I wish

Aku termenung semalaman, tergugah oleh adzan subuh dan segera menyambutnya. Ditengah dinginnya Bandung aku berdo’a dalam sujudku. Allah tau mau-ku..

Aku memandang diriku di cermin, melihat wajah muram yang selama ini belum pernah aku lihat. Aku terkejut.. Ya Allah, sebegitu jauhnyakah jiwaku melayang? Aku kembali bersujud, meminta agar aku tak melihat wajah itu lagi.

Cukup lama aku menggigil bertumpu pada jidatku hingga hari menisyaratkan pagi. Aku melihat awan berarak menyambut matahari..

Allah, indah..

Kusibak tirai dan kupandangi gempita pagi seraya menyambut aku yang baru. Aku yang ini, aku yang ingin lebih banyak belajar. Jantungku berdegup, menyadari sebuah kekalahan besar dalam diriku.. Aku merinding.. Tapi aku tidak semudah itu dikalahkan..

Aku memang jatuh, tapi aku masih punya harapan. Harapan dalam do’aku dan menunggu Allah memberiku jawabannya..

Aku kembali pada cermin.. melihat wajah muram itu aku kembali bergidik.. ku pegang mata lebamku dan melihat apa aku cukup kuat untuk berpuasa hari ini?!

Ya aku harus kuat!

Wajah penuh nanar itu ku ganti dengan senyuman yang sungguh terasa berat pada awalnya namun ringan kemudian.. ini untuk mengganti energiku karna tidak sahur. Bantu aku ya Allah..

Melupakan sebuah masalah memang tidak mudah, semoga apa yg ku niatkan bisa membantuku menghadapi ini semua.

Setelah ku mengerjakan tugas pagiku, tidak biasanya aku langsung mandi dan mengenakan baju putih dan merapikan diriku. Tidak biasanya aku melakukan ini pada diriku, tapi aku bersiap.. kurapikan alisku, rambutku, menutupi lebamku dengan bedak dan body lotion agar tubuh ku tidak ikut serangan dehidrasi..KUpakai lagi kawat gigiku yang dulu dianggapnya lucu.. Ku jepit rambutku dan aku melihat orang lain.. Aku yang baru walau dengan harapan yang sama..

Entah untuk apa tapi aku merasa harus bersiap, parfum kesayangan ku, Vanilla membuat aku semakin optimis dengan hari-ku.. Aku tersenyum..

Kulihat sang waktu bergerak sangat cepat seakan tidak menunggu untuk membuatku terlihat perfect hari ini.. Ya Allah, jam setengah 9. Kubuat secangkir teh manis dan dengan segera dan ku taruh di meja tamu..

Termenungku melihat suasana diluar..

Aku terduduk, memandang lagi langit cerah dari jendela ruang tamu..

Terbayang bau khas miliknya ada disini dan kuendus hingga dia merasa geli.. Aku tersenyum menatap cangkir and i just can say…

i     w  i  s  h .  .  .  .  .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s