebenarnya dalam perjalanan kita sempat tertawa-tawa sambil berlatih untuk bisa bicara dengan penduduk yang kita ketuk pintu rumahnya, tapi setiap kali kita menjumpai rumah yang tidak lagi berpenghuni, tawa kami berubah menjadi muram.

Sebuah rumah kami ketuk. Muncul seorang wanita kira-kira usianya lebih dari 60 tahun, saya rasa. Rumahnya terletak di pinggir sungai. Saya yakin waktu tsunami kemarin, ia juga terkena air bah-nya, namun kini rumahnya sudah terlihat bersih dan beliau juga sudah tinggal di rumah itu. Kami mengundangnya ke acara. Ia tersenyum dan dengan ceria berkata bahwa ia akan datang. Senang sekali rasanya, kami pun sambil tertawa-tawa bercanda dengan beliau. Waktu kami pamit dan bilang mau melanjutkan mengirim undangan ke rumah rumah sekitar situ, Ia berkata bahwa ia satu-satunya keluarga yang kembali ke blok itu. Kami kelu, tidak ingin melanjutkan pertanyaan. Tapi kami juga penasaran, kemana kira-kira pemilik rumah rumah itu. 😦

Berkeliling cukup lama, sampai sempat salah masuk ke area yang dilarang pula. Tapi sangat menarik, saya pribadi mendapat 2 impresi. sedih dan lega. Sedih karena ternyata banyak sekali rumah yang penghuninya tidak kembali kerumah, atau semoga saja belum, dan akan kembali suatu saat nanti. Lega karena para penduduk yang sudah kembali, sudah bisa melakukan kegiatan secara (relatif) normal di rumahnya masing-masing. Saya tidak tahu persis bagaimana, tapi yang jelas mereka mau mengusahakan untuk mengembalikan kehidupan mereka seperti sedia kala, walau dengan usaha sendiri.

Acara ASEAN CARAVAN sendiri sudah mulai dibuka dan mulai membagi-bagikan makanan pada pukul 11. Antrian dari para penduduk lumayan panjang. mereka antusias. Alhamdulillah. Karena yang menjadi panitia inti acara adalah thailand, maka mereka menyediakan thai food. Menurut panitia inti, mereka menyediakan makanan untuk sekitar 400 orang. Selain itu juga dibagikan berbagai sandang dan pangan untuk para penduduk Ishinomaki. Dari yang datang, dan mereka yang saya berhasil datangi rumahnya, saya mendapat kesimpulan, bahwa jumlah orang lanjut usia di daerah ini sangat sangat banyak. Ya Allah.. Terharu rasanya. Sedih sih.. Saya ingin ada disana membantu mereka lebih.. 😦 Saya mendapat impresi yang sama dari teman-teman volunteer yang lain. Berada disana, membantu merawat para oma opa ini pasti sangat berguna. Andai saya punya banyak waktu.

Pada acara siang, teman-teman menampilkan berbagai adat dari negara masing-masing. Dari Indonesia ditampilkan tari Legong oleh Kiki, dan beberapa lagu dari saya + Dika, Ring of fire dan Derby. Alhamdulillah para penduduk senang sekali dengan hiburan ini. Saya pribadi, walau suara saya nggak sehebat para “advance”, saya bangga membawakan 3 buah lagu yang menurut saya pas sekali pilihannya.

1. Bengawan solo, dan ternyata Mr. Surin SekJen ASEAN suka sekali dengan lagu ini, sampai direquest berulang-ulang, tapi maaf ya pak, tidak ada waktunya.

2. Sukiyaki-song, karena ternyata audiencenya mereka yang hidup pada waktu lagu ini tenar, maka mereka bisa ikut bernyanyi bersama, dan rupanya suka sekali.

3. Kokoro no Tomo, Pilihannya mas Fadly. Mohon maaf ya mas, suara saya nggak bisa seimbang dengan suara mas Fadly yang luar biasa keren.

.

BUNDAKU PERAWAT 

Disela acara, Seorang “bunda” muncul dengan harmonika-nya. Tiba-tiba ia membawakan sebuah lagu tadisional Jepang yang saya lupa judulnya. Dia bilang, dia mainkan sebagai ucapan terima kasih kepada para volunteer yang hadir dan membantu (dalam bentuk apapun). Ia terharu, dan permainannya ditujukan pada kami agar kami juga bisa terhibur – karena sudah datang jauh-jauh ke Ishinomaki. Sato san namanya. Bunda adalah seorang perawat. Saya meminta izin padanya untuk memanggilnya dengan panggilan “okaasan” (bunda) dan sambil memegang tangan saya, dia mengangguk setuju. Ia sangat suka ketika saya membawakan “sukiyaki song”. Dia berkata bahwa saya harus kembali suatu saat untuk menyanyi bersamanya.

Bunda sempat bercerita tentang bagaimana akhirnya ia bisa selamat, tentang ia yang sedang berada di jalan ketika gempa terjadi, dan kaget setengah mati ketika ternyata ada air bah yang mengejarnya. Ia berlari bersama beberapa orang, dan terselamatkan ketika ada sebuah bis yang mengambil mereka dan membawanya pergi ke bukit. Alhamdulillah. Ia lalu sempat tinggal di penampungan selama 2 minggu bersama penduduk yang lain. “Setiap hari makannya hanya pisang dan minum air botol yang harus di share. Hanya ada itu saja” katanya dengan senyumnya yang teduh. Saya teringat, kisah ketika masih volunteer di crisis center KBRI, diceritakan bahwa Ishinomaki memang lumpuh total selama sekitar 2 minggu. walau ada beras, sulit untuk masak, tidak ada listrik atau gas. Air bersih pun sulit karena rembesan sisa air bah. Alhamdulillah para survivors ini sudah kembali ke rumah masing-masing jadi sudah bisa hidup dengan lebih layak. Tapi bagi mereka yang kehilangan rumah, atau yang rumahnya masih rusak dan tidak layak, mereka masih tinggal di penampungan. Sedih juga. Sebenarnya pemerintah Jepang sudah dengan maksimal berusaha memenuhi kebutuhan mereka, tapi apa daya, ini bencana nasional yang mengakibatkan kerugian sangat besar. Pemulihan pastinya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Kembali kepada bunda,  Alhamdulillah saat ini beliau sudah bisa bekerja kembali dan Alhamdulillah dalam keadaan sehat.

Ketika saatnya pulang, bunda mengantar kami hingga bis kami berangkat. Momen yang sangat memilukan. Kami melambaikan tangan pada semua orang yang berada bersama bunda mengantar kami pulang. Rasanya tidak tega meninggalkan mereka di sana. Tapi bagaimana lagi, kami tidak punya power apapun atas itu, terutama karena bagi mereka itu adalah “rumah” mereka, rumah yang akan segera mereka bangun lagi. Saya sempat memeluk bunda mengucapkan perpisahan, bunda membisikkan pada saya supaya saya tidak lupa padanya. Ia memberikan alamat pada saya, dan berharap saya akan mengirimkan surat padanya suatu hari.

oh bunda~

.

KAMI ASEAN

Kembali dari Ishinomaki menuju Sendai, dengan perasaan campur aduk. Lelah, tidak puas, sedih, senang, apapun itu – rasanya sudah nggak bisa lagi didefinisikan. Bukan hanya saya, tapi semuanya. Didalam bis sebenarnya masih ada canda, tapi sebagian besar memilih untuk diam atau tidur karena benar benar kelelahan.  Bukan sok tahu, tapi setiap orang saya yakin masih menyimpan perasaan “tanggung”.

Ada yang ajaib di mata saya sebenarnya selama program ini. Kami, volunteer, datang dari 10 negara yang berbeda. Jumlah kami 2 bis besar, dengan wujud fisik kami yang mirip. Kami eksotis. Kami para penduduk ekuator di daerah yang berdekatan, tapi anehnya kami tidak bisa mengerti bahasa masing-masing. hehe.. Misalnya mereka yang berada di Latin Amerika, semua berbahasa Spanyol, walau beda jenis, namun masih bisa paham satu sama lain. Sedangkan kami, sama sekali berbeda. Ada yang 1 rumpun, misalnya Bahasa Indonesia, Melayu dan Brunei, tapi yakin ketika bicara, sama sekali berbeda makna. Ini sungguh-sungguh menarik bagi saya. Kami datang untuk sebuah misi untuk Tohoku. Kami bersama selama 3 hari, tapi tidak berinteraksi banyak karena banyak pula yang harus kami kerjakan dalam 3 hari itu. Sudah lewat 2 hari sekarang, dan entah bagaimana ceritanya tapi kami merindukan satu sama lain. Beberapa bisa dihubungi via email atau Facebook, jadi untuk saya pribadi, baru kali ini saya bicara banyak dengan beberapa diantara mereka. Seru sekali!

Terima kasih ya semuanya. Andai kalian bisa baca ini.

.

Tulisan ini saya dedikasikan juga untuk  semua Volunteer di seluruh dunia. Semua orang yang punya kemauan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Semua volunteer yang peduli soal masalah Sendai, Fukushima, dan semua permasalahan global yang semoga lekas bisa selesai.

Saya menerima beberapa private message, terima kasih.

Alhamdulillah saya bisa berkesempatan untuk bekerja sama dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang juga beruntung bisa ikut dalam program ini. Mereka yang punya kemauan untuk berada disini untuk membantu juga. Semua Allah yang mengatur. Semoga berkah bagi kita semua yang terlibat.