hari ke-sebelas

11 hari dan 10 hari untuk saya

Hari ini memasuki hari ke sebelas pasca gempa – tsunami di Miyagi. Saya yang sejak hari ke 2 sudah memvolunteer-kan diri di kedutaan, sudah seperti hatam dengan flow kerja crisis center disini. Tinggal di gedung kantor kedutaan selama 10 hari; makan, tidur, mandi, ngobrol semuanya dilakukan disini. Mungkin juga ini hari ke 10 saya nggak punya cukup waktu untuk tidur dan melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri. Selama itu juga saya tiba-tiba tidak merasa berada di Jepang. Saya sudah merasa dirumah. Walo ber-volunteer seperti ini, tapi sungguh nikmat sekali bisa berbicara bahasa Indonesia dengan joke-joke Indonesia yang sudah rindu sekali saya dengar.. 🙂

10 hari bekerja di call center, membuat saya ‘nge-blend’ dengan kondisi dan situasinya. Setiap hari menerima telpon, mendengar curahan hati orang yang kehilangan keluarga, suara2 putus asa akibat tak bisa menghubungi sanak saudara atau kerabat. Well, mungkin itu juga perasaan yang dirasakan keluarga ketika saya sibuk dan tak sempat menghubungi mereka karena terlalu sibuk.. (maaf bunda, adik2ku sayang, keluarga, temen2, otto juga)..  Tapi tapi tapi, mungkin karena itu ya, saya kini ber – empati dengan kasus kasusnya, jadi rasanya tergerak banget untuk terus membantu proses pencarian ini. Hari demi hari, laporan orang hilang makin bertambah, sedih rasanya ketika telpon hotline kami berdering. Telpon berdering artinya laporan orang hilang. Ya Allah, semoga mereka ini baik-baik saja. Tapi kita disini juga sangat bahagia, ketika kita mencoba mencari via telpon, lalu telponnya di jawab oleh si pemilik telpon dan menyatakan mereka baik-baik saja. Apa yang lebih membuat kami berbahagia adalah ketika kami bisa menemukan dan mengevakuasi para korban yang terkena dampak langsung gempa tsunami di Miyagi dan radiasi nuklir di Fukushima. Melihat mereka secara langsung, melihat mereka masih sehat dan masih bisa tersenyum membuat saya bangga bisa berada di posisi ini.

Beban untuk saya, bukan hanya saya tapi kami

Tantangan terberat yang kami hadapi adalah pemberitaan di media masa yang sangat berlebihan. Terutama di negri sendiri. Kami yang harus bertugas dengan kepala dingin dan ketenangan harus kerap kali menahan tangis ketika kami sendiri mendapat telpon dari keluarga kami di Indonesia dan kepanikan dengan berlebihan karena telah menyimak berita dalam negri yang menyiarkan berita tidak sesuai porsinya terutama mengenai radioaktif. Sangat umum kami mendengar rekan kami sendiri harus berjuang mati-matian untuk meyakinkan keluarganya agar bisa tetap bertahan hidup di Jepang. Saat itu pula kami harus mengangkat telpon dan mengubah getar suara kami agar tetap tenang, dan menenangkan para penelpon yang kepanikan baik mencari keluarga, maupun panik karena ancaman radioaktif dari plant nuklir yang sebenarnya tidak perlu di khawatirkan sebegitunya.

Kami saat itu, para volunteer yang berada di crisis center, kami yang semuanya merupakan mahasiswa, sangat kecewa dengan pemberitaan media. Kami sempat emosi karena pemberitaan yang semakin mengganggu. Saat itu, mereka bukan menjual berita. Mereka hanya memikirkan cara mendapat banyak respon dan rating. Mereka tidak bisa memilah fakta yang mereka dapat dan memaparkannya dengan benar. Saat itu, semua pemberitaan yang seharusnya menjadi sumber informasi saya rasa hanya berujung sebagai dilema bagi masyarakat – mungkin hampir di seluruh dunia. Payah!

Alhamdulillah, surat yang dikirimkan oleh persatuan pelajar Indonesia – Jepang atas nama mas Fithra didengar juga oleh media. Dan sejak itu pemberitaan pun berubah lebih terarah dan lebih baik.

Evakuasi

Suatu hari tim crisis center kami harus melakukan evakuasi terhadap keluarga-keluarga yang berada di Fukushima. Saat itu keadaanya sangat mencengangkan. Power plant nuklir sedang pada posisi teratas tingkat bahaya. Ketika semua orang mencoba melarikan diri dari daerah situ – dan bahkan tokyo dan sekitarnya, tim kami malah masuk mendekati daerah situ untuk melakukan penjemputan. Dengan berbagai aturan, misi ini dijalankan. Tim lapangan tidak punya banyak waktu. karena ada limit tertentu, bahwa manusia bisa berada di daerah terradiasi begitu. Kami di call center saat itu menjadi penengah – komunikasi antara pihak penjemput dan korban. Kondisinya sangat  menegangkan. Berpacu dengan waktu. Namun Alhamdulillah kami berhasil menyelamatkan 16 orang dalam hari itu, dan 9 diantaranya adalah anak-anak. Kami semua berteriak bahagia ketika mendapat kabar bahwa penjemputan berhasil, dan mobil evakuasi kembali ke Tokyo. Luar biasa! yang terpikir dikepala saya saat itu adalah :

“kalau pemberitaan di media benar, bahwa radiasi nuklir sudah sangat mengkhawatirkan, dan saya harus menjadi korbannya, saya tidak akan menyesal, saya akan sangat berbangga karena saya ada bersama mereka yang berjuang menyelamatkan orang lainnya, dan untuk saya, terutama karena akan ada 9 anak kecil yang terselamatkan. Jadi apalah artinya pengorbanan  ‘satu saya’ kalau di masa depan akan ada 9 anak yang mungkin akan tumbuh besar jauh lebih baik dari saya.. 🙂

Terharu ketika kami menerima sms, email, atau pesan-pesan terima kasih dan penyemangat. Saya terkadang juga mendapatkannya di email, akun SNS atau Handphone pribadi saya. Well, semua bukan untuk saya, tapi tim hebat tempat saya berada..

Mungkin teman-teman volunteer lainnya punya pendapat berbeda tentang alasan mereka berjuang di crisis center ini. Tapi Insyallah, apapun tujuan mereka, tujuan saya, semoga Allah membalas niat baik kami dengan mendengar doa yang selama ini kami panjatkan, untuk menyelamatkan kita semua. amin.

Advertisements

6 thoughts on “hari ke-sebelas

  1. Cahya says:

    Hmm…, kita di Indonesia tidak ada protap untuk mengelola bencana nuklir dan cemarannya, apalagi karena kita belum memiliki potensi untuk itu.

    Jadi sekarang apa yang paling dikhawatirkan?

    • chazky says:

      kalau disini, yang paling mengkhawatirkan adalah karena kondisi reaktor nuklirnya belum stabil, ditakutkan adanya bocoran yang lebih besar yang bisa mencemari lingkungan. itu sih..

      tapi kalau saya pribadi, saya jadi paranoid dengan gempa2 yang masih terus terjadi.. fiuh! semoga nggak ada lagi gempa tsunami terutama di daerah reaktor itu. serem soalnya bayanginnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s