wabbit was here!

wabbit was here!

my truly mission is to find the real story about my ancestors.. but somehow, i’m enjoying traveling in this country..  a bit shy that i’m not traveling too much in my own country.. it’s because of some “strick rules” that i’m living in.

I am now traveling in Kyushu for filming Kokoronotomo TV program. NO! i am not working for metro tv.. feel blessed to be in this production team. to see Japan deeper and get ore insight and have more reason to love this country. well, I am proud to be Indonesian who travels a lot in Japan, even more than the local people here..  :p hehehe!!!

I was not a traveler. I was just a down town girl with a big dream. i just want to see the world, in anyways..

kakisayah

Now, because i feel like i have more “power” to step up and feel my freedom,  i am wearing this anklet..

Talking about this anklet, i made it my self when i went traveling with Taiji to visit Ryoko and Kenji in Fukuoka 2 years ago.. and funny, i will be in Fukuoka by the end of this journey – almost exactly anniversary of my beloved anklet.. :p

Actually i promise my mother to dismiss this anklet after my wedding day.. but Hopefully my mom will have mercy for me , so i can  still wearing this anklet.. :p

ow, should i make a petition, so i won’t have to loose it?? hehehe~

Advertisements

ketika saya kembali 2

Salju turun terus menerus. Kehidupan saya 19 tahun lalu jadi sangat berbeda. Saya yang bocah tropis harus tinggal di Jepang berbulan-bulan untuk menemani ayah saya menjalani operasi paru-paru karena kankernya. Saat itu saya sepertinya sudah mengerti, namun ayah dan ibu saya tidak mau menjelaskan apapun mengenai detil yang terjadi. Tapi saya yang berumur 8 tahun saat itu harus menyaksikan banyak air mata. Terkadang saya harus menyimpan perihnya karena tidak mau ibu saya tahu bahwa saya mengerti bahwa keadaan ayah saya sangat buruk – saat itu. Saya tidak punya teman, Sat masih 3 tahun, ibu saya tertutup, saya nggak sekolah juga selama itu. Kalau keluar rumah, udara sangat dingin dan gelap sekali ketika malam – bahaya untuk seorang anak 8 tahun yang tidak bisa berbahasa Jepang. Tidak ada internet, apalagi smartphone. Teman saya? Toilet dan apel (baca posting sebelumnya). Ketika saya sedih, saya masuk kedalam toilet hanya untuk duduk bermain dengan tissue dan apel, wangi toilet membuat saya nyaman dan tenang.

Pada malam hari, Ibu membuat ramuan tradisional, air panas + bawang putih + biji kacang hijau didalam termos kecil sambil berdoa untuk kesembuhan ayah. Paginya, sekitar pukul 8 pagi, kami dibangunkan untuk mandi dan bersiap untuk ke rumah sakit. Sebelumnya – ibu suka sekali menyiapkan soto ayam dari bumbu indofood. Saya ingat alat makan saya hello kitty berwarna pink, punya sat doraemon biru. Ayah yang belikan. Setelah sarapan, kami siap menerjang salju untuk menjenguk ayah.

Melewati lorong jalan kecil yang panjang, melewati pom bensin, bertemu jalan besar, menekan tombol untuk menyebrang, menuruni tangga, melewati belakang skolah, melihat anak-anak sekolah, belakang rumah sakit, parkiran rumah sakit, pintu kanan rumah sakit, lalu bertemu dengan konbini dan vending machine yang menjual kopi kesukaan ayah “georgia coffee”, toilet umum yang bau sekali, dan lalu lift. Ketika tiba di lantai 7, ayah selalu baru selesai mandi dan menunggu kami di kasur rumah sakitnya. Ruangan ayah kalau tidak salah ada 6 atau 8 orang. Ayah tinggal di dekat jendela di sisi kiri. Saya ingat benar, ayah suka menukar bento saya dengan makanan rumah sakitnya. kenapa? Karena saya suka makan ikan punya ayah. Ketika jam makan siang, ayah yang memilih makan di common room, selalu menyuruh saya mencari dan membawakan makanannya serta membantu suster2 mendorong trolly makanan ke arah para pasien yang duduk di common room.

Saya melakukan itu setiap hari. 7 hari seminggu. Terkadang malah saya pergi sendirian dari rumah karena ibu sakit. Saya selalu senang pergi ke rumah sakit. Teman saya bertambah 1, Ayah.

Saya yang tidak bersekolah, diajari ayah ini itu. Matematika, gambar, bahasa Jepang (untuk usia saya saat itu), dan yang terpenting – pelajaran bagaimana saya harus bisa “berteman” dengan “siapapun”. Saya ingat, di lantai ayah ada ruang karantina untuk penderita TBC. Untuk mereka yang menderita TBC ringan, mereka diperbolehkan keluar dari bangsal mereka dan berinteraksi dengan pasien lain dengan menggunakan masker dan sterilizer. Ibu saya sempat protes pada ayah, karena itu sangat berbahaya. Saya ingat teman baru saya itu, mungkin usianya sekitar 20-an, laki-laki dan lebih tinggi dari pada ayah. SAya juga berteman dengan seorang suster bernama Junko. Dia sangat cekatan dan lincah. Setiap hari dia yang membantu mengukur tensi ayah saya. Dan Suster Junko memberikan kepercayaan pada saya untuk mengukur suhu tubuh ayah dan menyiapkan obat untuk ayah.

Kalau ayah tidur, saya bermain di common room sambil menonton tv, atau tidur di sofa common room. Bahaya? tidak juga, suster-suster ikut menjaga saya. Dan para pasien lain tau bahwa saya anak – ayah saya. Sehingga terkadang mereka malah mengajak saya mengobrol. Kalau saya bosan, saya bisa main ke lobby lantai 1, atau menelpon ibu saya lewat telpon umum.

Saya belajar banyak dari kehupan saya 19 tahun lalu. Saya tidak menyesal karena saya tidak bersekolah, tidak punya teman. Saya bahagia bisa meluangkan waktu dengan ayah saya.  Terima kasih Ayah.

ketika saya kembali 1

Sekitar 19 tahun yang lalu, saya sempat tinggal di Jepang beberapa bulan. Saat itu ayah saya mesti menjalani operasi ke 2-nya karena kanker paru-paru. Ayah saya tinggal di sebuah kota bernama Morioka di Iwate perfektur, dan saat itu beliau mesti tinggal di rumah sakit selama berbulan-bulan karena penyakitnya. Saya tinggal di apartemennya bersama Ibu dan adik saya, Sat.

Saya masih ingat sangat jelas hari ketika pertama kali saya mendarat di Narita, saya dijemput oleh 2 paman saya yang juga tinggal di Jepang. Seperti dunia yang sangat berbeda. Bangunan kokoh yang terkesan dingin, dengan orang yang super banyak dan berjalan sangat cepat. Sangat berbeda sekali dengan rumah saya di Indonesia yang dikelilingi sawah dan banyak kerbau, ayam, kucing. Saya ingat saat itu harus naik bus ke Tokyo dan naik shinkansen untuk pertama kalinya. Bulan November. Dingin sekali, dan saat itu shinkansen sangat penuh, tidak adalagi tempat duduk. Saya yang masih sangat mengantuk harus duduk diatas koper menahan kantuk karena takut.
Tiba di Morioka, kami naik taxi berwarna hitam yang pintu penumpangnya bisa terbuka sendiri. Berlari dari dinginnya malam yang sudah sangat gelap, saya pun masuk ke taxi yang hangat dan segera tertidur. Tidak sampai 20 menit, kami tiba di depan gang apartemen ayah. Saljunya sangat tebal. mungkin sepinggang saya saat itu, saya menyentuhnya. Salju itu ………….. empuk! lalu berlari ke dalam apartemen.

Apartemen ayah seperti rumah 1 lantai. Masuk melalui sebuah pintu kecil,  bau khas pemanas menyambut. Ketika masuk – disebelah kiri ada sebuah pintu kayu, which is toilet  yang baunya enak sekali. Baunya seperti bau es, bau kayu, dan pembersih toilet. Harus masuk sebuh pintu lagi untuk sampai kedalam. yang pertama terlihat adalah sebuah ruang makan kecil dengan kotatsu yang diatas mejanya banyak sekali bumbu-bumbu seperti kecap – saos dan sebagainya, ada dapur dengan jendelanya dan sebuah pintu ke kamar mandi. Di sisi lain, sebuah pintu ala rumah nobita, dan ketika dibuka, whala~ kamar ayah. Ayah tidur dengan futon, seperti alas tidur nobita. Di dalam kamar ada TV 14 inch berwarna merah dengan antena, disebelahnya ada pemanas ruangan yang diisi dengan bensin – sehingga baunya sangat khas, dan sebuah telpon kuno berwarna putih yang nomornya harus diputar, seperti di rumah eyang jaman dulu. Di atas TV, ada foto keluarga dan 2 buah apel yang sudah kisut. Masing-masing apel ditempeli selotape yang diberi nama : Annisa dan Satya. Menurut om, ayah ingin bilang “selamat datang anak2”. I miss him immediately. Kami sudah berpisah selama setahun lebih sebelum ayah divonis kanker.
Saya ingat saat itu ibu mengeluarkan jaket untuk saya dan sat pakai. Kami akan ke rumah sakit malam itu juga.

Dengan Taxi yang sama, kami segera ke rumah sakit. Jaraknya sangat dekat. Saya ingat jalan menuju kesana. Saat itu sudah gelap dan salju juga turun, tapi saya bisa melihat balik bahwa kami melewati gang yang sepi berselimut salju, diujung jalan terdapat pom bensin dan lalu keluar jalan besar.

Sampai rumah sakit, saya naik ke lantai 7. Begitu lift terbuka, ibu langsung lari keluar bahkan melepas tangannya dari saya dan sat karena ibu segera menemukan sosok ayah di common room rumah sakit, di sebelah kiri lift. Ayah sedang menonton TV dengan pasien lainnya. Dengan kimono rumah sakit berwarna biru, gelang pasien dan tubuh yang mengurus, ayah memeluk ibu. Aku dan Sat sentak kaget, dan segera berlari ke pelukan mereka. Saya ingat adegan itu membangunkan emosi semua orang yang ada disitu untuk ikut menitihkan air mata.

Ketika akhirnya Ayah bisa memberi fokusnya padaku, saya membisikkan sebuah kalimat padanya “Aku sayang ayah”.

Hari yang sangat bersejarah untuk saya. Hari pertama saya menginjakkan kaki saya di Jepang, hari dimana ketika akhirnya saya bisa bertemu dan memeluk Ayah.

in love with 30 person in one time

Have you ever been fallin in love in 30 person in one time?

I have..

Being one of the Nippon Foundation Nikkei Scholarship – Student is a delightful and one of many reasons for me to be happy. Not only because of the opportunity to study in Japan, but also the opportunity to learn about leadership, humanity, social, culture and many more. But the more reason that i am really happy to be one of the scholar is I am being part of a big family that have a very tight bond – with love and care to each other.

NFSA private beach party

We came from many different countries, different languages but we have the same common, we’re all nikkei. Some of us had a very difficult childhood were people hate us because we’re mix blood, but we’re all survive – and now together and bring those bad memories as things that we learned and started our live as a better person.

Okinawa Castle tour

As a Scholar, one of the opportunity is getting to getter with other Nippon Foundation Nikkei Scholar to have many activities. One of it is Kenshu (training), where we can have workshop, lecture, and vacation together. We’re also being together and think how we can do a social activity – share our experience and knowledge to other. What a great opportunity, isn’t it? We have a media to do something for someone else. New Link, new friends, new opportunity. And this time, we went to Okinawa for our Kenshu. Was really fun!!

Check in for the Hotel

For your information, our Okinawa was not just an Okinawa. Was not just a Holiday. Many meetings, lecture and workshop were the main activity. Even though we went to some tourism spots, for me those were not even holiday – because we still did our meeting there. For me, i got my holiday feelings when i was talking with the other, sharing, eating and drinking, singing and laugh together – even we did it in the middle of the meeting. For me, the happiest feeling was when i woke up then i saw my sisters were also there, and i saw my brothers “morning face” in the restaurant while they were having breakfast. Glad feelings was when i felt so miserable then my sisters and brothers hugged me from your back and say “It’s okay, icha..”.

OKA - Naha International Airport, Okinawa

Hm..

This group always makes me feel okay.. this group always makes me feel to free.. they allow me to be my self.. i love them! I love my NFSA brothers and sisters.

Half of us will be graduated next march, and new member will replace them. Me too, I will be graduated soon. This makes me so mellow. If i am going back to Indonesia, i won’t know when will i meet them again. I might gone before i can say that i love them.. But this is life.. 🙂

oww…

I miss the old days when we always had dinner and celebrate anything that we can just to enjoy the time together with everyone 🙂

Hope we can do it again soon! Miss you all!

ps : Pictures taken from William’s canpan blog..

indonesia kita vol.1.. berhasil!!!!!! <3

  • 2011.12.11(Sun)<Tanggal 11, Desember>

    『Indonesia Kita!-インドネシア、キタ!-vol.1』

    ホームページ:http://indonesiakita.net/

    Place:Live House APIA40 (Gakugei-daigaku station)

    Time:open 13:00 start 13:30

    Ticket:¥2500+1drink /¥1500+1drink (Indonesian)

    Cast: Hiroaki KATO/加藤ひろあき

        Ari Sudarmanto (from Pulau Merah Cafe)

        Reisha Humaira

        Novriana Dewi

        Annisa Hara and more….

    ・Indonesian Music

    ・Indoensian language lesson

    ・Tari Piring(Minankabau Traditional Dance)

    ・DJ Time (Funkot, Slow Dangdut etc…)etc…

    主催: Hiroaki KATO / Isti Winayu

    協力:Nanae Hanawa(MC)/Pulau Merah Cafe (Musashi Koyama)

    <Ticket>

    『お名前』、『予約枚数』、『緊急連絡先』を明記の上、

    indonesiakita.info@gmail.com

    までメールをお送りください。


Alhamdulillah, acara indonesia kita vol. 1 kemarin berhasil diadakan. uhuuu~
Saya sih happy luar biasa, semoga temen-temen yang lain juga. 🙂

Hal amazing untuk saya. Event yang pastinya akan terus saya ingat. Berada bersama Hiro dan Bandnya dalam satu panggung, membawakan lagu-lagu Indonesia di Jepang dan bukan sekedar acara Indonesia karena ini sebuah gigs indie yang biasanya saya cuma jadi penonton dan sibuk mengagumi para entertainernya. Salut untuk semua performer, Reisha + Ade dengan tari piringnya, mas ari dan mas juggler yang saya lupa namanya, dan pastinya Hiro + Ohta san + Yo kun + Ikkun.. Untuk semua organizer juga Nanae + abe isti + Nao san + Miki + (syapa lagi ya??) pokoknya terima kasih!

Yang bikin  saya makin happy adalah animo dari pengunjungnya. Well, mostly fansnya Hiro, tapi seneng juga menghadapi kenyataan diakhir acara bahwa mereka menghampiri saya hanya untuk bilang “icha kawaii” (icha lucu).. hehehe~ bukan saya GR, tapi ya ya ya… gimana dong? :p

Cuman bisa bilang Alhamdulillah. semoga setidaknya lepas dari kesalahan saya di atas panggung kemarin, semua orang bisa terhibur.
Semoga ada kesempatan lain lagi untuk saya, dan semoga saya bisa lebih baik lagi. 🙂

Yang belum sempat hadir, semoga lain kali bisa ikut gabung di Indonesia kita vol.2 dan event lainnya lagi.. 🙂

 

yay!

 

Titanic 3D.. oow!

It’s coming again..

The most popular movie on the year 2000 (or 1998??) “TITANIC”.. and now in 3D. wow~ Even if i never like this movie, but i am impressed by the color, direction, acts, graphic and stuffs. I don’t know why, I watched this movie 3 times actually, but yeah…  🙂

Well, pretty amazed to see the trailer today on youtube, i am sure there are still many people loving this movie.

But i think there are many of us never seen this movie before.. hehe, so if you want to know the story, you can watch this video.. hihi~ (actually i got this video from om jack’s facebook yesterday..) 😀

hihi~

 

Growing Documentary about Tohoku Disaster

Do you know how I feel about Tohoku Disaster?

I feel like, i have an insight to that matter. I live in Japan, but I am not living in Tohoku Area. But since i felt the earthquake and volunteered from day 2, went there and still have connections with some victims, so – i have something pushing me to do something for them. The thing is, I dont have money to buy them things. I don’t have power to do the reconstruction. I don’t have knowledge to help the medication. I couldn’t even talk to local people in a good Japanese, but i really wanted to do something for them.

Few months ago, fortunately, i got a very good opportunity to do something for them. Do something that i can do with my ability. My professor approved my proposal to make a “growing documentary” for Tohoku. I created the name Growing Documentary as the film will be growth together with the growing of the reconstruction of Tohoku after the disaster. Alhamdulillah.

Now, I am still on my first step. And thanks to Allah, I got a lot of helps from many people to do this documentary. If you wanted to know, most of the people on the credit – i’ve never met them, not even talked to them online. They’re volunteering themselves to the project. They’re from many different backgrounds, countries, educations even ages. So cool! Thank you all!

It’s a very big step for me as my film was shown on CineGrid Showcase on Tokyo International Film Festival 2011 last month in Tokyo – Japan. After that, the CineGrid Community seems interested to the idea and offer us to work together. I am so happy for that. Alhamdulillah.

Now, Let me show you the documentary. I hope you like it! 🙂

As this documentary will keep growing, it will need many “seeds” + “waters” + “oxygens” + “fertilizers” and so on.. So, if you interested to join me with this project, feel free to contact me. You can be anywhere, any time zone, any island, any country from any background or any thing.. and let’s figure out what can you do on this project 🙂

I hope this project will bring out more energy to Tohoku reconstruction, a learning source for people in the future and also motivate people to helping and loving each other (anywhere).. 🙂

peace..

Prince Akishino dan Ayam Hutan

Hari ini saya ikut Konfrensi Nikkei Sedunia di Tokyo, dan kali ini saya mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Pangeran Akishino. Dan namanya saya, nggak afdhal kl nggak melakukan kebodohan seperti dalam percakapan berikut :

(Prince Akishino mendatangi barisan siswa-siswa NFSA, termasuk saya)
P.A.: ああ!フィリピン 。。パラグアイ。。え!インドネシアもいますね〜 (aa! Philipine, blablabla.. Paraguai.. E! Indonesia juga ada ya..)
Me: はい、インドネシアから来ました、アニサともします。よとしくおねがいたします。。 (Hello、annisa dari Indonesia.. nice to meet you..)
P.A.:blablablabalbalablablabalbalablablablablablablabla “Ayam hutan..していますか? (dalam bahasa jepang yg sangat sopan yang tak saya mengerti Beliau bertanya soal sesuatu yang belakangnya ada kata “ayam hutan”)
DAN JAWABAN SAYA ADALAH ::
Me: Ah! Ayam hutanて歌ですか。Ayam den lapeh?(hah,ayam hutan tu lagu? Ayam den lapeh?) <ーーーーーdan yang terfikir sebenernya adalah lagu “ayo mama” dalam lirik “Ayam hitam.. telurnya putih.. mencari makan dipinggir kali…” eaaaaaa!!!!!!!
Teman saya: ICHA, WRONG! He was asking you about animal and his PhD..

Dan begitulah, saya telah berhasil mempermalukan diri didepan seorang pangeran Jepang.. Oh no!!!!!
Tapi karena beliau orangnya baik, dan tiba2 sadar bahwa saya bahasa Jepangnya belum sampai level itu, akhirnya beliau bicaralah dengan bahasa Inggris dan bahasa Jepang yang lebih gampang. Kami pun bercakap2 soal Ayam Hitam yang berteman dengan Ayam Kampung yang ternyata adalah penelitian PhD beliau!!!! hohoho~

hooo~ i won’t forget this moment, EVER! And thanks to the Prince for the conversation.. seengganya sekarang saya tau apa itu ayam hutan! 😀

PS : OMG! Icha, malu-maluin pisan siah maneh! XP

para pejuang petarung cancer

Cancer itu seperti bom waktu.. dan lebih parahnya, belum ada gegana yang benar benar bisa menonaktifkan timer-nya.

Saya sangat takjub pada kisah-kisah para”pejuang” yang terus bersemangat “melawan” sesuatu yang terlalu lincah ini. Melawan artinya bukan hanya mondar mandir masuk rumah sakit minta oprasi atau transplantasi, atau minta di “sinar”, melawan bagi saya berarti mau berjuang untuk hidup normal, tanpa minta dikasihani, dan berbuat maksimal untuk dirinya, keluarganya dan lingkungannya.

Hari ini seorang designer, innovator, inventor kelas dunia, Mr. Steve Jobs akhirnya harus takluk dengan kekuatan cel ganas ini. Bukan menakut-nakuti, karena toh setiap insan di dunia ini nantinya pasti akan kembali kepadaNya. Ketika hari ini saya bangun pagi (yang kesiangan) lalu mendengar berita itu dan sentak saya menangis, saya tidak merasa diri saya berlebihan. Saya benar benar merasa sedih karena saya kehilangan role model lagi, seseorang “pejuang” yang begitu inspiratif dan pastinya banyak orang yang juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Lahir dari keluarga yang memiliki bakat “cel itu” bukan hal yang mudah. Memang saat ini saya alhamdulillah dalam keadaan sehat, dan insyallah saya terus sehat. Tapi kita nggak pernah tau bagaimana takdir kita kedepannya. Saya berharap saya nggak akan pernah masuk dalam list daftar pejuang itu. Saya cukup perih walau hanya menjadi saksi kehidupan seorang pejuang – selama 6 tahun, yang akhirnya juga harus mengakui bahwa dirinya kalah dalam pertarungan itu.

Ketika awalnya seseorang ditakdirkan untuk menjadi pejuang, artinya dirinya harus siap maju ke pertempuran. Mereka harus siap untuk mengahadapi hal terburuk, dan pada saat inilah – mereka sangat butuh pasokan senjata dan perisai. Mereka membutuhkan dukungan, doa dan positivity dari lingkungannya. Ketika akhirnya mereka sudah bisa berdiri tegap, saat itu lah mereka siap bertarung. Kekuatan mental adalah hal yang paling penting untuk mereka miliki. Setidaknya itu yang saya saksikan dari Ayah saya. Saat dirinya sudah tau rasa sakitnya, yang ditakutkan bukan lagi sebagai mana dirinya akan “habis” di makan si sel jahat, tapi yang ditakutkan adalah bagaimana lingkungannya nanti setelah dia pergi. Itu yang memilukan. Saya tau saat itu beliau merasa sangat tertekan dengan keberadaan bom waktu di dalam tubuhnya, saya yakin begitu juga dengan para pejuang lainnya. Makanya saya sangat takjub dengan para pejuang yang melupakan rasa takutnya dan menggantinya dengan mengkontribusikan bagian dirinya yang lain untuk orang lainnya.

Semoga pertarungan Mr. Steve Jobs menjadi satu kisah yang bisa diambil positifnya. Untuk saya pribadi, sebagai orang yang hanya bisa mengenal dia dari produk dan videonya di youtube, saya sangat berimpresi dengan ke-humble-an dan something yang selalu out of the box. 🙂 Dan satu hal yang pentingnya luar biasa adalah,

ketika seseorang yang dalam keadaan “tidak sempurna” berusaha memberikan sesuatu yang melebihi kapasitasnya, kenapa kita yang masih bisa bernafas normal tidak bisa berkontribusi lebih lagi?

Kalau saat ini di SNS banyak yang memberi pendapat pro kontra mengenai pejuang yang satu ini, saya rasa itu wajar, karena no body is perfect dan nggak semua orang sempurna di mata orang lainnya. Semoga sih, setiap orang bisa melihat dari sisi positifnya dulu. Tapi gimanapun pejuang ini baru saja gugur. Selayaknya kita memberikan “respek” untuknya. 🙂

From deep inside my heart.. Mr.Steve Jobs,  thank you for your contributions. you’ll be missed! ♥

ps : I love you even more, Dad (RIP).. Thank you for being a good role model for me. i miss you.. ♥♥

 

 

6 Juli

6 Juli 2011,

Aku sedang berada di bumimu,

bumi yang digariskan untuk aku telusur untukmu,

membawaku ke angan indah,

dimana dulu kau pun pasti merasa apapun yang kini aku rasakan.

 

Teringatku saat-saat berharga kita,

kau yang terindah, yang berharga untukku,

walau sekejap saja aku bersamamu,

tapi menjadi bagian hidupmu adalah anugrah.

 

Cinta yang kau beri masih bisa aku rasakan,

betapa teduhnya senyum yang kau beri ketika aku berada dipelukmu,

kata-kata bijak yang selalu kau sampaikan, tutur kata seorang pribadi yang tulus,

semua membuat aku begitu merindumu.

 

6 Juli 1999

bersamamu,, orang orang yang kau cintai, orang orang yang juga mencintaimu,

berada di dekatmu, membawakan lantunan doa-doa indah untuk menjagamu dari pilu,

tangisku yang pecah seharian saat itu pun tak bisa mewakili apapun yang aku rasakan,

saat saat itu, saat yang bisa kuingat sebagai saat terakhir aku memandang wajahmu yang rupawan dengan senyum yang terus melekat di bibirmu.

 

Ayah,

12 tahun lalu, dihari ini, di waktu ini, kau yang terbaring di sebuah ruang rawat inap melawan rasa sakitmu.

ibundamu, istrimu, anak-anakmu, saudaramu, sahabatmu, semua bersamamu, memberikanmu semangat untuk bersabar.

kau buktikan pada kami betapa tangguh dirimu, ayah;

ketangguhan seorang manusia yang sangat ikhlas menerima takdirnya.

aku yakin, insyallah, Allah pun sangat sayang padamu, karenanya kau diberikan waktu kembali walau sejenak, untuk bisa bersama bunda yang juga sangat tegar untuk terus berada disampingmu.

 

aku tak bersamamu ketika kau menutup matamu, ayah,

tapi doaku selalu terpanjat untukmu.

aku merindumu!

 

Aku sayang ayah, semoga aku bisa bertemu lagi dengan ayah suatu hati nanti..

insyallah…

i love you!