sebagian dari teriakan hati

Dan kisah dilanjutkan kembali setelah saya kembali dari liburan panjang karena kena gastro.. 😛

(lagi suka dengan panggilan saya.. jadi pake saya aja sebagai pengganti kata “GW”)

Sekarang ini saya sudah kembali ke Jakarta, mengadu nasib untuk menimba ilmu. Menanam modal awal untuk langkah selanjutnya : “berangkat”.. makin perih sebenarnya menghitung hari-hari ini.. bahasa sih tantangan paling berat. Beside my heart yaaa.. 😛 tapi hati ini lebih kuat rasanya. walo ada ketakutan ketakutan karena hal yang bernama kekangenan (keluarga, pacar dan teman-teman tentunya), tapi saya yakin, Insyallah – Allah akan jaga hati saya. Saya niatkan Ya Rob, bahwa langkah ini adalah batu loncatan untuk menapaki kehidupan yang lebih baik nantinya. Insyaallah..

Cobaan terberat sekarang ini bahasa, yup. si Otak rasanya kayak muntah-muntah nerima pelajaran yang terlalu cepet. Kadang berfikir apa kemampuan otak saya sebegitunya? well, saya akuin saya punya masalah sama daya ingat. Masuk cepat – lupa cepat. Saya orang yang bisa menerima sesuatu dengan visual. Saya ingat semua dengan logika, tapi bahasa kan nggak bisa dilogikakkan.. (menurut saya loh).. huft.. yah walau saya tetep alergi sama angka.. hehehe.. hey! jangan protes, maka dari itu saya anak dkv, bukan fisika atau sastra.. 😛 hehe..

Menghitung hari.. Berapa waktu efektif yang bisa saya habiskan dengan ibu saya, adik-adik saya, pacar saya, saudara-saudara saya, teman teman saya.. tinggal sedikit lagi..(menghela nafas)..

Saya ingin bicara dengan Allah kalau bisa.. saya ingin  menyampaikan, bahwa saya insyallah ridho dipisahkan sementara ini dengan mereka, dan saya ingin memohon supaya saya bisa diberikan lagi kesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka – secara “utuh” sekembalinya saya nanti. saya ingin diberi kesempatan untuk bisa membahagiakan mereka.. itu aja..

Yah, ini sebagian dari teriakan hati sebenarnya.

gitulah..

Advertisements

4 thoughts on “sebagian dari teriakan hati

  1. Hacques says:

    Seperti yang biasa gw bilang : ‘Santai aja’.

    Oke, mungkin memang terdengar lebih mudah diomongin daripada dilakukan. Tapi menurut gw yaaa, gak ada kata lain yang lebih pas daripada itu.

    Manusia lebih bisa berpikir dalam keadaan santai. Dan jadi lebih mudah menghadapi kehidupan saat santai. Sama halnya dengan kalimat badai pasti berlalu, perpisahan gak akan untuk selamanya. Ketakutan akan perpisahan itu sifatnya semu.

    Dan gw liat Chaa udah siap untuk itu, so sekali lagi, santai aja. Nanti begitu udah berangkat semua akan baik-baik saja. Karena hal yang terburuk adalah ketakutan itu sendiri. Biasanya pas sedang dijalanin justru nggak berasa tuh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s