tombol reset

Tadi pagi saya dan bunda ngobrol via skype. Sebenernya saya mau pamit, karena besok mau berangkat ke sendai. Seperti biasa obrolan seputar hidup masing-masing lah yang kita bicarakan. Mulai dari kuliah saya, sampai mau makan apa saya hari ini. Bunda juga gitu, cerita soal rumah, Sat dan Ken, soal sekolahnya juga. Wejangan ini itu soal thesis, karena kita sama-sama lagi bingung dengan thesis.

Bunda juga kasih encourage buat saya, karena besok saya akan berangkat ke Sendai untuk volunteer dan mengisi acara di ASEAN Carnival for Japan. Bismillah semoga berjalan lancar semuanya. Walau agak jiper dengan kenyataan bahwa beberapa artis dari Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya akan ikut tampil disana. Semoga saya bisa melaksanakan tugas dengan baik.

Satu pembicaraan yang terus terus membuat saya berfikir adalah, hari ini bunda mengeluh lagi soal masalah negara. “Dulu, eyang suka ngeluh ‘aduh, mau jadi apa negara ini kedepannya, kok pemerintahnya begini’ dan kita anak-anaknya jaman dulu selalu menjawab  ‘udahlah bu, nggak usah ikut dipikir, itu kan udah ada yang mikirin’. Sekarang ibu sudah jadi orang tua, jadi ngerti apa perasaan eyang-mu dulu” kata bunda.

Bunda bilang, setiap hari jumlah koruptor di Indonesia bertambah, setidaknya begitu yang disiarkan media. Tiap hari ada saja orang yang ketahuan menggelapkan uang negara. Ya Allah. Ada satu pemikiran bunda yang sama dengan apa yang saya pikirkan, “kok tega ya mereka??”. Mereka yang punya posisi dengan seenaknya memakan uang yang bukan hak mereka. Untuk apa? Untuk membiayai anaknya beli mobil baru, sedang disisi lain negara kita – banyak anak-anak kecil yang pergi sekolah hanya dengan sendal jepit yang karetnya disangga dengan ranting dan harus berjalan berkilo-kilo meter. Atau mereka yang mengambil uang negara dengan jumlah nominal yang bahkan angkanya nggak bisa saya hitung dengan jari. Untuk apa? Untuk  membelikan istrinya intan berlian, tas mahal sekelas Luis Vitton atau Gucci, sedang disisi lain negara kita – banyak orang meninggal karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit karena kartu tanda tidak mampu-nya tidak bisa diproses karena mereka nggak punya cukup uang untuk membayar “biaya cepat”-nya, atau mungkin petugas loketnya tidak cukup digaji sehingga mereka lebih memilih bekerja sambil berdiskusi soal infotainment dari pada melayani para pasiennya.

Saat ini, beberapa kampus di Indonesia punya program ‘kelas pemberantasan korupsi’. Semoga berguna. Bukan mendiskreditkan, tapi jika seseorang sudah biasa hidup dengan kemewahan dan indahnya easy money hasil korupsi, misalnya anak pejabat yang orang tuanya bertahun-tahun memberi uang saku dari hasil itu, apa si anak akan merubah mindsetnya? Kuliah yang mungkin hanya 2 SKS ato mungkin paling banyak 3 SKS nggak mungkin bisa merubah pola pikir dan psikologis seseorang. Bandingkan saja dengan para koruptor yang dulunya juga bertahun-tahun menjadi aktifis anti korupsi. ketika tahu nikmatnya berada di posisi “menerima” pasti luluh juga hatinya. Apalagi hukum yang ada di Indonesia cenderung lunak. Korupsi milyard-an rupiah, hanya dihukum 3 tahun penjara dan mengembalikan uang denda sebesar 500 juta. NO WAY! kembalikan semua uangnya, lalu pukul pantatnya sampai ledes di depan media masa lalu beritanya harus diberitakan selebay gosip gempa di Jepang, baru si pelaku layak dapat hukuman penjara 3 tahun (dengan tetap dipukul pantatnya setiap hari). Atau, pilih langsung di hukum mati. Snip or Snap!

Saya nggak mau munafik. Saya juga mungkin bisa bicara begini karena tidak berada di posisi itu. Tapi semoga Allah selalu memberikan saya pendidikan dan lingkungan yang bersih dari hal itu.

Mungkin satu hal saya sih yang perlu ditanamkan dalam pemikiran setiap orang. “tegakah??”. Well entahlah.

Kadang saya berfikir, andai negara kita punya tombol reset. Tekan sekali, mulai semua dari awal.

Maaf, pernyataan ini bukan berarti saya anti nasionalis atau demokratis, ini hanya pandangan saya, tanpa doktrinasi apapun. Pandangan pribadi seorang saya terhadap sebuah negara yang sangat saya cintai. Rasanya ingin mengulang semuanya. Andai bisa dibentuk sebuah panitia yang super adil. Lalu semua orang berkewajiban mengembalikan semua harta benda kepada panitia itu. Lalu harta itu dibagikan secara rata kepada semua orang sebagai modal. Semua orang harus memulai semuanya dari Nol, dan nantinya secara alamiah akan menghasilkan : dia yang jujur dan bekerja keras akan mendapat hasil yang lebih dari pada mereka yang malas. Skill menjadi base disini. Panitia menjadi juri. Juri pun harus fair. Setiap orang yang bekerja baik harus juga dibayar dengan baik. Yang ketahuan curang kelaut aja. DITENGGELEMIN!

Andai..

Maaf kalau ada yang tidak berkenan. Semoga bunda saya juga sepakat.

amin..

Advertisements

2 thoughts on “tombol reset

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s