dream.. catch it if you can!

Seorang anak perempuan, kira-kira usianya 8 tahun, tertegun di depan tv. Ia sedang bersama saudara-saudaranya menonton bagaimana seekor T-rex sedang mengejar sekelompok manusia yang terjebak di Jurassic Park. Anak itu tak berkedip, gerakannya melambat tak terusik. Tak ada satu adegan pun yang ingin ia lewatkan. Ia tau bahwa dinosaurus sudah lama punah, karena itulah dia takjub bagaimana sebuah film yang diputar dengan laser disk itu bisa begitu nyata menggambarkan hewan-hewan purba hidup seperti hewan lain di kebun binatang.

Konsentrasinya masih belum bisa terusik sampai ia menemukan sebuah nama ‘Steven Spielberg’. Saat itu, dia bahkan tak tau apa itu ‘Director’. Tapi nama itu sangat menancap di kepalanya. Di tulisnya di diary bahwa kelak ia akan menjadi seperti Steven Spielberg. Hingga beberapa tahun setiap kali ia harus mengisi buku biodata di buku temannya, dia akan menjawab bahwa cita-citanya adalah menjadi Steven Spielberg, dan tentu saja teman-temannya akan complain karena apalah arti nama Steven Spielberg. Tapi saat itu cita-cita hanya berarti cita-cita. Bagaimana bisa seorang perempuan dari desa, yang bertemu teknologi saja sulit bisa menjadi seorang Spielberg.

Tahun 2001, usinya sekitar 16 tahun. Ia berlibur ke Jakarta. Namun semua kegiatannya berhenti ketika ia melihat sebuah peperangan antara tentara Jerman dan Amerika. Sebuah film seri yang diputar seharian via HBO menarik hatinya. Sebuah peperangan yang di reka ulang namun terlihat begitu hidup. Warna yang luar biasa, gerak kamera yang membuat film itu begitu nyata. Ia jatuh cinta. Dan diakhir episode, nama itu keluar lagi ; ‘Steven Spielberg’, dan kali ini berkolaborasi dengan beberapa produser besar seperti Tom Hanks. Dari situ mimpinya terbangun lagi. ‘I want to be like him’..

Tahun demi tahun berlalu. Kesempatannya untuk mempelajari videografi semakin banyak. Mulai dari kuliahnya, hingga terbawa di pekerjaannya. Dunia yang ia senangi. Dunia dibalik lensa, sebuah dunia yang memang masih sangat jauh dari ‘Spielberg’ tapi membuatnya merasa dekat. Dunia yang memberinya kebanggaan dan kebahagiaan untuk ada didalamnya, namun juga tidak berarti semua orang mendukungnya hingga akhirnya perlahan dia lepas. Tidak 100% lepas, karena beberapa orang mengetahui kemampuannya dan terkadang membuatnya terjun masuk ke dunia itu lagi walau hanya untuk membantu.

Kali ini Ia sedang melanjutkan studinya. Setelah sekian lama ia mulai melupakan cita-citanya, ia kembali menemukan dunia itu. Kembali menemukan suatu komunitas yang memiliki visi sama, bukan menjadi Spielberg, tapi mereka-mereka yang juga mencintai dunia dibalik lensa. Namun ia kini bingung. Haruskah ia kembali mengejar cita-citanya, atau tetap berada di jalur realita belajar untuk menjadi misionaris sosial dan mengejar karir baik demi masa depan ideal.

 

Kemana kaki harus dilangkahkan? Usia yang kini tidak lagi muda membuatnya harus berfikir keras untuk ini. Ia bukan lagi anak kecil yang bisa dengan mudah memilih sebuah cita-cita.

but yeah! dream.. catch it if you can!

Advertisements

7 thoughts on “dream.. catch it if you can!

    • Cahya says:

      Ndak juga, jika membaca tulisan-tulisan Chazky sebelumnya, ini seperti gambaran rangkuman salah satu sudut karakternya, jadi rasanya tidak aneh jika saya menduga ke sana kan :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s