after the D-day

11 Maret 2011, Hari yang diawali dengan pagi yang indah berakhir dengan tangis. Sebuah bencana tejadi. Gempa dengan 8,8 skala richter yang mengakitbatkan Tsunami terjadi di Miyagi – Sendai, Jepang.  Bukan hanya sendai yang menderita, tapi hampir semua tempat di seluruh Jepang, terutama yang berada di pantai timur. Ibaraki  dan Chiba, air laut masuk ke daratan membawa sampah – sampah yang dihanyutkannya mungkin dari utara. Tidak berhenti disitu, dan bukan hanya banjir, gempa pun ikut menyertai. Gempa susulan yang terus terus terjadi seakan meratakan penderitaan para penduduk Jepang. Niigata dan Nagano juga ikut digoncang dengan lebih dari 6 skala richter gempa dan menghancurkan gedung dan jalanan. Tidak pula cobaan itu berhenti, kali ini tempat penampungan minyak ikut terbakar di daerah Chiba, dan sebuah PLTN di Fukushima pun ikut bereaksi – meledak mengakibatkan radiasi yang hingga kini diperkirakan dampaknya masih akan meluas.

Allah ya Allah… Allahuakbar..

Saya tinggal di Hiyoshi, Yokohama. Sekitar 400 kilometer dari Miyagi dan 300 kilometer dari Fukushima. Alhamdulillah saya selamat, walau di hari pertama sempat banyak mengkhawatirkan orang karena black out yang terjadi di kota saya. Alhamdulillah sehat wal afiat, walau lelah luar biasa karena tidak bisa tidur sama sekali. Iya, saya paranoid, karena sampai sekarang gempa masih saja terjadi. mungkin setelah ini saya butuh untuk mengikuti rehabilitasi mental. Tapi, saya tidak boleh give up begitu saja. Ini bukan cuma perasaan saya, tapi saya yakin, semua orang di seluruh Jepang merasakan hal yang sama. Bismillah, berdoa dan berjuang, Insyallah, Allah akan melindungi saya dan semua teman – keluarga – kerabat semuanya.

Malam ini saya pindah ke kedutaan, sebelumnya saya berfikir untuk tinggal di kampus saja. Namun setelah saya fikir, mungkin tenaga saya yang tersisa ini bisa saya gunakan untuk membantu teman-teman mahasiswa lain di kedutaan Indonesia sebagai volunteer. Mereka menempatkan saya di call centre. Tugas saya menelpon rekan-rekan Indonesia yang hingga saat ini masih belum dapat dihubungi. Dan luar biasa pengalaman yang saya dapat. Ternyata pekerjaan ini tidak mudah. Setelah saya bisa menghubungi mereka, terkadang saya harus berubah menjadi pendengar dan menenangkan mereka dari ketakutan yang mereka rasakan.

“mbaaak, saya takut.. saya ingin dijemput.. segera ya mbak!!”

Bayangkan, saya tinggal 300 kilometer dari Fukushima, saya merasakan hal yang sama, saya ingin pulang ke Indonesia dan saat ini saya harus menjawab pernyataan itu, pernyataan mereka yang tinggal kurang dari 100 kilometer dari Fukushima. Bagaimana seorang saya yang juga sedang ketakutan harus berusaha menenangkan mereka. Tenang ya semua, Kami juga berusaha untuk melakukan penjemputan. Semoga Allah memberikan kekuatan agar semua berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Allah ya Allah…

Semoga juga saya dapat kekuatan untuk bisa membantu menenangkan mereka. Saya ingin punya kekuatan lebih untuk membantu mereka keluar dari lokasi itu.. ya Allah…

Dan bagaimana pula dengan mereka yang tidak bisa saya hubungi.. Ternyata ini memang bukan pekerjaan yang mudah.. tapi semoga saya bisa menjalankan amanah ini dengan baik. Semoga Allah menolong saya, mereka dan semua orang agar bisa terlepas dari cobaan ini..

Allahuakbar.. Insyallah….

ps :: dari lubuk hati yang paling dalam, saya memohon doa untuk saudara2 kita disini..

Advertisements