ideasi, karya dan penghargaan

mendengar sebuah percakapan seorang teman. Kira kira gini bunyinya :

“HAH, murahan banget selera lo? udah tau tu lagu nggak berkelas, band jelek aja sampe di puja puja gitu. Gw sih amit-amit deh suka sama yang kayak gitu. Nggak level”

Well, Pertanyaannya : apa sih makna murahan? selera? berkelas? jelek? level?

Bukankah yang seperti itu bergantung pada individu masing-masing. Rasanya itu adalah hak pribadi seseorang dalam menilai, menyukai dan atau memilih. Tapi apa yang tidak dipilih itu apakah layak untuk disebut buruk dan lain sebagainya?

Lagu, gambar, cerita, buku, dan segala bentuk hasil karya lainnya, diciptakan melalui sebuah proses ideasi. Dari sebuah latar belakang, yang biasanya berbentuk pertanyaan yang muncul dari opini publik, lalu di proses melalui proses kreatif sehingga menghasilkan sebuah karya.

Pembentukan suatu karya pun nggak cuma sedetik dua detik kan? ada proses – proses mulai dari ide itu terfikir, lalu dikembangkan hingga akhirnya dapat di produksi menjadi nyata. Apakah proses tersebut tidak pantas untuk diberi penghargaan?

Menurut gw, sebuah karya ya harus dinilai dari prosesnya dan bagaimana impact-nya terhadap masyarakat. Ketika karya tersebut adalah sesuatu yang original dan memiliki nilai positif, walau misalnya dimata gw karya tersebut jelek, rasanya gw nggak mempunyai hak untuk membuat pernyataan buruk di publik mengenai karya tersebut, tanpa tau latar belakang si karya itu. Belum tentu gw bisa membuat karya yang lebih baik dari itu, atau mungkin si artis sengaja membuat karya tersebut dengan tujuan tertentu.

Ketika sebuah karya itu tidak original (copycat) dan atau memiliki sisi negatif seperti pencuci otak-an yang berujung pada impact negatif, barulah karya tersebut perlu ditelaah ulang. Ingat, bukan dicaci maki mentah-mentah, tapi ditelaah. Kritik atas karya tersebut sangatlah dibutuhkan untuk kemajuan si artis. Tapi ingat lagi, kritik yang membangun. Bukan omong kosong sekedar berkata “Tuh karya jelek kayak sampah”,  lalu? karena tidak adanya kata-kata membangun, ahirnya si artis bisa mati stress ato ngulang kesalahan yang sama bukan? dan akhirnya mereka si kritikus juga akan terus mengulang kembali kalimat yang sama “Tuh karya jelek kayak sampah”. wew… siklus yang buruk.

Tidak menyangkal setiap orang pernah melakukan hal ini, bahkan gw sekalipun. Namun, apa salahnya bila kita berfikir lebih dalam lagi mengenai hal ini, dan memberi penghargaan bagi karya seseorang dan apa opini orang lain terhadap suatu karya. Pencarian ide nggak gampang loh? coba bayangkan kalo karya kita yang di ‘sanjung’ dengan sumpah serapah begitu?

Dan untuk mereka yang berkarya juga, penerimaan kritik dan saran sepertinya adalah salah satu cara untuk melakuan ideasi kan?? dan ingat, copycat, curi ide, apalagi mengakui karya orang lain menjadi karya diri  itu beda total dengan inspirasi dan ideasi.. 😀

Salut untuk semua kreator!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s