ketika tidak ada lagi hati (halah)

Manusia punya titik didih, titik jenuh. Sama kayak minyak..

Ketika seseorang menyukai sesuatu, maka ditaruhlah hatinya pada sesuatu itu. Ditinggikanlah pengharapannya terhadap sesuatu itu. Harapan untuk menikmati indahnya, harapan untuk meng-engage semua hal dengan sesuatu tersebut.

Tapi kalau sesuatu itu lalu menjadi pemicu kejenuhan, ketika sesuatu itu menimbulkan letupan emosi dan amarah pada seseorang itu, wajarkah seseorang ini merasa kecewa dan menarik hatinya?

 

Advertisements

One thought on “ketika tidak ada lagi hati (halah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s